Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Budaya

Kita Harus Menikah 4 kali !!!

  Om swastyastu semeton sami, Apakah pernikahan Anda selama ini hanya sekadar rutinitas fisik atau status sosial? Tahukah Anda bahwa pernikahan sebenarnya adalah jalan sakral untuk mengalami penyatuan rasa dengan Tuhan?. Dalam video ini, kita akan membedah filosofi mendalam tentang **Pernikahan Jiwa** dan bagaimana transformasi kesadaran dimulai dari dalam rumah. Kita tidak hanya bicara soal cinta romantis, tetapi tentang perjalanan evolusi manusia yang terjadi setiap hari di depan mata kita. **Apa yang akan Anda pelajari dalam video ini?** * **4 Tingkatan Pernikahan:** Mengapa banyak pasangan gagal di tahap "Pernikahan Pikiran & Perasaan" meskipun "Pernikahan Tubuh" mereka berhasil?. * **Rahim Sebagai "Big Bang" Mini:** Penjelasan ilmiah dan spiritual tentang *Zinc Spark* (percikan cahaya) saat pembuahan dan bagaimana janin adalah ringkasan evolusi jutaan tahun dalam 9 bulan. * **Pitri & Matri Dewa Bhawa:** Mengapa orang tua harus menjad...

Lontar Wariga Belog – Sains Intuitif Kearifan Ekologis Bali

  Lontar Wariga Belog – Sains Intuitif Kearifan Ekologis Bali Teks Lontar Wariga Belog [Lempir 1a – Purwaka] Om Awighnamastu Nama Siddham. Nihan linging Wariga Belog , kagawe dening Sang Weruh Sastra mangda dadi sesuluh ring jadma sane nenten pratyaksa ring itungan tithi mwang lintang . Wariga puniki mabinayan ring wariga agung, apan iki ngangge ‘ Rupa Alam ’ dadi ukuran. Sapa sirah ugi nuhutin pituduh iki, nenten pacang keni sengkala, apan alam nenten linyok ring pituduh Sang Hyang Widhi . Artinya: Inilah isi Wariga Belog, dibuat oleh Sang Ahli Sastra agar menjadi petunjuk bagi orang yang tidak memahami perhitungan tithi dan lintang. Wariga ini berbeda dengan wariga agung, karena ini menggunakan ‘Rupa Alam’ sebagai ukuran. Siapa pun yang mengikuti petunjuk ini, tidak akan terkena musibah, karena alam tidak menyimpang dari petunjuk Sang Hyang Widhi. [Lempir 1b – Dasar Pengamatan Bulan] Iti pusering Wariga Belog : ‘Tingalin Rupa Candra ’. Yan Candra (Bulan) magenah ring wetan (timu...

Wirama Rajani/Mandamalon

  ᭛ᬲ᭄ᬢᬸᬢᬶᬦᬶᬭᬢᬦ᭄ᬢᬸᬮᬸᬲ᭄ᬲᬶᬦᬳᬸᬭᬦ᭄ᬧᬭᬫᬵᬃᬣᬰᬶᬯ᭞ ᬅᬦᬓᬸᬳᬸᬯᬸᬲ᭄ᬓᬢᭀᬦᬪᬶᬫᬢᬦ᭄ᬢ᭄ᬢᬢ᭄ᬫᬸᬦ᭄ᬢᬓᬩᬾᬄ᭞ ᬳᬦᬧᬗᬦᬸᬕ᭄ᬭᬳᬗ᭄ᬓ᭄ᬯᬘᬤᬸᬰᬓ᭄ᬢᬶᬯᬶᬦᬶᬫ᭄ᬩᬰᬭ᭞ ᬧᬰᬸᬧᬢᬶᬰᬵᬲ᭄ᬢ᭄ᬭᬓᬲ᭄ᬢᬸᬧᬗᬭᬦ᭄ᬬᬦᬶᬳᬦ᭄ᬯᬸᬮᬢᬶ᭛ Stutinira tan tulus sinahuran paramārį¹­a Śiwa, Anaku huwus katon abimantanta temunta kabeh, Hana panganugrahangkwa Caduśakti winimba śara, Paśupati śāstra kastu pangaranya nihan wulati. ᬯᬸᬯᬸᬲᬶᬭᬲᬂᬳ᭄ᬬᬗᬶᬰ᭄ᬯᬭᬫᬶᬚᬶᬮ᭄ᬢᬗᬧᬸᬬ᭄‌ᬭᬶᬢᬗᬦ᭄᭞ ᬯᬯᬗᬰᬭᬶᬭᬓᬵᬢᬭᬫᬗᬶᬔ᭄ᬄᬶᬢᬓᭂᬦ᭄ᬯᬭᬬᬂ᭞ ᬢᬶᬦᬭᬶᬫᬲᬂᬄᬦᬜ᭄ᬚᬬᬢᬶᬓᬂᬰᬭᬲᬹᬓ᭄ᬱ᭄ᬫᬢᬶᬓ᭞ ᬗᬦᬮᬰᬭᬶᬭᬲᬵᬢ᭄ᬫᬓᬮᬯᬦ᭄ᬯᬭᬬᬂᬯᭂᬓᬲᬦ᭄᭛ Wuwus ira Sanghyang Iśwara mijil tang apuy ri tangan, Wawang asarÄ©ra kātara mangindhitakěn warayang, Tinarima Sang DhanaƱjaya tikang sara sÅ«ksma tika, Nganala sarÄ«ra sātmaka lawan warayang wekasan. ᬓᬺᬢᬯᬭᬲᬂᬄᬦᬜ᭄ᬚᬬᬫᬦᭂᬫ᭄ᬩᬳᬢᬶᬧᬺᬔᬢ᭞ ᬧᬶᬦᬶᬲᬮᬶᬦᬦ᭄ᬮᬭᬲ᭄ᬫᬓᬸį¬į¬¢į¬¦᭄ᬳᬦᬓᬮᬳᬮᬄ᭞ ᬯᬶᬦᬭᬯᬭᬄᬲᬶᬭᬾį¬—į¬šᬶᬤᬦᬸᬃᬄᬭᬰᬲ᭄ᬢ᭄ᬭᬓᬩᭂᬄ᭞ ᬓᬺᬢᬲᬫᬬᬧᬺᬬᭀᬕᬤᬤᬶᬲᬹᬓ᭄ᬱ᭄į¬«į¬Ŗį¬į¬­į¬°ᬶᬯ᭛ Kretawara Sang DanaƱjaya manembah hati praṇata, Pinisalinan laras makuța tan hana kalah alah, Winara warah sirĆ©ng aji danur dhara sāstra kabeh, Krěta samayang prayoga dadi sÅ«ksma Bhatāra Ƈiwa. ᬲᬳᬲᬸ...

Lontar Raja Bherawa

Raja Bherawa (Gedong Kirtya Singaraja) Panjang 48 cm, lebar 3,5 cm, jumlah 14 lembar No. IIIb/1429/41/kawisesan/ Turunan dari lontar milik Dewa Made Karang, dari Banjar Pule, Bangli, diturun oleh I Gde Minten (?) dari Banjar Dangin Peken, Singaraja 1b. Om Awighnamastu nama sidem. Nyan tegesing sang adiguru, hyang sinuhun, hyang raja bhirawa, ngaran, ring sisyan hyang iswara, hyang brahma, hyang ludra, hyang mahadewa, hyang sangkara, hyang wisnu, hyang sambhu, hyang siwa, hyang bayu, hyang acinya, ring sisyan hyang iswara, hyang maheswara, hyang brahma, hyang ludra, hyang mahadewa, hyang sangkara, hyang wisnu, hyang siwa, hyang bayu, hyang acintya, ngaran, lingira sang sinuhun, ring sisyan ida, duk tanana paran-paran, tanana sor, tanana luhur, tanana prethiwi, tanana akasa, tanana wetan kidul, kulon, lor, tanana manusa, tanana bhatara, tanana surya, tanana hulan, lintang tranggana, tanana bayu, tanana toya, tananagni, tanana rahina wengi, tanana sagara danu, tanana sarwa tumuwuh, tanana...

Jenis Pemangku

 JENIS PAMANGKU  Menurut Lontar Raja Purana Gama. Ekajati yang tergolong pamangku dibedakan jenisnya, sesuai dengan tempat dan kedudukannya, dimana beliau ini melaksanakan tugasnya, yaitu:  1. Pamangku Kahyangan (Pemangku Kusuma Dewa) Pamangku Kahyangan adalah Pamangku yang bertugas pada Kahyangan yang meliputi Kahyangan Tiga, Kahyangan Jagat maupun Sad Kahyangan. Masing-¬masing pura ini memiliki seorang atau lebih Pamangku pemucuk dan mengemban tugas dan bertanggung jawab terhadap segala kegiatan pada pura yang, diemongnya. Selain itu memahami tentang keberadaan pura serta upacara dan upakara yang semestinya dilaksanakan. Pemangku tersebut sering juga disebut Mangku Gde/Mangku Pemucuk. Seperti Pemangku Desa, Dalem, Puseh serta sesungsungan desa lainnya, Kahyangan Jagat serta. Dangkahyangan.  2. Pamangku Pamongomong (Pembantu Pemangku Kusuma Dewa) Pamangku Pamongmomg juga disebut dengan sebutan Jro Bayan, atau dengan sebutan Mangku alit, yang memiliki tugas sebagai p...

Makna Lagu Bali Semut-Semut Api

Semut Semut Api dan akibatnya.  Satu lagi lagu Bali yg sederhana penuh makna tersembunyi : 1. Semut Semut Api. 2. Kije Ambain Mulih. 3. Tembok Bolong. 4. Saling Atat, Saling Pentil. 5. Ketipat Nasi Pasil. 6. Bene Dong Kaaang Kipe. 7. Enjok Enjok Cunguh Besil.  1. *Semut Semut Api*. Adalah menggambarkan mereka ( sekelompok masyarakat )  yg meradang menyimpan dendam amarah di dalam diri.  2. *Kije Ambain Mulih* Kemarahan membuat  mereka menjadi buta hati tidak tahu jalan pulang. Pulang kemana ? Pulang ke rumah sejati yaitu ke pada hati nurani. Ke rumah dimana kemurnian obyektifitas bersemayam. Kepada rumah kebijaksanaan  yg ada di dalam diri. Mereka kehilangan rasionalitas.  3. *Tembok Bolong*. Tembok dimaksudkan benteng  yg selama ini menjaga hidup kita, telah  roboh akibat kemarahan. Tembok tersebut adalah rasa kedamaian, rasa ketenangan, rasa nyaman. Begitulah mereka sekelompok masyarakat yg menyimpan amarah dendam akan kehilangan rasa damai...

ASTUNGKARA, SWAHA, TATHASTU

 Istilah ASTUNGKARA, Swaha dan Tathastu ASTUNGKARA berasal dari kata Astu dan Kara, yang mendapat sisipan "ng". Astu berarti semoga terjadi dan Kara berarti penyebab, dan kata penyebab dalam hal ini merujuk kepada Tuhan. Jadi ASTUNGKARA berarti semoga terjadi atas kehendak-Nya. Jika dipadankan dalam bahasa saudara kita umat muslim mungkin serupa dengan ucapan "insya allah" Swaha adalah nama dari permaisuri dewa Agni. Swaha bagaikan sebuah yel - yel rohani dan juga berarti semoga diberkati. Swaha adalah ucapan yang umumnya diucapkan di akhir sebuah mantra. Seperti kata "Om" yang diucapkan di awal mantra, "Swaha" diucapkan di akhir mantra. Tathastu berasal dari kata Tat dan Astu, Tat berarti itu, kata "itu" merujuk pada doa atau permohonan yang diucapkan, sedangkan Astu berarti semoga terjadi. Jadi Tathastu berarti terjadilah seperti itu, jika dipadankan dengan ucapan dari saudara kita umat muslim atau kristen, mungkin serupa dengan kata ...

Buddhakeling Pusat Brahmana Buddha (Bagian II)

Buddhakeling Pusat Brahmana Buddha (Bagian II)  Lebih lanjut diuraikan: Ah-kara wijaksara Danghyang Wairocana, Hum-kara wijaksara Danghyang Amoghasidhi, Tram-kara wijaksara Danghyang Ratna Sambhawa, Hrih-kara wijaksara Danghyang Amithaba, A-kara wijaksara Danghyang Amoghasidhi. Nahan wijaksara mijilaken  Panca Buddha.  Ahkara adalah: aksara suci Danghyang Wairocana, Hum-kara adakah aksara suci Danghyang Amoghasidhi, Tram-kara adalah aksara suci Danghyang Ratna Sambhawa, Hrih-kara adalah aksara suci Danghyang Amithaba, A-kara adalah aksara suci Danghyang Amoghasidhi. Dalam Siwa-Buddha Tatwa dinyatakan bahwa Hyang Siwa maupun Hyang Buddha berstana di tengah-tengah bunga padma  dengan kelopaknya yang menunjukkan arah mata angin dan didiami oleh para Dewata yang tiada lain adalah badan atau manifestasi Beliau sendiri.  Disini semakin jelas posisi Padmasana bagi agama Siwa-Buddha. Dalam tradisi keberaksaraan di Buddhakeling ajaran-ajaran suci tersebut mendapatkan pen...

Buddhakeling Pusat Brahmana Buddha di Bali (Bagian I)

Buddhakeling Pusat Brahmana Buddha di Bali (Bagian I)  " Nda nahan ri patungga-tungalan ikang bhuwana, wihikananta ring tuhu ngwang  Wairocana  Buddhamurti  Siwamurti pinakaguru ning jagat kabeh.  Nahan donkwi  ingaran Bhatara Guru kaprakasita teka ring sarat kabeh Anghing byapaka ring samasthabhuwananaku  juga warawisesadewata" Kakawin Desawarnana/ Negarakertagama/ 23.4// Artinya :  Demikianlah spesifikasi dunia - kamu harus mengetahuinya dengan benar Aku adalah Wairocana manifestasi dari keduanya baik Buddha maupun Siwa dan dipandang sebagai Gurunya Alam Semesta Itulah sebabnya Aku disebut : Bhatara Guru, dikenal luas di seluruh dunia Tetapi adalah Aku yang meresapi seluruh dunia juga para Dewata yang paling tinggi.  Kisah desa Buddhakeling dimulai ketika masa pemerintahan Raja Kerajaan Bali abad XV Ida Dalem Sri Waturenggong yang merupakan Raja yang sangat berpengaruh dalam bidang, seni budaya, sastra agama. Pengaruhnya sampai ke Puger, Bl...

AKSARA JAWA

"AKSARA JAWA"    Diakui atau tidak,... aksara Jawa merupakan alfabet paling unik di dunia ini.  Ditinjau dari jumlah, terdiri dari  20 jenis huruf, ... yang melambangkan 20 jari manusia. 🤚 Jari merupakan alat hitung manusia yang paling sederhana,  dan hal ini melambangkan bahwa dalam menjalani kehidupannya, org. Jawa selalu menggunakan perhitungan yang matang sebelum melangkah. ⚡ Deretan ke 20 aksara Jawa tersebut yaitu adalah:   Ha Na Ca Ra Ka   Da Ta Sa Wa La   Pa Dha Ja Ya Nya.   Ma Ga Ba Tha Nga. ⚡ Entah kebetulan atau disengaja, deretan huruf di atas ternyata bukan  deretan huruf tanpa makna, tetapi   membentuk 4 kalimat yang mengandung filosofi luar biasa, yaitu : šŸ‘ Melambangkan perjalanan hidup manusia ➡ Ha-na-ca-ra-ka : Jika dibaca, Hana Caraka akan bermakna : ”Ada utusan". Siapa yang dimaksud dengan  utusan tersebut....?  Tidak lain adalah : manusia Berbeda dengan  pendpt umum, bahwa utusan Tuhan hanya...

Kakawin Nāgarakį¹›tĆ¢gama (Desāwarnāna)

Kakawin Nāgarakṛtâgama (Desāwarnāna) Oleh: Ida Bagus Jelantik Sutanegara Pidada ( bgs_jelantik@unud.ac.id) Lontar Kakawin N ā garak ṛ tâgama (Des ā warn ā na) karya Empu Prapañca pertama kali ditemukan di Lombok (Puri Cakranegara) oleh Dr. J.L.A. Brandes saat ekspedisi Belanda ke Bali dan Lombok tahun 1894. Saat tentara KNIL membakar istana, Brandes menyelamatkan warisan naskah tersebut. Awalnya, lontar yang ditemukan di Lombok itu dikira naskah tunggal (codex unicus) . Disurat oleh penulis yang menamakan dirinya Arthapamasah pada bulan Kartika tahun saka 1662 (20 Oktober 1740 Masehi) di Kancana . Pada tanggal, 7 Juli 1978 naskah lainnya ditemukan di Griya Pidada Karangasem, Bali. Naskah turunan lainnya ditemukan pula dari Geria Pidada, Klungkung. Dua naskah lainnya ditemukan di Geria Carik Sidemen. Naskah yang ditemukan di Gria Pidada Karangasem merupakan naskah tertua diantara naskah ...