July 18, 2014 Ashadh Krushnapaksha 7, Kaliyug Varsha 5116
Apakah anda ingat satu dari 402 nama yang Rishi (Resi) dan Rishika (Resi perempuan) dari Rig Veda (Kitab suci paling kuno dan paling suci agama Hindu), yang merupakan leluhur kita dan para pendiri agama kita Vaidika Sanatana Dharma?
Bali adalah salah satu propinsi di Indonesia, yang merupakan negara sekuler dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Tapi mayoritas di Bali, lebih dari 93% beragama Hindu. Bali merupakan rumah bagi 4.22 juta umat Hindu yang nenek moyangnya pada jaman dahulu harus melarikan diri dari pulau-pulau lain di Indonesia, setelah kerajaan besar Hindu Indonesia Majapahit dikalahkan dan banyak warga yang kemudian dikonversi menjadi Islam.
Berikut ini hal-hal yang wajib diketahui oleh umat Hindu.
1. Hari Raya Nyepi, satu hari dengan penuh kesunyian (Silence Day) sekali dalam satu tahun, bahkan bandara internasional Ngurah Rai ditutup mulai pukul 06.00 sampai 06.00 keesokan harinya. Tidak ada lalu lintas kendaraan bermotor, tidak ada kemacetan, tidak ada hiburan, tidak ada TV. Duduk di dalam rumah melakukan instrospeksi diri dan berdoa. Dapatkan kita memperkenalkan Hari Raya Nyepi tersebut di negara kita (India) yang penuh hiruk pikuk dan kebisingan?
2. Budaya Bali dimulai oleh Resi dari India, dimana nama-nama tersebut tidak lagi diajarkan di sekolah-sekolah di India namun diajarkan di sekolah-sekolah di Bali - Resi Markandeya, Bharadwaja, Agastya - ini adalah nama-nama yang disebutkan dalam kitab Purana, beliau-beliau merupakan bagian dari sejarah Bali yang diajarkan di sekolah di Bali. Berapa banyak nama Resi yang kalian ingat? Apakah kalian ingat satu dari 402 nama Resi dan Resika yang disebutkan dalam Reg Weda yang merupakan leluhur kita dan para pendiri agama kita Vaidika Sanatana Dharma?
3. Pakaian daerah Bali baik untuk lelaki dan perempuan adalah “dhoti”. Tidak ada yang bisa masuk ke pura tanpa mengenakan “dhoti”. Penggunaan pakaian tradisional “Dhoti” menjadi bahan tertawaan di India saat ini kecuali di beberapa daerah di India Selatan. Kenapa kita harus malu terhadap warisan budaya kita sendiri? Bahkan kebanyakan pendeta di India mengganti pakaiannya setelah mereka selesai dg pemujaan apakah karena mereka merasa malu menggukana pakaian tradisional dhoti?
4. Sosial, sistem Ekonomi dan Politik berdasarkan kepada prinsip Tri Hita Karana, tiga prinsip dasar kebajikan dimana setiap umat manusia memiliki 3 aspek, tugas, hubungan manusia dengan Tuhan (disebut Parahyangan); Kita memiliki hubungan antara sesama manusia (disebut Pawongan); dan hubungan dengan alam (disebut Palemahan). Budaya Bali dibangun berdasarkan atas tiga prinsip tersebut. Konsep ini dikembangkan oleh para Maha Resi yang saat ini nama-nama nya bahkan dilupakan di India namun diajarkan di sekolah-sekolah di Bali.
5. Trikala Sandhya (Pemujaan Tiga Kali Sehari) dilakukan di setiap sekolah di Bali. Gayatri mantra diucapkan tiga kali sehari oleh setiap anak sekolah di Bali. Banyak Stasiun Radio lokal juga me-relay siaran Trikala Sandhya tiga kali sehari. Pernahkan kita berpikir kita dapat memperkenalkan seperti hal ini di sekolah-sekolah di India?
Berapa banyak umat Hindu yang sadar akan tugas mereka terhadap pemujaan Trikala Sandhya? Ini merupakan hal sangat penting dalam agama kita sebagaimana halnya umat Islam dengan sembahyang lima kali sehari.
6. Pada tahun 1011 Masehi, di tempat yang sekarang dikenal sebagai Pura Samuan Tiga ada konferensi pertama antar Tiga Agama: Shiva, Buddha dan Baliaga, sebagai agama tradisional Pra-Buddha, Pra-Hindu, agama Bali . Para petinggi agama dan pemimpin duduk bersama dan membangun sistem agar tiga agama dapat bekerja sama dan bisa saling menerima dan memberi sehingga membentuk agama yang dipraktekkan di Bali saat ini.
7. Di Bali setiap pemuka agama diberikan santunan oleh pemerintah. Terlepas dari kenyataan Indonesia adalah sebuah negara sekuler dengan mayoritas Islam terbesar di dunia, para pemuka masing-masing agama diberikan santunan oleh Pemerintah sehinga semua negara diberikan support oleh pemerintah. Itulah bentuk sekularisme dari Indonesia. Dapatkan kita bahkan memikirkan hal ini di India?
8. Moto nasional Indonesia "Bhinneka Tunggal Ika”. Berbeda-beda tetapi tetap satu. terinspirasi dari kitab Hindu Kakawin Sutasoma. Kutipan lengkapnya berbunyi “Disebutkan bahwa Buddha yang kita ketahui dan Shivaisme memiliki prinsip yang berbeda; mereka memang berbeda, namun demikian bagaimana mungkin untuk mengenali perbedaan mereka dalam sekejap mengingat kebenaran dari Buddha dan kebenaran Shiva adalah satu? Mereka boleh berbeda, namun mereka memiliki kebenaran yang sama, tidak ada dualisme dalam kebenaran.”
Kenapa kita di India tidak bisa memiliki “Ekam Sad Vipra Bahudha Vadanti" (Kebenaran adalah Satu, namun orang bijaksana mengungkapkannya dengan banyak cara. - Rig Veda) sebagai moto nasional kita?
9. Bali adalah salah satu penghasil padi yang terkenal di dunia. Setiap lahan pertanian memiliki pura yang didedikasikan untuk Dewi Shri dan Dewi Laksmi (Dewi Laksmi merupakan Dewi kesuburan dan Ibu Pertiwi- dua konsep keyakinan yang ada di Tirupati Balaji di India). Tidak ada petani yang akan melaksakan pekerjaannya sebelum memberikan persembahan/offering/banten kepada Dewi Shri dan Dewi Laksmi.
Di Bali memiliki budaya yang disebut sistem Subak. Sistem perencanaan pertanian dan air irigasi untuk seluruh Bali sudah dimulai sejak abad ke-9. Pemangku agama di beberapa pura saat ini masih terlibat dalam melakukan kontrol terhadap irigasi pertanian ini.
Banyak ilmuwan Bank Dunia dan PBB menggunakan model komputer untuk mencari yang paling ideal untuk Bali. Namun saat mereka membawa model tersebut, orang Bali mengatakan bahwa mereka telah mempraktekkan hal ini sejak abad ke-9. Apa yang anda bawa ke sini? dan saya tidak tahu berapa juta dollar orang2 WTO, Bank Dunia dan PBB habiskan dalam pembuatan bagan irigasi yang mana telah dibuat sejak abad ke-9 tanpa bantuan komputer .. dan sistem Subak tetap berlangsung sampai saat ini. Sistem yang mirip seperi Subak ini dahulu kala pernah ada di beberapa tempat di India, sisa-sisa peninggalannya masih bisa dilihat di India. Saya telah mengunjungi daerah-daerah di mana tidak ada air sama sekali dalam jarak puluhan mil karena kekeringan, namun sumur-sumur yang ada di temple masih dapat menyediakan air bersih.
10. Di Bali, umat Hindu tidak membaca buku dari cetakan ketika melakukan puja (ibadah) di Pura. Mereka membaca dari Lontar, yang menggunakan tulisan tangan di danun lontar. Ketika mereka membaca Kakawin Ramayana ... dimana buku tersebut disimpan, persembanyanan dilakukan. Ada ritual khusus pada saat mengangkat buku suci, membawanya dalam prosesi, membawanya ke tempat khusus, melakukan pemujaan terhadap bumi, dan menaruh buku tersebut di sana, baru kemudian pemuka agama akan membaca kitab Ramayana tersebut.
Pada saat saya dipanggil ke Bali, saat itu saya diminta untuk mengajar dan berpidato pembelajaran Weda. Namun saya kembali ke India dengan kesadaran dan kerendahan hati bahwa saya yang harus banyak belajar dari Bali dibandingkan saya harus mengajari mereka.
~ Fakta menurut Swami Veda Bharati, Guru Meditasi dari “Himalaya Tradition”, Kompilasi oleh Madhumati
Sumber: Sanskriti Magazine
Sumber lainnya:
- http://www.jothydhana.org/download/JOTHY-June-2014.pdf (halaman 14)
- Hindu Bulletin: https://xa.yimg.com/.../436549145/name/HVBulletinFIFTEEN.pdf
Artikel ini juga kami publish di Facebook Hindu For Beginner: https://www.facebook.com/HinduForBeginners
Komentar
Posting Komentar