Buddhakeling Pusat Brahmana Buddha (Bagian II)
Lebih lanjut diuraikan: Ah-kara wijaksara Danghyang Wairocana, Hum-kara wijaksara Danghyang Amoghasidhi, Tram-kara wijaksara Danghyang Ratna Sambhawa, Hrih-kara wijaksara Danghyang Amithaba, A-kara wijaksara Danghyang Amoghasidhi. Nahan wijaksara mijilaken Panca Buddha.
Ahkara adalah: aksara suci Danghyang Wairocana, Hum-kara adakah aksara suci Danghyang Amoghasidhi, Tram-kara adalah aksara suci Danghyang Ratna Sambhawa, Hrih-kara adalah aksara suci Danghyang Amithaba, A-kara adalah aksara suci Danghyang Amoghasidhi. Dalam Siwa-Buddha Tatwa dinyatakan bahwa Hyang Siwa maupun Hyang Buddha berstana di tengah-tengah bunga padma dengan kelopaknya yang menunjukkan arah mata angin dan didiami oleh para Dewata yang tiada lain adalah badan atau manifestasi Beliau sendiri.
Disini semakin jelas posisi Padmasana bagi agama Siwa-Buddha. Dalam tradisi keberaksaraan di Buddhakeling ajaran-ajaran suci tersebut mendapatkan pendalaman serta penghayatan. Dalam Ajaran Suci Siwa-Buddha Padmasana berhubungan erat dengan ajaran Sunya dan juga Nirwana ( Nibana).
Penungggalan Ajaran Suci Siwa-Buddha divisualisasikan dalam bentuk Padmasana dan lestari di Bali. Bhatara Siwa dan Bhatara Buddha berstana diatas Padmasana. Melalui proses emanasi Siwa-Buddha melahirkan konsep Dwirupa yakni: Adi Buddha dan Prajnaparamita atau Adwaya dan Adwayajnana di dalam ajaran Buddha.
Konsep Siwa dan Sakti atau konsep Siwa dan Saraswati di dalam ajaran Siwa. Penyatuan konsep Dwirupa ini menjadi konsep Ardhanareswari. Selanjutnya lahir konsep Tri Ratna dalam ajaran Buddha dan konsep Trimurti dalam ajaran Siwa. ( Ida Bagus Putu Suamba. 2007)
Demikian pula lahir konsep Dhyani Buddha dan Panca Tathagata dalam ajaran Buddha dan Panca Dewata atau Panca Aksara dalam ajaran Siwa. Semua konsep ini sesungguhnya paralel, ungkapan berbeda dari Prinsip Yang Tunggal.
Hampir semua Pura di Bali dibangun sebuah pelinggih yang disebut Padmasana yang biasanya ditempatkan diarah Timur atau Utara atau pertemuan antara kedua arah itu. Sebagai wujud berkembangnya Konsep Siwa-Buddha, secara fisik disanalah Beliau disebut sebagai : Sanghyang Siwa-Buddha yang distanakan, dipuja, dimohon anugerah-Nya. Secara rohani Siwa-Buddha berstana di dalam sebuah tempat di dalam hati sanubari yang disebut sebagai : Padma Mani atau Padma Hredaya dan di alam semesta ditempatkan di dalam Padmasana.
Konsep Padmabwana, Padma Mandala dan Padmasana berkembang di Bali sebagai wujud Manunggalnya Siwa-Buddha.
Apa yang sekarang di Bali disebut sebagai: Agama Hindu sesungguhnya adalah perkembangan lebih lanjut dari Ajaran Suci Siwa-Buddha yang telah mempunyai sistem kepercayaan yang mantap, religi, etika, filsafat, Kitab Suci,Lembaga Kependetaan, Tempat Suci serta Kebudayaan sendiri, berbeda dengan tradisi agama Hindu di negara lain termasuk di India. Ajaran Suci Siwa-Buddha adalah Agama Nenek Moyang orang orang Jawa Kuno dan mendapatkan tempat bertumbuh subur di Pulau Bali. Ajaran Siwa-Buddha Tantra hanya ada di Nusantara tidak ada ditempat lain.
Hal ini jelas memperlihatkan betapa cerdas dan mumpuni para Rsi, Acharya, Pandita dan para Mpu dimasa silam telah melahirkan Karya Agung dibidang Agama, Spritual, Seni, dan Kebudayaan serta Peradaban yang sangat tinggi. Karya ini sungguh mengagumkan paling tidak bagi orang-orang yang berjalan di jalan rohani dan bagi mereka yang masih menghargai karya-karya besar para Leluhurnya.
Ajaran Suci Siwa-Buddha sangat unik, khas, dan telah melahirkan Kebudayaan Besar di sebuah Negara Besar. Indonesia, Nusantara adalah tempat kelahiran agama " Siwa-Buddhagama".Nilai-nilai yang bersumber dari Ajaran Suci agama ini telah digunakan untuk membangun Bangsa dan Negara Kebangsaan Indonesia yang " Berbhinneka Tunggal Ika"Berbeda-beda Namun tetap Satu. Ajaran Agama yang mempromosikan Pluralisme, Kerukunan, Kedamaian, serta Keharmonisan dalam segala aspek kehidupan.
Tlas sinurat
Ring pakubwan Kolhua, 3 Mei 2022
Tjokorda Pandjikusamba
Artikel terkait: Buddhakeling Pusat Brahmana Buddha Bagian 1
Komentar
Posting Komentar