Kakawin Nāgarakṛtâgama (Desāwarnāna)
Oleh:
Ida Bagus Jelantik Sutanegara Pidada (bgs_jelantik@unud.ac.id)
Lontar Kakawin Nāgarakṛtâgama (Desāwarnāna) karya Empu Prapañca pertama kali ditemukan di Lombok (Puri Cakranegara) oleh Dr. J.L.A. Brandes saat ekspedisi Belanda ke Bali dan Lombok tahun 1894. Saat tentara KNIL membakar istana, Brandes menyelamatkan warisan naskah tersebut.
Awalnya, lontar yang ditemukan di Lombok itu dikira naskah tunggal (codex unicus). Disurat oleh penulis yang menamakan dirinya Arthapamasah pada bulan Kartika tahun saka 1662 (20 Oktober 1740 Masehi) di Kancana. Pada tanggal, 7 Juli 1978 naskah lainnya ditemukan di Griya Pidada Karangasem, Bali. Naskah turunan lainnya ditemukan pula dari Geria Pidada, Klungkung. Dua naskah lainnya ditemukan di Geria Carik Sidemen. Naskah yang ditemukan di Gria Pidada Karangasem merupakan naskah tertua diantara naskah lainnya.
Lontar Kakawin Nāgarakṛtâgama (Desāwarnāna) yang ditemukan di Lombok, disimpan di Leiden, Belanda dengan kode koleksi LOr 5.023. Oleh Ratu Juliana (Ratu Kerajaan Belanda), naskah tersebut dikembalikan kepada Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1973. Oleh Pemerintah Republik Indonesia naskah tersebut disimpan di Perpustakaan Nasional RI dan diberi kode NB 9. Naskah Lontar Kakawin Nāgarakṛtâgama (Desāwarnāna) yang disimpan di Perpustakaan Nasional RI itu, kini tercatat sebagai salah satu Cagar Budaya Indonesia oleh PBB.
Isi Lontar Kakawin Nāgarakṛtâgama (Desāwarnāna), menguraikan keadaan Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. Raja agung yang memerintah di wilayah Nusantara itu, bertakhta dari tahun 1350 sampai 1389 Masehi, pada masa puncak kejayaan Kerajaan Majapahit.
Penulis naskah Lontar Kakawin Nāgarakṛtâgama (Desāwarnāna) memakai nama pena Mpu Prapanca yang sesungguhnya bernama Dang Acarya Nadendra, salah seorang pejabat Kerajaan Majapahit waktu itu. Kakawin Nāgarakṛtâgama (Desāwarnāna) selesai ditulis oleh Mpu Prapanca saat sudah tidak lagi menjabat sebagai pejabat Kerajaan Majapahit pada bulan Aswina tahun Saka 1287 (September – Oktober 1365 Masehi) di sebuah desa yang disebut Kamalasana.
Nāgarakṛtâgama bermakna “negara sejahtera (welfare state), tertib, dan damai berlandaskan kecucian (agama)” atau singkatnya “tata negara sejahtera”. Mpu Prapanca, pengarang Kakawin Nāgarakṛtâgama menyebut teksnya sebagai Deçawarnana atau uraian tentang desa-desa.
Mpu Prapanca menulis Pujasastra Kakawin Nāgarakṛtâgama dengan tujuan menuliskan historiografi desa-desa di seluruh wilayah Kerajaan Majapahit setelah melakukan kunjungan kerja bersama Maharaja Hayam Wuruk. Selain itu, berbagai aspek kehidupan keagamaan, politik, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Kerajaan Majapahit pada masa lalu juga dituliskan dengan syair indah metrum sastra kakawin. Sebagai Pujasastra, Kakawin Nāgarakṛtâgama selain menuliskan keagungan kerajaan Majapahit juga melukiskan kearifbijaksanaan Maharaja Hayam Wuruk bukan untuk tujuan politik pencitraan dan legitimasi kekuasaannya, namun lebih sebagai upaya untuk mewariskan idiologi kepemimpinan yang baik untuk generasi pemimpin pada masa datang. Kewajiban semua pemimpin, menyirnakan kepapaan seluruh lapisan masyarakat (ksayanikang papa nahan prayojana) menuju negara sejahtera (welfare state). Itulah esensi Pujasastra Kakawin Nāgarakṛtâgama yang berlaku sepanjang masa.
Sumber:
Komentar
Posting Komentar