Langsung ke konten utama

Pura Rsi di Nyambu Dibangun di Atas Tapak Kaki Dang Hyang Nirartha

Pura Rsi di Nyambu Dibangun di Atas  Tapak Kaki Dang Hyang Nirartha

KAKI : Monumen tapak kaki dibuat sebagai pengingat bahwa pura ini berdiri di atas tapak kaki Dang Hyang Nirartha. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Sejumlah pura dibangun di Bali, erat kaitannya dengan perjalanan Dang Hyang Nirartha yang menyinggahi sejumlah tempat. Salah satunya adalah Pura Rsi di Banjar Mundeh, Desa Nyambu, Kediri, Tabanan. Bagaimana kisah pura kala  Dharma Yatra pendeta asal Majapahit  pada masa Dalem Waturenggong ini?

Pura Rsi terletak sekitar 300 meter sebelah timur Kantor Desa Nyambu, erat kaitannya dengan kisah Dang Hyang Nirartha di Bali. Hingga kini,arsitektur kuno palinggihnya  dipertahankan.

Pemangku Pura Rsi, Jro Mangku I Wayan Jagra, 72, menerangkan bahwa pura ini berstatus Dang Kahyangan.

Dang Kahyangan adalah tempat suci yang dibangun untuk mengenang jasa pimpinan umat Hindu yang pernah datang ke Bali, seperti Rsi Markendya, Dang Hyang Nirartha, dan lainnya.  "Jadi, Pura Rsi di Desa Nyambu ini termasuk golongan Pura Dang Kahyangan untuk mengenang jasa Dang Hyang Nirartha," ujar Jro Mangku I Wayan Jagra kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin.

Kepastian sekaligus penwgasan bahwa Pura Rsi termasuk dalam golongan Pura Dang Kahyangan, bisa dilihat pada prasasti yang tertempel di tembok yang membatasi area utamaning mandala.

Prasasti tersebut dibuat ketika Karya Mamungkah, Mupuk Padagingan, Ngenteg Linggih, Mapadudusan Agung lan Balik Sumpah,  tujuh tahun silam, tepatnya 24 Oktober 2012.

Kisah secara tertulis diakui  Jro Mangku I Wayan Jagra tidak ada, namun berdasar cerita turun temurun dari leluhur mengungkapkan kisah sejarahnya.

Ketika Dang Hyang Nirartha yang juga dikenal sebagai Dang Hyang Dwijendra ke Bali, beliau melakukan perjalanan hingga akhirnya sampai di Banjar Mundeh sekarang ini. Kedatangan Rsi yang dikenal pula sebagai Pedanda Sakti Wawu Rawuh ini, disambut hangat  masyarakat.

Leluhur dari Jro Mangku I Wayan Jagra yang mengetahui kedatangan Dang Hyang Nirartha tersebut, meminta kepada beliau agar berkenan membangun pura di wilayah tempat tinggalnya.

Dang Hyang Nirartha pun dengan senang, kemudian meninggalkan sebuah bekas tapak kaki beliau. “Beliau bersabda bahwa di atas telapak kaki beliau palinggih pertama harus dibangun.Makanya di tempat itu dibangun Padma Tiga,” ujarnya. 

Dikatakannya, usai memberikan sabda pertama itu, Dang Hyang Nirartha kembali memberikan pesan kepada leluhur Jro Mangku I Wayan Jagra. Pesan kedua itu, meminta agar warih sentana (keturunan) beliau kelak diajak nyungsung di pura tersebut. Pesan dari Sang Rsi pun dilaksanakan oleh leluhur Jro Mangku I Wayan Jagra. Kini, selain Padma Tiga sebagai palinggih utama pemujaan Dang Hyang Nirartha, juga terdapat beberapa palinggih yang merupakan tempat warih sentana beliau berdiri berjejer rapi.

“Palinggih Padma Tiga itu adalah palinggih pertama yang berdiri di pura ini, menyusul kemudian palinggih lain dari warih sentana beliau,” papar Jro Mangku I Wayan Jagra.

Pria yang sudah menjadi pemangku sejak tahun 1980-an ini,  menjelaskan bahwa sempat ada beberapa orang yang datang mengaku sebagai peneliti menanyakan sejarah pura yang memiliki pratima (sosok atau benda yang keramatkan) berbentuk naga dan singa ini.

“Kalau cerita tutur turun temurun ada, tetapi kalau secara tertulis tidak ada. Jadi, saya tidak berani memastikan kapan berdirinya pura ini,” tegas pria tiga anak ini.

Di sisi lain, pura yang piodalannya jatuh pada Buda Umanis Tambir ini, kerap dikunjungi  perguruan kebatinan. Dikatakannya, mereka  datang dari berbagai kabupaten di Bali,  dan meminta izin untuk makemit (bermalam) di pura.

“Saya terima, kan mereka mau sembahyang, di samping napak tilas,  ingin melihat jejak dari peninggalan Dang Hyang Nirartha,” ujarnya.

Jro Mangku I Wayan Jagra mengaku paham, karena banyak juga peninggalan beliau di Bali. "Mungkin mereka ingin menelusurinya hingga akhirnya ketemu juga pura saya ini,” beber pria yang rambutnya sudah memutih ini.

Ditambahkannya, ada penekun spiritual mengatakan ada sosok penjaga gaib (rencang) berupa ular dan harimau,' namun keduanya tidak pernah menampakkan diri kepada masyarakat sekitar pura. “Saya juga tidak pernah melihat,” tegas Jro Mangku I Wayan Jagra.

Pura dengan pangempon 300 Kepala Keluarga (KK) ini, menganut konsep dwi mandala, dimana semua palinggihnya ada di area utamaning mandala. Palinggih Padma Tiga sebagai palinggih utama, kemudian palinggih berjejer di sebelah utara utamaning mandala adalah dari berbagai warih sentana Dang Hyang Nirartha. Mulai dari Pajenengan Pemaron Munggu, Pajenengan Beten Poh, Pajenengan Gede Rai dari Kaba-Kaba, Pasimpangan Pura Pulaki, Pasimpangan Gunung Agung, Pasimpangan Mas Taman Pule, Pajenengan Griya Beten Poh Buduk. 

“Waktu memugar, memilih untuk restorasi saja. Cuma pondasinya lebih ditinggikan, biar tetap mempertahankan warisan leluhur terdahulu,” pungkasnya.

Sumber: TABANAN, BALI EXPRESS

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sosok Bapak Sugi Lanus, ahli Filologi, pakar Lontar & ahli Sansekerta di Indonesia

Berpedoman Lontar Jawa Kuno Memperjuangkan Hindu Secara Nasional Tulisan Bapak Sugi Lanus, ahli Filologi, pakar Lontar & ahli Sansekerta di Indonesia Semoga bermanfaat karena berbagi kebaikan takkan pernah merugi dan selalu beruntung. Belajar sejarah itu selalu menarik...termasuk memahami perjalanan Hindu Bali Terimakasih untuk Bapak Sugi Lanus atas kejernihan tulisannya dengan database histori yang kuat.ЁЯЩПЁЯЩПЁЯЩП BERPEDOMAN LONTAR JAWA KUNO MEMPERJUANGKAN HINDU SECARA NASIONAL Tulisan di bawah ditulis oleh seorang pakar restorasi lontar, budayawan dan sangat baik untuk dibaca bagi penyuka sejarah dan pencari kebenaran... Berdasar pada sumber sejarah valid dan bukan katanya-katanya. ====================================== by Sugi Lanus September 1, 2020 — Catatan Harian Sugi Lanus, Anggar Kasih Julungwangi, 1 September 2020 Saya menulis ini untuk sekedar pembuka ingatan kembali, bahwa generasi kakek atau buyut sebelum kemerdekaan menjadi Hindu di Jawa, Lombok, dan Bali, mereka berkit...

Wirama Rajani/Mandamalon

  ᭛см▓᭄смвᬸсмвᬶсмжᬶсмнсмвсмж᭄смвᬸсмоᬸсм▓᭄см▓ᬶсмжсм│ᬸсмнсмж᭄смзсмнсмлᬵᬃсмгсм░ᬶсмп᭞ смЕсмжсмУᬸсм│ᬸсмпᬸсм▓᭄смУсмвᭀсмжсмкᬶсмлсмвсмж᭄смв᭄смвсмв᭄смлᬸсмж᭄смвсмУсмйᬾᬄ᭞ см│смжсмзсмЧсмжᬸсмХ᭄смнсм│смЧ᭄смУ᭄смпсмШсмдᬸсм░смУ᭄смвᬶсмпᬶсмжᬶсмл᭄смйсм░смн᭞ смзсм░ᬸсмзсмвᬶсм░ᬵсм▓᭄смв᭄смнсмУсм▓᭄смвᬸсмзсмЧсмнсмж᭄сммсмжᬶсм│смж᭄смпᬸсмосмвᬶ᭛ Stutinira tan tulus sinahuran param─Бrс╣нa ┼Ъiwa, Anaku huwus katon abimantanta temunta kabeh, Hana panganugrahangkwa Cadu┼Ыakti winimba ┼Ыara, Pa┼Ыupati ┼Ы─Бstra kastu pangaranya nihan wulati. смпᬸсмпᬸсм▓ᬶсмнсм▓ᬂсм│᭄сммсмЧᬶсм░᭄смпсмнсмлᬶсмЪᬶсмо᭄смвсмЧсмзᬸсмм᭄‌смнᬶсмвсмЧсмж᭄᭞ смпсмпсмЧсм░смнᬶсмнсмУᬵсмвсмнсмлсмЧᬶсмб᭄смеᬶсмвсмУᭂсмж᭄смпсмнсммᬂ᭞ смвᬶсмжсмнᬶсмлсм▓ᬂсмесмжсмЬ᭄смЪсммсмвᬶсмУᬂсм░смнсм▓ᬹсмУ᭄см▒᭄смлсмвᬶсмУ᭞ смЧсмжсмосм░смнᬶсмнсм▓ᬵсмв᭄смлсмУсмосмпсмж᭄смпсмнсммᬂсмпᭂсмУсм▓смж᭄᭛ Wuwus ira Sanghyang I┼Ыwara mijil tang apuy ri tangan, Wawang asar─йra k─Бtara mangindhitak─Ыn warayang, Tinarima Sang Dhana├▒jaya tikang sara s┼лksma tika, Nganala sar─лra s─Бtmaka lawan warayang wekasan. смУᬺсмвсмпсмнсм▓ᬂсмесмжсмЬ᭄смЪсммсмлсмжᭂсмл᭄смйсм│смвᬶсмзᬺсмбсмв᭞ смзᬶсмжᬶсм▓смоᬶсмжсмж᭄смосмнсм▓᭄смлсмУᬸсмЭсмвсмж᭄см│смжсмУсмосм│смоᬄ᭞ смпᬶсмжсмнсмпсмнᬄсм▓ᬶсмнᬾсмЧсмЪᬶсмдсмжᬸᬃсмесмнсм░см▓᭄смв᭄смнсмУсмйᭂᬄ᭞ смУᬺсмвсм▓смлсммсмзᬺсммᭀсмХсмдсмдᬶсм▓ᬹсмУ᭄см▒᭄смлсмксмЭсмнсм░ᬶсмп᭛ Kretawara Sang Dana├▒jaya manembah hati praс╣Зata, Pinisalinan laras maku╚Ыa tan hana kalah alah, Winara warah sir├йng aji danur dhara s─Бstra kabeh, Kr─Ыta samayang prayoga dadi s┼лksma Bhat─Бra ├Зiwa. см▓см│см▓ᬸ...

Babad Brahmana Keling

Babad Brahmana Keling atau Purana Pura Gunungsari Babad Brahmana Keling terdiri atas 11 lembar GG lontar. Babad itu bercerita tentang kisah perjalanan Brahmana Keling ketika beliau meninggalkan gunung Bromo pergi ke Bali untuk bertemu dengan kerabatnya yaitu Dalem Watur Enggong yang menjadi raja Gelgel. Sesampainya beliau di Gelgel beliau tidak bisa menemukan raja karena raja Gelgel sedang berada di Besakih. Keberadaan raja Gelgel di Besakih dalam rangka melaksanakan yadnya Nangluk Merana. Karena Brahmana Keling tidak bisa bertemu dengan raja Gelgel maka beliaupun pergi menuju Besakih.  Ketika sampai di Besakih Brahmana Keling memberitahu rakyat Besakih bahwa kedatangan beliau hanya ingin bertemu dengan raja Gelgel karena beliau masih terhitung kerabatnya. Rakyat yang ditanyai beliau segera melaporkan kepada patih Agung bahwa ada seorang gila yang mencari sang raja. Patih Agung segera menemuinya dan melihatnya. Dalam pikiran patih Agung tidak mungkin raja memiliki keluarga gila. Be...