Om Swastyastu dan Swastika
Percakapan Rsi Dharmakirti dengan Sang Suyasa
Maka tersebutlah seorang Guru Suci bernama Rsi Dharmakirti tinggal di Asrama Jagadhita yang terkenal pengetahuan dan laksananya dalam kebenaran yang tinggi yaitu pengetahuan suci dari Weda-Weda.
Pada suatu hari datanglah sang Suyasa, seorang sisya berkunjung untuk mendapatkan pengetahuan suci dan terjadilah percakapan antara guru dan sisyanya. Sang sisya dengan sikap yang amat tertib yaitu menundukkan kepala, dengan dua tangan tercakup di dada (cakuping kara kalih) mulai matur dengan panganjali "Om Swastiyastu".
Sang Guru mendengar dan menjawab dengan "Om Shanti, Shanti, Shanti" dan mempersilakan sang suyasa duduk bersila di hadapannya. Setelah keduanya duduk dan Rsi Dharmakirti menanyakan kedatangannya maka sang suyasa mulai umatur dengan cakupan tangan tetap di dada.
Umatur sang Suyasa:
Oh Guru suci yang hamba muliakan, maafkanlah keberanian hamba yang datang ke hadapan guru untuk memohon pengajaran-pengajaran suci dan berguna yang dapat memberikan sinar dan tuntunan pada jiwa hamba yang dalam kegelapan ini dengan cinta kasih dan kemurahan sang Guru, limpahkanlah ajaran suci yang dapat memberikan kebahagiaan abadi kepada semua makhluk dalam alam semesta ini. Gurunda, selama ini hamba hidup tanpa kekurangan baik dalam hal harta benda maupun kemasyuran nama, tetapi hati hamba masih kosong dan kadang-kadang diganggu oleh kedukaan sehingga pada suatu kesimpulan bahwa harta benda dan kepuasan nafsu bukanlah yang abadi adanya.
Hamba mendengar bahwa zaman dahulu para Rsi yang hidup sangat sederhana tetapi dapat mencapai jiwa besar dan kedamaian abadi sehingga menghasilkan karya-karya agung dalam bidang kesusastraan umpamanya wiracarita Ramayana dan Mahabharata dan lain-lainnya. Dan juga dalam hamba mengembara dari satu tempat ke tempat lain hamba kagum akan bangunan-bangunan agung untuk keagamaan yang dibangun oleh leluhur-leluhur yang berjiwa besar umpamanya Candi Borobudur, Prambanan, Dieng dan lain sebagainya.
Juga ada pemimpin-pemimpin keagamaan (Raja Rsi) dan prajurit-prajurit agung yang hidupnya tekun melaksanakan tugasnya tanpa pamrih konon dapat merasakan kedamaian dan kebahagiaan abadi dalam mengabdi pada masyarakat. Inilah Gurunda yang membingungkan hati hamba Benarkah ada kebahagiaan yang kekal demikian? Jika benar bagaimana jalan untuk mencapainya.
Dengan tersenyum dan rasa kasih sayang Rsi Dharmakirti menjawab berbahagialah ia yang sadar akan kehidupan ini dan mau mengetahui serta mendalami ajaran ajaran suci untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian. Guru sangat bahagia ananda datang setelah mengalami hidup keduniawian itu. Ketahuilah bahwa segala yang anda katakan itu adalah benar. Kebenaran dan kedamaian abadi itu dapat dicapai setiap orang tidak ada kecualinya jika telah mengalami tuntunan agama sesuai dengan ajaran-ajaran pustaka suci Weda dengan suci hati dan tulus ikhlas.
Tetapi suatu ajaran suci ananda, baru akan dapat meresap jika diterima dengan sikap yang baik serta hati yang tenang dan tekun. Oleh karena itu perbaikilah cara duduk ananda dan pusatkan pikiran serta perhatian ananda agar tidak sia-sia lah apa yang guru uraikan.
Setelah sang suyasa memperbaiki cara duduknya Rsi Dharmakirti pun memulai.
Anakku, tadi anakku mengucapkan panganjali "Om Swastiastu". Tahukah ananda apa artinya? Jika belum dengarlah! OM adalah aksara suci untuk Sang Hyang Widhi, kata swastyastu terdiri dari kata-kata Sansekerta: su + asti + astu, su artinya baik, asti artinya adalah dan astu artinya mudah-mudahan. Jadi arti keseluruhan Om Swastyastu adalah semoga ada dalam keadaan baik atas karunia Sang Hyang Widhi. Kata swastyastu ini berhubungan erat dengan simbol suci agama kita ialah Swastika yang merupakan dasar kekuatan dan kesejahteraan bhuana agung dan bhuana alit (makrocosmos dan microkosmos).
Bentuk Swastika ini dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan galaksi dan kumpulan bintang-bintang di cakrawala yang merupakan dasar kekuatan dari perputaran alam ini. Keadaan alam ini sudah diketahui oleh nenek moyang kita sejak dahulu kala dan lambang Swastika ini telah ada beribu-ribu tahun sebelum Masehi. Dan dengan ucapan panganjali Swastiastu itu anakku sebenarnya kita sudah memohon perlindungan kepada Sang Hyang Widhi yang menguasai seluruh alam semesta ini. Dan dari bentuk swastika itu timbulah bentuk Padma (teratai) yang berdaun bunga delapan (asta-dala) yang kita pakai dasar keharmonisan alam, kesucian dan kedamaian abadi.
Sang Suyasa:
Oh Gurunda, maafkan kalau hamba memotong hamba tidak mengira demikian luas maksud dari ucapan panganjali atau penghormatan hamba tadi itu. Betul-betul hamba gak tahu artinya. Hamba hanya dengar demikian lalu hamba ikut-ikutan saja
Rsi Dharmakirti:
Memanglah demikian tinggi nilai dari ajaran agama kita ananda. Guru gembira bahwa anda senang mendengarnya. Ketahuilah bahwa kata swasti (su + asti) itulah menjadi kata Swastika Arti akhiran "ka" adalah untuk membentuk kata sifat menjadi kata benda. Umpamanya: Jana: lahir, janaka: ayah; pawa: membakar, pawaka: api dan lain-lainnya.
Ingatkah ananda apa yang guru pakai untuk menjawab ucapan panganjali itu?
Sang suyasa:
Ya Gurunda, Gurunga bilang Om Shanti, Shanti, Shanti. Tetapi apa artinya hamba tidak tahu.
Rsi Dharmakirti:
Tidak mengapa ananda, Guru akan jelaskan bahwa arti kata Om Shanti, Shanti, Shanti itu adalah Semoga damai atas karunia Hyang Widhi.
Shanti artinya damai dan jawaban ini hanya diberikan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih muda sedangkan jawaban atau sambutan terhadap panganjali Om Swastyastu dari orang yang sebaya atau dari orang yang lebih tua cukuplah dengan Om Swastyastu itu sama-sama mendoakan semoga selamat. Hanya yang lebih tua patut memakai Om Shanti,Shanti, Shanti terhadap yang lebih muda atau dipakai juga untuk menutup suatu uraian atau tulisan.

Komentar
Posting Komentar