Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Spiritual

Wirama Rajani/Mandamalon

  ᭛ᬲ᭄ᬢᬸᬢᬶᬦᬶᬭᬢᬦ᭄ᬢᬸᬮᬸᬲ᭄ᬲᬶᬦᬳᬸᬭᬦ᭄ᬧᬭᬫᬵᬃᬣᬰᬶᬯ᭞ ᬅᬦᬓᬸᬳᬸᬯᬸᬲ᭄ᬓᬢᭀᬦᬪᬶᬫᬢᬦ᭄ᬢ᭄ᬢᬢ᭄ᬫᬸᬦ᭄ᬢᬓᬩᬾᬄ᭞ ᬳᬦᬧᬗᬦᬸᬕ᭄ᬭᬳᬗ᭄ᬓ᭄ᬯᬘᬤᬸᬰᬓ᭄ᬢᬶᬯᬶᬦᬶᬫ᭄ᬩᬰᬭ᭞ ᬧᬰᬸᬧᬢᬶᬰᬵᬲ᭄ᬢ᭄ᬭᬓᬲ᭄ᬢᬸᬧᬗᬭᬦ᭄ᬬᬦᬶᬳᬦ᭄ᬯᬸᬮᬢᬶ᭛ Stutinira tan tulus sinahuran paramārṭa Śiwa, Anaku huwus katon abimantanta temunta kabeh, Hana panganugrahangkwa Caduśakti winimba śara, Paśupati śāstra kastu pangaranya nihan wulati. ᬯᬸᬯᬸᬲᬶᬭᬲᬂᬳ᭄ᬬᬗᬶᬰ᭄ᬯᬭᬫᬶᬚᬶᬮ᭄ᬢᬗᬧᬸᬬ᭄‌ᬭᬶᬢᬗᬦ᭄᭞ ᬯᬯᬗᬰᬭᬶᬭᬓᬵᬢᬭᬫᬗᬶᬡ᭄ᬥᬶᬢᬓᭂᬦ᭄ᬯᬭᬬᬂ᭞ ᬢᬶᬦᬭᬶᬫᬲᬂᬥᬦᬜ᭄ᬚᬬᬢᬶᬓᬂᬰᬭᬲᬹᬓ᭄ᬱ᭄ᬫᬢᬶᬓ᭞ ᬗᬦᬮᬰᬭᬶᬭᬲᬵᬢ᭄ᬫᬓᬮᬯᬦ᭄ᬯᬭᬬᬂᬯᭂᬓᬲᬦ᭄᭛ Wuwus ira Sanghyang Iśwara mijil tang apuy ri tangan, Wawang asarĩra kātara mangindhitakěn warayang, Tinarima Sang Dhanañjaya tikang sara sūksma tika, Nganala sarīra sātmaka lawan warayang wekasan. ᬓᬺᬢᬯᬭᬲᬂᬥᬦᬜ᭄ᬚᬬᬫᬦᭂᬫ᭄ᬩᬳᬢᬶᬧᬺᬡᬢ᭞ ᬧᬶᬦᬶᬲᬮᬶᬦᬦ᭄ᬮᬭᬲ᭄ᬫᬓᬸᬝᬢᬦ᭄ᬳᬦᬓᬮᬳᬮᬄ᭞ ᬯᬶᬦᬭᬯᬭᬄᬲᬶᬭᬾᬗᬚᬶᬤᬦᬸᬃᬥᬭᬰᬲ᭄ᬢ᭄ᬭᬓᬩᭂᬄ᭞ ᬓᬺᬢᬲᬫᬬᬧᬺᬬᭀᬕᬤᬤᬶᬲᬹᬓ᭄ᬱ᭄ᬫᬪᬝᬭᬰᬶᬯ᭛ Kretawara Sang Danañjaya manembah hati praṇata, Pinisalinan laras makuța tan hana kalah alah, Winara warah siréng aji danur dhara sāstra kabeh, Krěta samayang prayoga dadi sūksma Bhatāra Çiwa. ᬲᬳᬲᬸ...

Creating a presentation for stakeholders.

 This reading provides tips to consider when creating a presentation for stakeholders. As a reminder, presentations are a great way to share research insights with people in your organization and external parties. There are many digital tools you can use to create a presentation, like Google Slides, Microsoft PowerPoint, and Apple Keynote.  Provide an overview  Include a short roadmap or "table of contents" at the beginning of your presentation, so your audience knows what to expect throughout the presentation. Your roadmap should almost be like a checklist that the audience can follow along, so they have a vision for how much content is left to cover.  In addition, one slide should feature an overview of the content you’re presenting, also known as an executive summary. It’s kind of like sharing your conclusion or biggest takeaways at the beginning of the presentation. Be sure to discuss how your research impacts the big picture, like how the product would support t...

Tri Aksara

Dharmawacana Skadrstya (Wejangan Sekilas) Om Swastyastu. "TRI AKSARA" Oleh I Ketut Subagiasta IAHN-TP Palangka Raya.      Hari Budha Pon Pujut, Penanggal Kutus Sasih Kasa Warsa Saka 1944. Sedharma, Para Pinandita sekalian, semoga sami sehat rahayu bahagia dan sejahtra. Sanian saat ini dengan topik Tri Aksara. Secara filosofis Tri Aksara artinya tiga aksara atau tiga huruf dalam agama Hindu.  Tiga aksara tersebut, antara lain aksara atau huruf: A, U, M. Sering juga dituliskan dengan anuswara ng, sering ditulis Ang, Ung, dan Mang. Huruf A, U, dan M atau Ang,  Ung, dan Mang setelah disandikan atau disatukan atau digabungkan menjadi satu, yakni: A+U+M=AUM atau A+U=O, selanjutnya O+M= OM, Sedangkan aksara ANG+UNG+MANG=ONG. Aksara OM atau ONG inilah disebut dengan Aksara Pranawa. Secara filosofis aksara Pranama berupa OM atau ONG inilah sebagai Aksara Suci atau sebagai Aksara untuk mengawali penyebutan nama Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa, atau sebu...

LONTAR SAIVA SIDDHANTA TERTUA

LONTAR SAIVA SIDDHANTA TERTUA Ini adalah salah satu manuskrip LONTAR Sansekerta tertua, bertahun 828 Masehi, ditemukan di Nepal, sekarang disimpan di Cambridge University Library.  LONTAR ini berisi ajaran Hindu, lebih khusus yang terkait Siwa, Saiva Siddhanta, sebuah ajaran Tantra Esoterik, berisi beberapa ayat Yajurveda. Menarik untuk membandingkan Saiva Siddhanta di Bali dan Nepal. Tulisan di bawah ini sedikit bercerita tentang Hindu di Nepal, negeri ditemukannya manuskrip tersebut. ----------((((()))))))------------ *HINDU BALI LEBIH MIRIP HINDU NEPAL* — _Catatan Harian Sugi Lanus, 2 Juni 2022._ Oleh *Sugi Lanus* Saya sepakat 1000% dengan pendapat yang mengatakan bahwa praktek beragama dan ritual Hindu Bali ya Hindu Bali, berbeda dengan Hindu di India.  Tetapi, jika ada pertanyaan kenapa Hindu Bali berbeda dengan Hindu India? Saya akan mengajak si penanya untuk “jalan-jalan” ke Nepal. _*Kenapa ke Nepal?*_ Dengan membandingkan Hindu di Nepal dan Hindu di India, kita akan pa...

PERCAKAPAN YUDISTIRA DENGAN DEWA YAMA

PERCAKAPAN YUDISTIRA DENGAN DEWA YAMA (DEWA DHARMA/KEMATIAN).  Dewa Yama : “Apa yang menyelamatkan manusia dari mara bahaya?” Yudhistira : “Keberanianlah yang menyelamatkan manusia dari mara bahaya.” Dewa Yama : “Ilmu apakah yang bisa membuat manusia bijaksana?” Yudhistira : “Untuk menjadi bijaksana, tidak cukup hanya dengan membaca kitab-kitab. Dengan bergaul dengan orang-orang bijak, orang bisa mendapatkan kebijaksanaan.” Dewa Yama : “Apakah yang lebih mulia dan lebih menghidupi manusia daripada bumi ini?” Yudhistira : “Ibu, yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya lebih mulia dan memberikan kehidupan yang lebih besar daripada bumi ini.” Dewa Yama : “Apakah yang lebih tinggi daripada langit?” Yudhistira : “Bapak.” Dewa Yama : “Apakah yang lebih cepat daripada angin?” Yudhistira : “Pikiran.” Dewa Yama : “Apakah yang lebih berbahaya daripada jerami kering pada musim panas?” Yudhistira : “Hati yang dilanda duka nestapa.” Dewa Yama : “Apakah yang menemani seorang pengembara?” Yud...

HINDU BALI MURNI DARI BALI?

*HINDU BALI MURNI DARI BALI?* — _Catatan Harian Sugi Lanus, 27 Mei 2022._   Oleh *Sugi Lanus* 1. Ada kabar yang mengatakan terdapat sekelompok masyarakat Bali yang berkeyakinan (berspekulasi) bahwa ajaran Hindu Bali adalah *ORIGINAL* atau “murni Bali”. Kepada kelompok ini perlu diajukan beberapa pertanyaan yang sekiranya perlu direnungkan dan pelajari sebelum dijawab: — *Mpu Kuturan* yang dipercaya sebagai pembawa ajaran dan peletak dasar kahyangan tiga di Bali berasal dari mana? — *Sapta Rsi* yang diakui sebagai leluhur Gotra Pasek berasal dari mana? — *Dang Hyang Nirartha* yang menjadi tokoh restorasi besar keagamaan Hindu Bali berasal dari mana? — *Dang Hyang Astapaka* yang secara teks diakui sebagai pewaris silsilah DIKSA BUDDHA-MAHAYANA di Bali berasal dari mana? 2. Semua lontar-lontar yang menyebutkan *MPU KUTURAN*, dengan sangat jelas memberi informasi bahwa Mpu Kuturan berasal dari Maspait atau Maospait, Jawa — harap dibedakan antara Maospait/ Maspait dan Majapahit. Mpu Kut...

Jenis Pemangku

 JENIS PAMANGKU  Menurut Lontar Raja Purana Gama. Ekajati yang tergolong pamangku dibedakan jenisnya, sesuai dengan tempat dan kedudukannya, dimana beliau ini melaksanakan tugasnya, yaitu:  1. Pamangku Kahyangan (Pemangku Kusuma Dewa) Pamangku Kahyangan adalah Pamangku yang bertugas pada Kahyangan yang meliputi Kahyangan Tiga, Kahyangan Jagat maupun Sad Kahyangan. Masing-¬masing pura ini memiliki seorang atau lebih Pamangku pemucuk dan mengemban tugas dan bertanggung jawab terhadap segala kegiatan pada pura yang, diemongnya. Selain itu memahami tentang keberadaan pura serta upacara dan upakara yang semestinya dilaksanakan. Pemangku tersebut sering juga disebut Mangku Gde/Mangku Pemucuk. Seperti Pemangku Desa, Dalem, Puseh serta sesungsungan desa lainnya, Kahyangan Jagat serta. Dangkahyangan.  2. Pamangku Pamongomong (Pembantu Pemangku Kusuma Dewa) Pamangku Pamongmomg juga disebut dengan sebutan Jro Bayan, atau dengan sebutan Mangku alit, yang memiliki tugas sebagai p...

BACAAN WAJIB PENDETA HINDU BALI

 *BACAAN WAJIB PENDETA HINDU BALI* Oleh *Sugi Lanus* _[Catatan Harian Sugi Lanus, 16 Pebruari 2021]_ 1. *Kependetaan Hindu Bali sangat jelas bacaan wajibnya.*  Artinya, punya pedoman kependetaan, dasar etika, pengetahuan dasar yang harus dimiliki, dan harus memiliki kemampuan standar yang harus dikuasai dengan baik sebelum seorang calon pendeta di-diksa oleh Nabe-nya. Jika tidak punya pengetahuan lewat bacaan wajib seorang calon pendeta lalu di-diksa oleh seorang Nabe, maka Nabe tersebut masuk kategori *NENTEN MANUT SASANA — MELANGGAR ATURAN-SASANA KEPENDETAAN*. Demikian disebut dalam lontar *RSI SASANA*. Jadi, jelas antara bacaan wajib, kemampuan dasar, serta persyaratan lainnya, harus dikuasai oleh seorang calon pendeta Hindu Bali. Tidak bisa sama sekali seseorang "ujug-ujug diksa" oleh seorang NABE (pendeta guru senior). 2. *Kependetaan Hindu yang mana? Kapan? Pedoman yang mana dimaksud punya kejelasan?* Yang saya uraikan adalah pendetaan *dwijati* di masa sebelum kemerdek...

Surat Terbuka Bapak Sugi Lanus untuk PHDI Terkait Diksa

SURAT TERBUKA UNTUK PENGURUS PARISADA TERKAIT DIKSA Surat terbuka disampaikan secara pribadi oleh Sugi Lanus  untuk dibaca Pengurus Parisada versi manapun. Om Awignamastu Dari tahun 1996 saya memantau perkembangan Parisada sebagai reporter/penulis dan mahasiswa yang berkecimpung dengan teks kependetaan dan sastra Jawa Kuno, terkhusus menyangkut topik DIKSA. Menurut pengamatan saya:  Salah satu biang kerok berulangnya kekusutan di tubuh Parisada adalah kedangkalan literasi sebagian besar pengurus Parisada terkait DIKSA. Ini bisa dimaklumi karena latar belakang profesi pengurus Parisada 30 tahun belakangan memang sebagian besar tidak berlatar belakang pendidikan agama, atau tidak berasal dari lingkar kependetaan tradisional, tetapi perlu tetap diapresiasi memang rata-rata berdasar niat berani tulus-ngayah, sekalipun memang tidak menguasai prihal DIKSA. Hal ini sangat berbeda dengan komposisi pengurus Parisada di era Piagam Campuhan dan parisada sebelum tahun 1980-an. Akar lain k...

Mengenal tradisi silakramaning aguron-guron

Mengenal tradisi silakramaning aguron-guron  Tri guru dalam Padiksan.  Tri (tiga) guru dalam diksa terdiri dari guru diksa (nabe), guru siksa (guru waktra), dan guru saksi.  Guru diksa adalah guru kerohanian yang "napak" dan selanjutnya disebut nabe. Seorang sisya hanya boleh memiliki seorang nabe!  Guru siksa adalah guru kerohanian yang memberikan bimbingan dan nasehat tentang ilmu pengetahuan. Jumlah guru siksa tidak dibatasi (boleh lebih dari satu).  Guru saksi adalah guru kerohanian yang menjadi saksi bahwa semua proses padiksan dilaksanakan dengan baik dan benar.  Tugas guru diksa: 1. Memimpin upacara padiksan 2. Menginisiasi (napak) sang diksita, dengan memberi nama, mantra, dan benang suci (Siva Sutram). 3. Mengajarkan "sambhanda jnana" (jalan kamoksan) kepada sisya. 4. Memberi ajar secara reguler.  Tugas guru siksa (waktra): Membantu guru diksa (nabe) memberi ajar kepada sisya, walaupun secara irreguler (tidak rutin), dan mengajar sampai pada t...

Buddhakeling Pusat Brahmana Buddha (Bagian II)

Buddhakeling Pusat Brahmana Buddha (Bagian II)  Lebih lanjut diuraikan: Ah-kara wijaksara Danghyang Wairocana, Hum-kara wijaksara Danghyang Amoghasidhi, Tram-kara wijaksara Danghyang Ratna Sambhawa, Hrih-kara wijaksara Danghyang Amithaba, A-kara wijaksara Danghyang Amoghasidhi. Nahan wijaksara mijilaken  Panca Buddha.  Ahkara adalah: aksara suci Danghyang Wairocana, Hum-kara adakah aksara suci Danghyang Amoghasidhi, Tram-kara adalah aksara suci Danghyang Ratna Sambhawa, Hrih-kara adalah aksara suci Danghyang Amithaba, A-kara adalah aksara suci Danghyang Amoghasidhi. Dalam Siwa-Buddha Tatwa dinyatakan bahwa Hyang Siwa maupun Hyang Buddha berstana di tengah-tengah bunga padma  dengan kelopaknya yang menunjukkan arah mata angin dan didiami oleh para Dewata yang tiada lain adalah badan atau manifestasi Beliau sendiri.  Disini semakin jelas posisi Padmasana bagi agama Siwa-Buddha. Dalam tradisi keberaksaraan di Buddhakeling ajaran-ajaran suci tersebut mendapatkan pen...

Buddhakeling Pusat Brahmana Buddha di Bali (Bagian I)

Buddhakeling Pusat Brahmana Buddha di Bali (Bagian I)  " Nda nahan ri patungga-tungalan ikang bhuwana, wihikananta ring tuhu ngwang  Wairocana  Buddhamurti  Siwamurti pinakaguru ning jagat kabeh.  Nahan donkwi  ingaran Bhatara Guru kaprakasita teka ring sarat kabeh Anghing byapaka ring samasthabhuwananaku  juga warawisesadewata" Kakawin Desawarnana/ Negarakertagama/ 23.4// Artinya :  Demikianlah spesifikasi dunia - kamu harus mengetahuinya dengan benar Aku adalah Wairocana manifestasi dari keduanya baik Buddha maupun Siwa dan dipandang sebagai Gurunya Alam Semesta Itulah sebabnya Aku disebut : Bhatara Guru, dikenal luas di seluruh dunia Tetapi adalah Aku yang meresapi seluruh dunia juga para Dewata yang paling tinggi.  Kisah desa Buddhakeling dimulai ketika masa pemerintahan Raja Kerajaan Bali abad XV Ida Dalem Sri Waturenggong yang merupakan Raja yang sangat berpengaruh dalam bidang, seni budaya, sastra agama. Pengaruhnya sampai ke Puger, Bl...