PERCAKAPAN YUDISTIRA DENGAN DEWA YAMA (DEWA DHARMA/KEMATIAN).
Dewa Yama : “Apa yang menyelamatkan manusia dari mara bahaya?”
Yudhistira : “Keberanianlah yang menyelamatkan manusia dari mara bahaya.”
Dewa Yama : “Ilmu apakah yang bisa membuat manusia bijaksana?”
Yudhistira : “Untuk menjadi bijaksana, tidak cukup hanya dengan membaca kitab-kitab. Dengan bergaul dengan orang-orang bijak, orang bisa mendapatkan kebijaksanaan.”
Dewa Yama : “Apakah yang lebih mulia dan lebih menghidupi manusia daripada bumi ini?”
Yudhistira : “Ibu, yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya lebih mulia dan memberikan kehidupan yang lebih besar daripada bumi ini.”
Dewa Yama : “Apakah yang lebih tinggi daripada langit?”
Yudhistira : “Bapak.”
Dewa Yama : “Apakah yang lebih cepat daripada angin?”
Yudhistira : “Pikiran.”
Dewa Yama : “Apakah yang lebih berbahaya daripada jerami kering pada musim panas?”
Yudhistira : “Hati yang dilanda duka nestapa.”
Dewa Yama : “Apakah yang menemani seorang pengembara?”
Yudhistira : “Kemauan belajar.”
Dewa Yama : “Siapakah yang menemani laki-laki di rumah?”
Yudhistira : “Istri.”
Dewa Yama : “Siapakah yang menemani manusia dalam kematian?”
Yudhistira : “Dharma. Hanya Dharmalah yang menemani jiwa dalam perjalanan sunyi setelah kematian.”
Dewa Yama : “Perahu apakah yang paling besar?”
Yudhistira : “Bumi, yang menampung segala isinya dalam dirinya sendiri, adalah perahu terbesar.”
Dewa Yama : “Apakah kebahagiaan itu?’
Yudhistira : “Kebahagiaan adalah buah dari perbuatan baik.”
Dewa Yama : “Apakah yang jika ditinggalkan manusia akan membuatnya dicintai sesame?”
Yudhistira : “Keangkuhan. Dengan meninggalkan keangkuhan, manusia akan dicintai sesama.”
Dewa Yama : “Kehilangan apakah yang membuat orang bisa bahagia dan tidak sedih?”
Yudhistira : “Amarah, dengan menghilangkan amarah, manusia tidak akan dikejar kesedihan.”
Dewa Yama : “Apakah yang harus ditinggalkan manusia agar menjadi kaya?”
Yudhistira : “Dengan meninggalkan hawa nafsu, manusia akan menjadi kaya.”
Dewa Yama : “Apakah yang membuat seorang menjadi brahmana sejati? Apakah kelahiran, kelakuan baik, atau pendidikan? Jawab dengan tegas!”
Yudhistira : “Kelahiran dan pendidikan tidak membuat orang menjadi brahmana. Setinggi apapun pendidikan orang jika diperbudak oleh kebiasaan jelek, orang itu bukan brahmana. Meskipun telah menguasai keempat kitab Weda, jika kelakuannya buruk, tidak pantas disebut brahmana.”
Dewa Yama : “Apakah yang paling mengherankan di dunia ini?”
Yudhistira : “Setiap hari orang melihat orang pergi menghadap Batara Yama, tapi orang-orang masih saja berusaha untuk hidup lebih lama lagi. Inilah yang paling mengherankan di dunia ini.”
Dewa Yama : “Tuanku Raja, seandainya salah satu saudaramu bisa hidup kembali, siapakah yang akan kau pilih?”
Yudhistira : “Aku pilih Nakula, saudaraku yang berkulit putih seperti awan berarak, bermata bak bunga teratai, berdada bidang, berlengan panjang; tapi kini terbujur kaku seperti sebatang pohon yang tumbang.”
Dewa Yama : “Mengapa engkau memilih Nakula dan bukan Bima yang mempunyai kekuatan setara enam belas ribu gajah? Kudengar kau sangat menyayangi Bima. Dan mengapa bukan Arjuna, yang keterampilan olah senjatanya bisa melindungimu? Jelaskan mengapa kau memilih Nakula?”
Yudhistira : Yaksa, hanya dharma yang bisa melindungi manusia, bukan Bima atau Arjuna. Jika mengabaikan dharma, manusia akan menemui kehancuran. Dewi Kunti dan Dewi Madri adalah istri ayahku. Aku, anak Kunti, masih hidup; dengan demikian, ia tidak kehilangan keturunan. Supaya adil, biarlah Nakula, putra Dewi Madri, hidup kembali.”
Dewa Yama dikenal juga, sebagai Dewa Dharma, Ayah Rohani dari Yudistira. Saat itu malih rupa menjadi Yaksa, raksasa yang menjadi Penguasa Telaga, yang membuat 4 (empat) saudaranya mati.
Dengan kebijaksanaannya Yudustira mampu memuaskan Yaksa itu dan seketika menghidupkan ke empat saudaranya dan Yaksa itu berubah wijud menjadi Dewa Dharma.
PESAN MORALNYA.
Dharma hanya akan tunduk oleh kebijaksanaan, bukan oleh kecerdasan ilmu semata. Ilmu tinggi tanpa kebijaksanaan adalah sia-sia. Kebijaksanaan hanya bisa diperoleh dari Lelaki yang baik (berpikir, betucap dan bertindak baik) & Pergaulan yang baik dengan orang-orang baik & bijaksana.
WAG Puskor Hindunesia
Komentar
Posting Komentar