Langsung ke konten utama

Tri Aksara

Dharmawacana Skadrstya (Wejangan Sekilas)

Om Swastyastu.

"TRI AKSARA"

Oleh I Ketut Subagiasta

IAHN-TP Palangka Raya.


     Hari Budha Pon Pujut, Penanggal Kutus Sasih Kasa Warsa Saka 1944. Sedharma, Para Pinandita sekalian, semoga sami sehat rahayu bahagia dan sejahtra. Sanian saat ini dengan topik Tri Aksara. Secara filosofis Tri Aksara artinya tiga aksara atau tiga huruf dalam agama Hindu.  Tiga aksara tersebut, antara lain aksara atau huruf: A, U, M. Sering juga dituliskan dengan anuswara ng, sering ditulis Ang, Ung, dan Mang. Huruf A, U, dan M atau Ang,  Ung, dan Mang setelah disandikan atau disatukan atau digabungkan menjadi satu, yakni: A+U+M=AUM atau A+U=O, selanjutnya O+M= OM, Sedangkan aksara ANG+UNG+MANG=ONG. Aksara OM atau ONG inilah disebut dengan Aksara Pranawa. Secara filosofis aksara Pranama berupa OM atau ONG inilah sebagai Aksara Suci atau sebagai Aksara untuk mengawali penyebutan nama Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa, atau sebutan nama Ruhan sesuai kondisi setempat, contoh : 

a. Umat Hindu di Karo Sumut, mengucapkan Om Debata, 

b. umat Hindu di Kalteng mengucapkan Om Ranying Hatalla Langit, 

c.umat Hindu di Kalsel mengucapkan Om Nining Bhatara, 

d. Umat Hindu di Tolotang atau umat Hindu Alukta di Sulsel mengucapkan Om Dewata Siwae, 

e. Umat Hindu di Jawa mengucapkan Om Gusti Pangeran atau juda ada mengucapkan Hong Hulun Basuki Langgeng atau  Hong Hulun Sang Sangka Paraning Dumadi, 

f. Umat Hindu di Indknesia pada umumnya mengucapkan Om Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan sebagainya sebutan nama Tuhan sesuai Bahasa setempat, contoh untuk daerah Kanteng di Murung Raya, karena memakai bahasa Dayak Murung, maka umat Hindu Kaharingan mengucapkan Om Hyang Mohotara, di daerah Lamandau umat Hindu Kaharingan mengucaljan Om Hyang Dewata, dan contoh daerah lainnya.Demikian Aksara Pranawa tersebut sebagai aksara suci untuk mengawali menyebutkan nama Tuhan. Contoh lain ada Umat Hindu pada umumnya juga menvucapkan Om Nama Siwaya, Om Nama Saraswatiya, Om Nama Brahmaya, Om Nama Wisnuya, dan sebagainya, yang selalu diawali dengan Aksara Pranawa OM atau ONG.

     Selajutnya disajikan tentang Tri Aksara dakam konteks yang relevan dalam Praktek beragama Hindu, antara lain: 1. Saat Pranayama, 2. Konteks Tri Kona,  3. Konteks Tri Murti,  dan konteks lainnya masih  banyak lagi Fungsi Tri Aksara dalam beragama Hindu. 

1). Saat Pranayama sudah sering dilakukan oleh Sedharma tatkala melaksanakan Puja Tri Sandhya, Saat Kramaning Sembah, saat praktek Yoga dengan Astangga Yoga, yang diawali Suryanamaskar, astangga Yoga yakni, seperti: Yama, Nyama, Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, Samadhi. Saat Pranayyama yakni menarik nafas segar atau Puraka mengucapkan mantra Om Ang Namah Svaha, saat menahan nafas dakam sarira atau Kumbaka dengan mengucapkan mantra atau Om Ung Namah Svaha, dan saat mengeluarkan nafas kotor dadi sarira atau Recaka, dengan mengucapkan mantra Om Mang Namah Svaha. Dengan fungsi Tri Aksara tersebut nampak ada fungsi Tri Aksara dalam mantra Pranayama. Maknanya bahwa menarik nafas segar dengan antaran mantra suci Om Ang Namah Svaha, begitu juga sarwa  mala pada diri bisa tersucikan dengan mantra Om Ung Namah Svaba, begitu juga semoga udara kotor keluar dari diri dengan mantra Om Mang Namah Svaha. 

2) Konteks Tri Kona, bahwa ada tiga kemahakuasaan Tuhan yang disebut Tri Kona, antara lain: Utpeti, Dewa Brahma, Menciptakan, Aksara adalah ANG, warna Merah/Barak, dan Urip 9, kemudian  Aksara UNG, Sthiti Dewa Wisnu, memelihara warna Hitam/Selem, urip 4, dan Aksara Mang, Dewa Siwa, Pralina, melebur atau mengembalikan ke asalnya, urip 8. Tri Kona yakni kemahakuasaan Tuhan dinamai Utpeti yang aksaranya ANG, Sthiti yang aksaranya  UNG, dan Pralina yang aksaranya MANG. Secara umum sedharma dl Bali memakai aksara Bali. 3) Konteks Tri Murti yakni tiga wujud Dewa atau wujud ketuhanan dalam Hindu. Tri Murti terjait Tri Aksara yaitu: Dewa Brahma, Aksara ANG, dalam kekuatan aksara suci ANG tersebut Dewa Brahma mamurti untuk sresti atau ngutpeti Sarwa Prani, demikin juga Dewa Wisnu, Aksara UNG dengan kekuatan aksara suci, untuk Sthiti, memelihara Sarwa Prani agar rahayu, subur, makmur, hidupnya di jsgat, begitu pula Murti Dewa Siwa, Aksara MANG, dengan mistis atau magis atau dahsyat untuk Pralina sarwa prani yang saatnya kembali ke asalnya, lewat kekuatan Dewa Siwa dengan Aksara MANG, sehingga Pralina, Mrtyu, Matasya, Lebur atau Lebar (bhs. Bali) atau Lebur terjadi, Aksara Mang benar-benar sakral, keramat, sehingga yang namanya Kematian terjadi, yang tak bisa diilmiahkan atau dilogikakan. Kekuatan Dewa Siwa dengan Kekuatan aksara MANG yang Maha Mertyu arau Maga Maut. Demikian sajian sekelas tentang Tri Aksara, semoga ada manfaatnya bagi sedharma sekalian. Ksamasvamam. Ksama ca Ksami. Matur suksma. Svaha. Sahey. Rahayu. Sahayu. Rahayu. Om Santih Santih Santih Om. 


Palangka Rahayu, 6 Juli 2022.

Sumber: WAG IHN

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sosok Bapak Sugi Lanus, ahli Filologi, pakar Lontar & ahli Sansekerta di Indonesia

Berpedoman Lontar Jawa Kuno Memperjuangkan Hindu Secara Nasional Tulisan Bapak Sugi Lanus, ahli Filologi, pakar Lontar & ahli Sansekerta di Indonesia Semoga bermanfaat karena berbagi kebaikan takkan pernah merugi dan selalu beruntung. Belajar sejarah itu selalu menarik...termasuk memahami perjalanan Hindu Bali Terimakasih untuk Bapak Sugi Lanus atas kejernihan tulisannya dengan database histori yang kuat.ЁЯЩПЁЯЩПЁЯЩП BERPEDOMAN LONTAR JAWA KUNO MEMPERJUANGKAN HINDU SECARA NASIONAL Tulisan di bawah ditulis oleh seorang pakar restorasi lontar, budayawan dan sangat baik untuk dibaca bagi penyuka sejarah dan pencari kebenaran... Berdasar pada sumber sejarah valid dan bukan katanya-katanya. ====================================== by Sugi Lanus September 1, 2020 — Catatan Harian Sugi Lanus, Anggar Kasih Julungwangi, 1 September 2020 Saya menulis ini untuk sekedar pembuka ingatan kembali, bahwa generasi kakek atau buyut sebelum kemerdekaan menjadi Hindu di Jawa, Lombok, dan Bali, mereka berkit...

Wirama Rajani/Mandamalon

  ᭛см▓᭄смвᬸсмвᬶсмжᬶсмнсмвсмж᭄смвᬸсмоᬸсм▓᭄см▓ᬶсмжсм│ᬸсмнсмж᭄смзсмнсмлᬵᬃсмгсм░ᬶсмп᭞ смЕсмжсмУᬸсм│ᬸсмпᬸсм▓᭄смУсмвᭀсмжсмкᬶсмлсмвсмж᭄смв᭄смвсмв᭄смлᬸсмж᭄смвсмУсмйᬾᬄ᭞ см│смжсмзсмЧсмжᬸсмХ᭄смнсм│смЧ᭄смУ᭄смпсмШсмдᬸсм░смУ᭄смвᬶсмпᬶсмжᬶсмл᭄смйсм░смн᭞ смзсм░ᬸсмзсмвᬶсм░ᬵсм▓᭄смв᭄смнсмУсм▓᭄смвᬸсмзсмЧсмнсмж᭄сммсмжᬶсм│смж᭄смпᬸсмосмвᬶ᭛ Stutinira tan tulus sinahuran param─Бrс╣нa ┼Ъiwa, Anaku huwus katon abimantanta temunta kabeh, Hana panganugrahangkwa Cadu┼Ыakti winimba ┼Ыara, Pa┼Ыupati ┼Ы─Бstra kastu pangaranya nihan wulati. смпᬸсмпᬸсм▓ᬶсмнсм▓ᬂсм│᭄сммсмЧᬶсм░᭄смпсмнсмлᬶсмЪᬶсмо᭄смвсмЧсмзᬸсмм᭄‌смнᬶсмвсмЧсмж᭄᭞ смпсмпсмЧсм░смнᬶсмнсмУᬵсмвсмнсмлсмЧᬶсмб᭄смеᬶсмвсмУᭂсмж᭄смпсмнсммᬂ᭞ смвᬶсмжсмнᬶсмлсм▓ᬂсмесмжсмЬ᭄смЪсммсмвᬶсмУᬂсм░смнсм▓ᬹсмУ᭄см▒᭄смлсмвᬶсмУ᭞ смЧсмжсмосм░смнᬶсмнсм▓ᬵсмв᭄смлсмУсмосмпсмж᭄смпсмнсммᬂсмпᭂсмУсм▓смж᭄᭛ Wuwus ira Sanghyang I┼Ыwara mijil tang apuy ri tangan, Wawang asar─йra k─Бtara mangindhitak─Ыn warayang, Tinarima Sang Dhana├▒jaya tikang sara s┼лksma tika, Nganala sar─лra s─Бtmaka lawan warayang wekasan. смУᬺсмвсмпсмнсм▓ᬂсмесмжсмЬ᭄смЪсммсмлсмжᭂсмл᭄смйсм│смвᬶсмзᬺсмбсмв᭞ смзᬶсмжᬶсм▓смоᬶсмжсмж᭄смосмнсм▓᭄смлсмУᬸсмЭсмвсмж᭄см│смжсмУсмосм│смоᬄ᭞ смпᬶсмжсмнсмпсмнᬄсм▓ᬶсмнᬾсмЧсмЪᬶсмдсмжᬸᬃсмесмнсм░см▓᭄смв᭄смнсмУсмйᭂᬄ᭞ смУᬺсмвсм▓смлсммсмзᬺсммᭀсмХсмдсмдᬶсм▓ᬹсмУ᭄см▒᭄смлсмксмЭсмнсм░ᬶсмп᭛ Kretawara Sang Dana├▒jaya manembah hati praс╣Зata, Pinisalinan laras maku╚Ыa tan hana kalah alah, Winara warah sir├йng aji danur dhara s─Бstra kabeh, Kr─Ыta samayang prayoga dadi s┼лksma Bhat─Бra ├Зiwa. см▓см│см▓ᬸ...

Babad Brahmana Keling

Babad Brahmana Keling atau Purana Pura Gunungsari Babad Brahmana Keling terdiri atas 11 lembar GG lontar. Babad itu bercerita tentang kisah perjalanan Brahmana Keling ketika beliau meninggalkan gunung Bromo pergi ke Bali untuk bertemu dengan kerabatnya yaitu Dalem Watur Enggong yang menjadi raja Gelgel. Sesampainya beliau di Gelgel beliau tidak bisa menemukan raja karena raja Gelgel sedang berada di Besakih. Keberadaan raja Gelgel di Besakih dalam rangka melaksanakan yadnya Nangluk Merana. Karena Brahmana Keling tidak bisa bertemu dengan raja Gelgel maka beliaupun pergi menuju Besakih.  Ketika sampai di Besakih Brahmana Keling memberitahu rakyat Besakih bahwa kedatangan beliau hanya ingin bertemu dengan raja Gelgel karena beliau masih terhitung kerabatnya. Rakyat yang ditanyai beliau segera melaporkan kepada patih Agung bahwa ada seorang gila yang mencari sang raja. Patih Agung segera menemuinya dan melihatnya. Dalam pikiran patih Agung tidak mungkin raja memiliki keluarga gila. Be...