Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2022

PERCAKAPAN YUDISTIRA DENGAN DEWA YAMA

PERCAKAPAN YUDISTIRA DENGAN DEWA YAMA (DEWA DHARMA/KEMATIAN).  Dewa Yama : “Apa yang menyelamatkan manusia dari mara bahaya?” Yudhistira : “Keberanianlah yang menyelamatkan manusia dari mara bahaya.” Dewa Yama : “Ilmu apakah yang bisa membuat manusia bijaksana?” Yudhistira : “Untuk menjadi bijaksana, tidak cukup hanya dengan membaca kitab-kitab. Dengan bergaul dengan orang-orang bijak, orang bisa mendapatkan kebijaksanaan.” Dewa Yama : “Apakah yang lebih mulia dan lebih menghidupi manusia daripada bumi ini?” Yudhistira : “Ibu, yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya lebih mulia dan memberikan kehidupan yang lebih besar daripada bumi ini.” Dewa Yama : “Apakah yang lebih tinggi daripada langit?” Yudhistira : “Bapak.” Dewa Yama : “Apakah yang lebih cepat daripada angin?” Yudhistira : “Pikiran.” Dewa Yama : “Apakah yang lebih berbahaya daripada jerami kering pada musim panas?” Yudhistira : “Hati yang dilanda duka nestapa.” Dewa Yama : “Apakah yang menemani seorang pengembara?” Yud...

HINDU BALI MURNI DARI BALI?

*HINDU BALI MURNI DARI BALI?* — _Catatan Harian Sugi Lanus, 27 Mei 2022._   Oleh *Sugi Lanus* 1. Ada kabar yang mengatakan terdapat sekelompok masyarakat Bali yang berkeyakinan (berspekulasi) bahwa ajaran Hindu Bali adalah *ORIGINAL* atau “murni Bali”. Kepada kelompok ini perlu diajukan beberapa pertanyaan yang sekiranya perlu direnungkan dan pelajari sebelum dijawab: — *Mpu Kuturan* yang dipercaya sebagai pembawa ajaran dan peletak dasar kahyangan tiga di Bali berasal dari mana? — *Sapta Rsi* yang diakui sebagai leluhur Gotra Pasek berasal dari mana? — *Dang Hyang Nirartha* yang menjadi tokoh restorasi besar keagamaan Hindu Bali berasal dari mana? — *Dang Hyang Astapaka* yang secara teks diakui sebagai pewaris silsilah DIKSA BUDDHA-MAHAYANA di Bali berasal dari mana? 2. Semua lontar-lontar yang menyebutkan *MPU KUTURAN*, dengan sangat jelas memberi informasi bahwa Mpu Kuturan berasal dari Maspait atau Maospait, Jawa — harap dibedakan antara Maospait/ Maspait dan Majapahit. Mpu Kut...

Lontar Raja Bherawa

Raja Bherawa (Gedong Kirtya Singaraja) Panjang 48 cm, lebar 3,5 cm, jumlah 14 lembar No. IIIb/1429/41/kawisesan/ Turunan dari lontar milik Dewa Made Karang, dari Banjar Pule, Bangli, diturun oleh I Gde Minten (?) dari Banjar Dangin Peken, Singaraja 1b. Om Awighnamastu nama sidem. Nyan tegesing sang adiguru, hyang sinuhun, hyang raja bhirawa, ngaran, ring sisyan hyang iswara, hyang brahma, hyang ludra, hyang mahadewa, hyang sangkara, hyang wisnu, hyang sambhu, hyang siwa, hyang bayu, hyang acinya, ring sisyan hyang iswara, hyang maheswara, hyang brahma, hyang ludra, hyang mahadewa, hyang sangkara, hyang wisnu, hyang siwa, hyang bayu, hyang acintya, ngaran, lingira sang sinuhun, ring sisyan ida, duk tanana paran-paran, tanana sor, tanana luhur, tanana prethiwi, tanana akasa, tanana wetan kidul, kulon, lor, tanana manusa, tanana bhatara, tanana surya, tanana hulan, lintang tranggana, tanana bayu, tanana toya, tananagni, tanana rahina wengi, tanana sagara danu, tanana sarwa tumuwuh, tanana...

Jenis Pemangku

 JENIS PAMANGKU  Menurut Lontar Raja Purana Gama. Ekajati yang tergolong pamangku dibedakan jenisnya, sesuai dengan tempat dan kedudukannya, dimana beliau ini melaksanakan tugasnya, yaitu:  1. Pamangku Kahyangan (Pemangku Kusuma Dewa) Pamangku Kahyangan adalah Pamangku yang bertugas pada Kahyangan yang meliputi Kahyangan Tiga, Kahyangan Jagat maupun Sad Kahyangan. Masing-¬masing pura ini memiliki seorang atau lebih Pamangku pemucuk dan mengemban tugas dan bertanggung jawab terhadap segala kegiatan pada pura yang, diemongnya. Selain itu memahami tentang keberadaan pura serta upacara dan upakara yang semestinya dilaksanakan. Pemangku tersebut sering juga disebut Mangku Gde/Mangku Pemucuk. Seperti Pemangku Desa, Dalem, Puseh serta sesungsungan desa lainnya, Kahyangan Jagat serta. Dangkahyangan.  2. Pamangku Pamongomong (Pembantu Pemangku Kusuma Dewa) Pamangku Pamongmomg juga disebut dengan sebutan Jro Bayan, atau dengan sebutan Mangku alit, yang memiliki tugas sebagai p...

BACAAN WAJIB PENDETA HINDU BALI

 *BACAAN WAJIB PENDETA HINDU BALI* Oleh *Sugi Lanus* _[Catatan Harian Sugi Lanus, 16 Pebruari 2021]_ 1. *Kependetaan Hindu Bali sangat jelas bacaan wajibnya.*  Artinya, punya pedoman kependetaan, dasar etika, pengetahuan dasar yang harus dimiliki, dan harus memiliki kemampuan standar yang harus dikuasai dengan baik sebelum seorang calon pendeta di-diksa oleh Nabe-nya. Jika tidak punya pengetahuan lewat bacaan wajib seorang calon pendeta lalu di-diksa oleh seorang Nabe, maka Nabe tersebut masuk kategori *NENTEN MANUT SASANA — MELANGGAR ATURAN-SASANA KEPENDETAAN*. Demikian disebut dalam lontar *RSI SASANA*. Jadi, jelas antara bacaan wajib, kemampuan dasar, serta persyaratan lainnya, harus dikuasai oleh seorang calon pendeta Hindu Bali. Tidak bisa sama sekali seseorang "ujug-ujug diksa" oleh seorang NABE (pendeta guru senior). 2. *Kependetaan Hindu yang mana? Kapan? Pedoman yang mana dimaksud punya kejelasan?* Yang saya uraikan adalah pendetaan *dwijati* di masa sebelum kemerdek...

Surat Terbuka Bapak Sugi Lanus untuk PHDI Terkait Diksa

SURAT TERBUKA UNTUK PENGURUS PARISADA TERKAIT DIKSA Surat terbuka disampaikan secara pribadi oleh Sugi Lanus  untuk dibaca Pengurus Parisada versi manapun. Om Awignamastu Dari tahun 1996 saya memantau perkembangan Parisada sebagai reporter/penulis dan mahasiswa yang berkecimpung dengan teks kependetaan dan sastra Jawa Kuno, terkhusus menyangkut topik DIKSA. Menurut pengamatan saya:  Salah satu biang kerok berulangnya kekusutan di tubuh Parisada adalah kedangkalan literasi sebagian besar pengurus Parisada terkait DIKSA. Ini bisa dimaklumi karena latar belakang profesi pengurus Parisada 30 tahun belakangan memang sebagian besar tidak berlatar belakang pendidikan agama, atau tidak berasal dari lingkar kependetaan tradisional, tetapi perlu tetap diapresiasi memang rata-rata berdasar niat berani tulus-ngayah, sekalipun memang tidak menguasai prihal DIKSA. Hal ini sangat berbeda dengan komposisi pengurus Parisada di era Piagam Campuhan dan parisada sebelum tahun 1980-an. Akar lain k...

Makna Lagu Bali Semut-Semut Api

Semut Semut Api dan akibatnya.  Satu lagi lagu Bali yg sederhana penuh makna tersembunyi : 1. Semut Semut Api. 2. Kije Ambain Mulih. 3. Tembok Bolong. 4. Saling Atat, Saling Pentil. 5. Ketipat Nasi Pasil. 6. Bene Dong Kaaang Kipe. 7. Enjok Enjok Cunguh Besil.  1. *Semut Semut Api*. Adalah menggambarkan mereka ( sekelompok masyarakat )  yg meradang menyimpan dendam amarah di dalam diri.  2. *Kije Ambain Mulih* Kemarahan membuat  mereka menjadi buta hati tidak tahu jalan pulang. Pulang kemana ? Pulang ke rumah sejati yaitu ke pada hati nurani. Ke rumah dimana kemurnian obyektifitas bersemayam. Kepada rumah kebijaksanaan  yg ada di dalam diri. Mereka kehilangan rasionalitas.  3. *Tembok Bolong*. Tembok dimaksudkan benteng  yg selama ini menjaga hidup kita, telah  roboh akibat kemarahan. Tembok tersebut adalah rasa kedamaian, rasa ketenangan, rasa nyaman. Begitulah mereka sekelompok masyarakat yg menyimpan amarah dendam akan kehilangan rasa damai...

ASTUNGKARA, SWAHA, TATHASTU

 Istilah ASTUNGKARA, Swaha dan Tathastu ASTUNGKARA berasal dari kata Astu dan Kara, yang mendapat sisipan "ng". Astu berarti semoga terjadi dan Kara berarti penyebab, dan kata penyebab dalam hal ini merujuk kepada Tuhan. Jadi ASTUNGKARA berarti semoga terjadi atas kehendak-Nya. Jika dipadankan dalam bahasa saudara kita umat muslim mungkin serupa dengan ucapan "insya allah" Swaha adalah nama dari permaisuri dewa Agni. Swaha bagaikan sebuah yel - yel rohani dan juga berarti semoga diberkati. Swaha adalah ucapan yang umumnya diucapkan di akhir sebuah mantra. Seperti kata "Om" yang diucapkan di awal mantra, "Swaha" diucapkan di akhir mantra. Tathastu berasal dari kata Tat dan Astu, Tat berarti itu, kata "itu" merujuk pada doa atau permohonan yang diucapkan, sedangkan Astu berarti semoga terjadi. Jadi Tathastu berarti terjadilah seperti itu, jika dipadankan dengan ucapan dari saudara kita umat muslim atau kristen, mungkin serupa dengan kata ...

Mengenal tradisi silakramaning aguron-guron

Mengenal tradisi silakramaning aguron-guron  Tri guru dalam Padiksan.  Tri (tiga) guru dalam diksa terdiri dari guru diksa (nabe), guru siksa (guru waktra), dan guru saksi.  Guru diksa adalah guru kerohanian yang "napak" dan selanjutnya disebut nabe. Seorang sisya hanya boleh memiliki seorang nabe!  Guru siksa adalah guru kerohanian yang memberikan bimbingan dan nasehat tentang ilmu pengetahuan. Jumlah guru siksa tidak dibatasi (boleh lebih dari satu).  Guru saksi adalah guru kerohanian yang menjadi saksi bahwa semua proses padiksan dilaksanakan dengan baik dan benar.  Tugas guru diksa: 1. Memimpin upacara padiksan 2. Menginisiasi (napak) sang diksita, dengan memberi nama, mantra, dan benang suci (Siva Sutram). 3. Mengajarkan "sambhanda jnana" (jalan kamoksan) kepada sisya. 4. Memberi ajar secara reguler.  Tugas guru siksa (waktra): Membantu guru diksa (nabe) memberi ajar kepada sisya, walaupun secara irreguler (tidak rutin), dan mengajar sampai pada t...