Langsung ke konten utama

Buddhakeling Pusat Brahmana Buddha di Bali (Bagian I)

Buddhakeling Pusat Brahmana Buddha di Bali (Bagian I) 


" Nda nahan ri patungga-tungalan ikang bhuwana, wihikananta ring tuhu ngwang  Wairocana  Buddhamurti  Siwamurti pinakaguru ning jagat kabeh. 

Nahan donkwi  ingaran Bhatara Guru kaprakasita teka ring sarat kabeh

Anghing byapaka ring samasthabhuwananaku  juga warawisesadewata"

Kakawin Desawarnana/ Negarakertagama/ 23.4//

Artinya : 

Demikianlah spesifikasi dunia - kamu harus mengetahuinya dengan benar

Aku adalah Wairocana manifestasi dari keduanya baik Buddha maupun Siwa dan dipandang sebagai Gurunya Alam Semesta

Itulah sebabnya Aku disebut : Bhatara Guru, dikenal luas di seluruh dunia

Tetapi adalah Aku yang meresapi seluruh dunia juga para Dewata yang paling tinggi. 


Kisah desa Buddhakeling dimulai ketika masa pemerintahan Raja Kerajaan Bali abad XV Ida Dalem Sri Waturenggong yang merupakan Raja yang sangat berpengaruh dalam bidang, seni budaya, sastra agama. Pengaruhnya sampai ke Puger, Blambangan, Lombok dan seluruh Sumbawa. 

Buddhakeling dikelilingi desa-desa:


Desa Komala di sebelah Utara

Desa Tohpati di sebelah Barat 

Desa Saren di sebelah Selatan

Desa Ababi di sebelah Timur ( Wikipedia) 


Semua desa tersebut diabad  XV dibawah kekuasaan I Gusti Ngurah Sidemen Sakti  yang bertahta  di Singarsapura ( Sidemen). Daerah sebelah Timur Sungai Unda  sampai ke daerah Tianyar di  Bali Timur adalah daerah didalam kekuasaannya. Kedatangan putra Ida Bhetara Danghyang Angsoka ( Dharmaadyaksa ing Kasogatan, Kerajaan Majapahit)  yang bernama Ida Bhetara Danghyang Astapaka adalah untuk menemui pamannya Ida Bhetara Danghyang Nirartha ( Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh) yang sudah lebih dahulu berada di Bali. Dan kedua Pandita Suci ini akan memimpin Upacara Agung serta Sakral  yakni : Upacara Suci Homa Yadnya di Ibukota Suecapura, Gelgel yang dipusatkan di Pura Dasar Bwana

Ida Bhetara Danghyang Astapaka dianugrahi oleh Ida Dalem sebuah Pasraman di Banjar Ambengan Gianyar, dimana lahir putra Beliau yang Abhiseka Ida Pedanda Made Banjar. Sepeninggal Ida Dalem Sri Waturenggong, Ida Bhetara Danghyang Astapaka bersama putra angalih asrama menuju ke daerah Bali Timur dan dalam yoga samadhi Beliau di daerah Bukit Penyu, turun waranugraha berupa sinar suci di tempat yang terpilih untuk nanti didirikan Pasraman dan Kahyangan Suci. Tercatat tahun 1416 Saka ketika Beliau mendirikan Pasraman Taman Tanjung dan diarah Airsanya, Timur Laut didirikanlah Balai Pamujaan yang disebut: Pura Taman Sari, semua tempat suci ini dirawat oleh Putra beliau ketika Ida Bhetara Danghyang Astapaka Moksa

Ida Bhetara Lebar Pedanda Made Banjar berputra Ida Pedanda Gde Wayahan Tangeb atau Ida Bhetara Sakti Tangeb yang menurunkan Ida Pedanda dengan beberapa kelompok Abhiseka: 


a. Kelompok Abhiseka Jelantik  beribu dari keturunan I Gusti Ngurah Jelantik  penguasa Blahbatuh. Kelompok Abhiseka Jelantik ber pasraman di Griya Jelantik dan Griya Panji. Secara kuantitas keluarga dari kedua Griya ini paling banyak diantara yang lainnya ( Ida Bagus Gde Agastia. 2004) 


b. Kelompok dengan Abhiseka : Gianyar beribu dari Satriya Beng, Gianyar dan ber pasraman di Griya Kawan, Griya pasraman Ida Bhetara Lebar Ida Pedanda Gde Made Gianyar ( 1921-2022) 


c. Kelompok dengan Abhiseka : Alit beribu dari Ida Pedanda Istri Kemenuh  ber pasraman di Griya Alit, Griya ini merupakan pasraman Ida Bhetara Lebar Ida Pedanda Gde Wayahan Alit yang lebar tahun 1978, beliau suami dari Ida Bhetara Lebar Ida Pedanda Istri Mas ( 1900 - 2011) 


d. Kelompok dengan Abhiseka : Demung yang bermula dari Brahmana Keniten dari Griya Pasekan, Tabanan yang bernama : Ida Wayahan Pasekan yang' Anuwun Pada' mengambil Sesana Kabuddhan ,Asewaka dharma di Griya Buddhakeling kemudian di berikan rabi/ istri dan juga  tempat tinggal / Griya, setelah selesai menuntut ilmu kerohanian beliau didiksa dengan Abhiseka : Ida Pedanda Gde Demung dengan Griya Demung sebagai tempat beliau bersemayam.

 

Abhiseka-abhiseka / gelar kerohanian seperti : Jelantik, Gianyar, Alit dan Demung  terus dipergunakan sampai sekarang oleh para Warih yang menandakan asal Ibu dari masing masing kelompok Griya ( Ida Bagus Agastya, hal. 20.21) . Griya Buddha kini tersebar di Griya Bodha Batuan, Sukawati, Griya Bodha Wanasari, Talibeng, Peliatan, Culik, Nongan,Lombok dan didaerah Badung dll


Buddhakeling dari zaman dahulu hingga sekarang dikenal sebagai pusat seni, sastra rohani yang sudah mendarah daging. Griya Alit sebagai tempat kediaman Ida Pedanda Gde Wayahan Alit suami dari Ida Pedanda istri Mas ( Sang Mahatapini) dipandang oleh Keluarga Besar  Brahmana Buddha di Buddhakeling sebagai Karang Wayah artinya: Griya Alit  inilah sebagai tempat kediaman pertama Ida Bhetara Sakti Tangeb yang didampingi oleh Patni dari Brahmana Kemenuh. Di tempat inilah benda benda pusaka  Ida Bhetara Danghyang Astapaka disimpan dan disucikan. Almarhum Ida Pedanda Gde Oka Punyatmaja Pidada mengatakan bahwa Griya Alit  berperan sebagai pemimpin keluarga Brahmana Buddha di Buddhakeling dan dijuluki sebagai : Raja Brahmana. 

Hal ini bisa dilihat dari  salah satu tipologi Griya  dan hubungannya dengan Bencingah yang ada di sebelah selatan. Buddhakeling sebagai desa bernuansa spiritual, sebagai pusat Brahmana Buddha diwaktu pagi hari ketika matahari terbit terasa begitu syahdu, suci dan juga damai oleh dentingan suara bajra para Pandita Suci yang melantunkan Puja Mantra dibelasan Griya yang ada di Buddhakeling. Dan didesa ini yang berhawa sejuk masih banyak ditemui warga dan juga Ida Pedanda yang berusia diatas 90 tahun mirip sekali dengan desa panjang umur yang terkenal di Pulau Okinawa, Jepang yang juga berada di dekat pegunungan. Beberapa hari yang lalu kita kehilangan seorang Pandita Waskita dan Suci dari desa ini beliau adalah Ida Pedanda Gde Made Gianyar yang lebar, wafat dalam usia 101 tahun, ayahanda beliau sendiri lebar diusia lebih dari 110 tahun ditahun 1994 dan Ida Pedanda istri Mas ( Sang Mahatapini) lebar diusia 111 tahun ditahun 2011,Ida Pedanda Gde Wayahan Datah Griya Kerotok lebar tahun 2003 diusia 103 tahun


Konsep pendirian desa Buddhakeling  yang dikelilingi oleh  Catur Desa dan Desa Buddhakeling berada dalam posisi sentral ibarat sari dari bunga padma seperti Konsep Padma Mani, Padmabwana, Padmamekar, Padmakuncup termasuk Padmasana. Konsep Padma merupakan konsep terpenting dalam Ajaran Suci Siwa-Buddha, pendirian Pura besar  dan pelaksanaan Upacara-upacara Suci  berdasarkan konsep Padma. Didalam Kakawin Sutasoma Mpu Tantular menyuratkan :


"Sri Wairocana dibya rupa pakarupanira ri puputing kasantikan, mwang Padmasana ratnapangkaja palinggihan nira saha Buddha laksana

Lilabhusana sarwa ratna dumilah  makutamani  suteja bhaswara akshobhyadi huwus mamuja ri sira jaya jaya  Paramadi dewata". 

Artinya : 

Sri Wairocana dengan penuh pancaran  cahaya karena telah mencapai kebenaran, kedamaian

Beliau berstana diatas Padmasana  bunga teratai permata dengan sikap Suci sebagai Buddha

Dengan busana permata  yang bercahaya serta hiasan kepala bersinar cemerlang

Beliau adalah Dewata Utama. 

Dalam petikan Kakawin Sutasoma ini dengan jelas  kita mengetahui bahwa Hyang Buddha ( Sri Wairocana) berstana di dalam apa yang disebut : Padmasana Ratna yakni Padmasana Permata. Ida Pedanda Buddha dalam tradisi pemujaan setiap hari mengucapkan mantra Suci : Om Padmasana Ya Namah Swaha, ketika hendak memulai pemujaan. Selanjutnya beliau memusatkan pikiran pada Bhatara Parama Buddha yang di stanakan didalam Padmasana. 


" Idep Bhetara Parama Buddha mwang Bhetara Panca Tathagata mungguh ring Padmasana/ Patarana" . Dengan mengucapkan Kutamantra : Om Ah Hum Ah Hum Tram  Hrih Ah Namobuddaya. 

Ketika kita membaca Pustaka Sanghyang Kamahayanikan, kita akan menemukan uraian lahirnya Pancaaksara yang juga disebut Panca Tathagata yaitu : Ah, Hum, Tram, Hrih, A. Yang tiada lain adalah Skanda atau Sarira dari para Dewata. 

Bersambung

Artikel Terkait: 

Buddhakeling Pusat Brahmana Buddha di Bali Bagian 2


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sosok Bapak Sugi Lanus, ahli Filologi, pakar Lontar & ahli Sansekerta di Indonesia

Berpedoman Lontar Jawa Kuno Memperjuangkan Hindu Secara Nasional Tulisan Bapak Sugi Lanus, ahli Filologi, pakar Lontar & ahli Sansekerta di Indonesia Semoga bermanfaat karena berbagi kebaikan takkan pernah merugi dan selalu beruntung. Belajar sejarah itu selalu menarik...termasuk memahami perjalanan Hindu Bali Terimakasih untuk Bapak Sugi Lanus atas kejernihan tulisannya dengan database histori yang kuat.ЁЯЩПЁЯЩПЁЯЩП BERPEDOMAN LONTAR JAWA KUNO MEMPERJUANGKAN HINDU SECARA NASIONAL Tulisan di bawah ditulis oleh seorang pakar restorasi lontar, budayawan dan sangat baik untuk dibaca bagi penyuka sejarah dan pencari kebenaran... Berdasar pada sumber sejarah valid dan bukan katanya-katanya. ====================================== by Sugi Lanus September 1, 2020 — Catatan Harian Sugi Lanus, Anggar Kasih Julungwangi, 1 September 2020 Saya menulis ini untuk sekedar pembuka ingatan kembali, bahwa generasi kakek atau buyut sebelum kemerdekaan menjadi Hindu di Jawa, Lombok, dan Bali, mereka berkit...

Wirama Rajani/Mandamalon

  ᭛см▓᭄смвᬸсмвᬶсмжᬶсмнсмвсмж᭄смвᬸсмоᬸсм▓᭄см▓ᬶсмжсм│ᬸсмнсмж᭄смзсмнсмлᬵᬃсмгсм░ᬶсмп᭞ смЕсмжсмУᬸсм│ᬸсмпᬸсм▓᭄смУсмвᭀсмжсмкᬶсмлсмвсмж᭄смв᭄смвсмв᭄смлᬸсмж᭄смвсмУсмйᬾᬄ᭞ см│смжсмзсмЧсмжᬸсмХ᭄смнсм│смЧ᭄смУ᭄смпсмШсмдᬸсм░смУ᭄смвᬶсмпᬶсмжᬶсмл᭄смйсм░смн᭞ смзсм░ᬸсмзсмвᬶсм░ᬵсм▓᭄смв᭄смнсмУсм▓᭄смвᬸсмзсмЧсмнсмж᭄сммсмжᬶсм│смж᭄смпᬸсмосмвᬶ᭛ Stutinira tan tulus sinahuran param─Бrс╣нa ┼Ъiwa, Anaku huwus katon abimantanta temunta kabeh, Hana panganugrahangkwa Cadu┼Ыakti winimba ┼Ыara, Pa┼Ыupati ┼Ы─Бstra kastu pangaranya nihan wulati. смпᬸсмпᬸсм▓ᬶсмнсм▓ᬂсм│᭄сммсмЧᬶсм░᭄смпсмнсмлᬶсмЪᬶсмо᭄смвсмЧсмзᬸсмм᭄‌смнᬶсмвсмЧсмж᭄᭞ смпсмпсмЧсм░смнᬶсмнсмУᬵсмвсмнсмлсмЧᬶсмб᭄смеᬶсмвсмУᭂсмж᭄смпсмнсммᬂ᭞ смвᬶсмжсмнᬶсмлсм▓ᬂсмесмжсмЬ᭄смЪсммсмвᬶсмУᬂсм░смнсм▓ᬹсмУ᭄см▒᭄смлсмвᬶсмУ᭞ смЧсмжсмосм░смнᬶсмнсм▓ᬵсмв᭄смлсмУсмосмпсмж᭄смпсмнсммᬂсмпᭂсмУсм▓смж᭄᭛ Wuwus ira Sanghyang I┼Ыwara mijil tang apuy ri tangan, Wawang asar─йra k─Бtara mangindhitak─Ыn warayang, Tinarima Sang Dhana├▒jaya tikang sara s┼лksma tika, Nganala sar─лra s─Бtmaka lawan warayang wekasan. смУᬺсмвсмпсмнсм▓ᬂсмесмжсмЬ᭄смЪсммсмлсмжᭂсмл᭄смйсм│смвᬶсмзᬺсмбсмв᭞ смзᬶсмжᬶсм▓смоᬶсмжсмж᭄смосмнсм▓᭄смлсмУᬸсмЭсмвсмж᭄см│смжсмУсмосм│смоᬄ᭞ смпᬶсмжсмнсмпсмнᬄсм▓ᬶсмнᬾсмЧсмЪᬶсмдсмжᬸᬃсмесмнсм░см▓᭄смв᭄смнсмУсмйᭂᬄ᭞ смУᬺсмвсм▓смлсммсмзᬺсммᭀсмХсмдсмдᬶсм▓ᬹсмУ᭄см▒᭄смлсмксмЭсмнсм░ᬶсмп᭛ Kretawara Sang Dana├▒jaya manembah hati praс╣Зata, Pinisalinan laras maku╚Ыa tan hana kalah alah, Winara warah sir├йng aji danur dhara s─Бstra kabeh, Kr─Ыta samayang prayoga dadi s┼лksma Bhat─Бra ├Зiwa. см▓см│см▓ᬸ...

Babad Brahmana Keling

Babad Brahmana Keling atau Purana Pura Gunungsari Babad Brahmana Keling terdiri atas 11 lembar GG lontar. Babad itu bercerita tentang kisah perjalanan Brahmana Keling ketika beliau meninggalkan gunung Bromo pergi ke Bali untuk bertemu dengan kerabatnya yaitu Dalem Watur Enggong yang menjadi raja Gelgel. Sesampainya beliau di Gelgel beliau tidak bisa menemukan raja karena raja Gelgel sedang berada di Besakih. Keberadaan raja Gelgel di Besakih dalam rangka melaksanakan yadnya Nangluk Merana. Karena Brahmana Keling tidak bisa bertemu dengan raja Gelgel maka beliaupun pergi menuju Besakih.  Ketika sampai di Besakih Brahmana Keling memberitahu rakyat Besakih bahwa kedatangan beliau hanya ingin bertemu dengan raja Gelgel karena beliau masih terhitung kerabatnya. Rakyat yang ditanyai beliau segera melaporkan kepada patih Agung bahwa ada seorang gila yang mencari sang raja. Patih Agung segera menemuinya dan melihatnya. Dalam pikiran patih Agung tidak mungkin raja memiliki keluarga gila. Be...