Langsung ke konten utama

Ida Bhetara Lebar Ida Pedanda Gde Made Keniten (1908-1998) Sang Wreddha Pandita Subrata

 Ida Bhetara Lebar Ida Pedanda Gde Made Keniten ( 1908-1998) Sang Wreddha Pandita Subrata

"Jroning Wwe parimana nala gaganging tunjung dawut kaweruhi/

Yan ring jatikula pracara winaya mwang sila karmenggita/

Yan ring Pandita ring ksama mudita santosapeksa ris mardawa/

Sang sastra jnana wuwusniramreta padanyangde satusteng praja//


Untuk mengetahui dalamnya air, dapat dilakukan dengan mencabut batang teratai/

Kebangsawanan seseorang nampak pada tingkah laku dan tabiatnya/

Tanda seorang Wiku/ Pandita adalah kesabarannya, keiklasan, kedamaian, serta ketenangannya/

Sedangkan seorang yang telah mumpuni dalam pemahaman Sastrasuci agama kata-katanya bagaikan Amerta ( air  suci kehidupan) yang senantiasa menyenangkan masyarakat//

Kakawin Nitisastra 1.6 


Perjalanan hidup seorang Pandita memang penuh nilai-nilai spiritual. Untuk mengungkapkannya diperlukan pengetahuan yang luas serta mendalam tentang dunia kependetaan. Seorang Pedanda adalah seorang  Sadhaka artinya dia yang melaksanakan Sadhana. Sadhana adalah ajaran yoga dan ajaran-ajaran  ini dituangkan dalam Pustaka/ kitab Sasana, kode etik yakni kitab-kitab yang memuat aturan- aturan ketat sebagai seorang Pandita berdasarkan sumber sastra-sastra suci  yang jelas seperti : Siwa Sasana, Wretti Sasana, Brati Sasana, Silakrama dll. Jadi seorang Pedanda sejatinya adalah seorang Yogi yaitu: orang yang senantiasa memusatkan pikirannya, tingkah lakunya,serta ucapannya kepada Sang Pencipta. Itulah sebabnya didalam Pustaka Agastya Parwa disebutkan; seseorang dapat disebut sebagai wiku/ pandita  apabila memiliki pikiran yang Nirdwandwah artinya pikirannya tidak bercabang, pikirannya tidak terikat oleh obyek, indria, pikirannya bebas dari keakuan, ego, Niraga, artinya bebas dari rasa khawatir, bebas dari kesusahan, hatinya selalu sejuk dan jernih  suci karena yoga beliau ( nirmala dening yoganira). 


Dengan memahami hakikat kependetaan tersebut, barulah kita mengetahui mengapa seorang Pedanda disebut sebagai Patirtaning Jagad, karena beliau memiliki pikiran yang suci nirmala dan mengapa beliau disebut Lingganing Jagad, karena beliau memiliki pikiran yang teguh dalam yoga. Didalam Pustaka Dharma Sunya disebutkan bahwa seorang wiku utama adalah seorang yang menguasai Tattwa Jnana, Paramasastra, sehingga Sanghyang Aji Saraswati dinyatakan senantiasa berstana didalam dirinya yang suci. Itulah sebabnya beliau disebut : Kawiswara. Dan seorang wiku yang teguh dalam tapa, brata, yoga dan samadhi disebut sebagai ; Yogi swara. Kawiswara-Yogiswara, darimana ajaran-ajaran suci Dharma, kebenaran, kedamaian serta keharmonisan mengalir segar tanpa henti. 


Seperti tersurat dalam Geguritan Sucita-Subudi pupuh sinom :

" Reh Ida nulung Dharma

  Tan magawe anak sedih

  Tan ngardi jejeh mwang runtag

  Tan mari nyukanin hati

  Ngawe girang ngawe becik

  Tur ngawe wesana ayu

  Ngardi anak trepti suka

  Uli hidup kayang mati

  Twara suud

  Kayune mangulah Dharma"


Karena ia yang berbuat untuk kebaikan Dharma

Tidak membuat orang jadi sedih

Tidak membuat orang ketakutan dan khawatir

Ia hanya akan berbuat yang membuat orang senang

Membuat orang menjadi gembira

Dan membuat orang jadi baik

Serta senantiasa tentram dan bahagia

Sepanjang hayatnya

Tiada henti hentinya berkeinginan berbuat baik


Ida Pedanda Gde Made Keniten waktu masih walaka bernama : Ida Bagus Kade Purwa lahir dari pasangan Ida Pedanda Gde Nyoman Jumpung ( Bhagawanta Senapati & Patirtan Jagad Kerajaan Klungkung) dan Ibu Jro Istri Wayan Meregan pada tanggal 15 September 1908 di Griya Jumpung Anyar Dawan Klod. 

Sejak kecil semangat belajar serta kemauan menuntut ilmu beliau tidak pernah surut. Setelah menamatkan sekolah di Volkschoolen, Sekolah Rakyat di Dawan Klod, beliau fokus belajar dengan penuh disiplin ilmu sastra, agama ,filsafat / tattwa dan bahasa Jawa Kuna, termasuk ilmu Astronomi/ wariga, ilmu ukur tanah dan arsitektur / Astabumi, Astakosala kosali termasuk ilmu pengobatan / usada. Dalam pencarian ilmu itu beliau berkeliling ke Puri- Puri serta Griya Griya yang ada di Bali dan Lombok untuk menimba ilmu dan mencari bahan bacaan untuk memperluas wawasan . Khusus ilmu kawisesan beliau berguru pada guru kawisesan kasub yang bernama I Dewa Nyoman Latig dari Banjar Sawo Gunung, desa Pejeng yang menerima panugrahan dari Pura Pengukur-ukuran. Selain itu beliau juga belajar ilmu kawisesan dari Ida Bagus Ktut Telaga Griya Sumampan, Kemenuh Gianyar, serta tokoh kawisesan dari Griya Sanur yang langsung beliau pelajari dari Ida Pedanda Istri yang melegenda dalam dunia kawisesan di Bali

Motivasi beliau mempelajari ilmu kawisesan adalah  untuk kebaikan agar Pujamantra mempunyai kekuatan. Dalam bidang Usada, dan Yoga beliau langsung berguru pada ahlinya di Puri Pamotan Lombok langsung dari Anak Agung Made Jelantik Barayangwangsa yang menganugerahi beliau Rontal Usada Sari dan rontal tentang riwayat hidup Sang guru. Di bidang kesenian khususnya seni tari beliau adalah penari baris yang handal dan kasub berguru langsung pada maestro Pekak Kakul yang mengajari beliau menari baris, gambuh serta Arja dan Ida Bagus Kade Purwa menjadi pimpinan arja di Banjar Tengah dan juga ikut dalam Arja Muani di Banjar Sangging Dawan. Pada tahun 1935 para penari dari wilayah kerajaan Klungkung dan daerah-daerah lain dibawah koordinasi Raja Karangasem mengadakan pertunjukan  muhibah di empat Keraton di Surakarta dan Yogyakarta atas undangan Pengageng Puro Mangkunegaran Sri Paduka Mangkunegara VII dan Raja Kasunanan Solo/ Surakarta Susuhunan Paku Buwono X ikut dalam rombongan maestro tari Ida Bagus Oka Krebuak, Ida Bagus Wayahan Burwan dari Griya Pidada Klungkung, Ida Bagus Kade Purwa dan penari wanita Ni Dawan putri dari Pekak Kakul, kegiatan ini berulang kali diadakan sampai tahun 1941. Selain aktif dibidang tari, beliau sangat suka mewirama dan mendalami kakawin yang mengandung nilai filosofi tinggi serta pedoman dalam melaksanakan aktivitas kehidupan. Partner atau pasangan beliau dalam mewirama/mepepaosan adalah Ida Anak Agung Gde Ngurah dari Puri Kanginan Klungkung, Ida Tjokorda Gde Mayun, Puri Anyar, Ida Tjokorda Gde Agung Puri Semarabawa, dalam hal Nyastra dan mewirama beliau berguru kepada Ida Bagus Ktut Ngurah Griya Tebesaya Ubud yang merupakan tim ahli sastra Jawa Kuno bersama Prof Dr Poerbatjaraka dan seorang ahli bangsa Belanda Dr Roelof Goris. Dan sebelum didiksa sebagai Pedanda beliau dipilih oleh masyarakat Dawan menjadi Prebekel atau Kepala Desa dan memimpin pembuatan saluran air untuk pengairan sawah sawah serta mengupayakan pembuatan lahan persawahan baru sebagai cadangan pangan masyarakat, beliau juga ahli membuat peralatan seperti pisau, golok, dan keris dan di Griya beliau membuat prapen sendiri untuk membuat peralatan dari besi. Akhirnya diusia 35 tahun beliau memutuskan untuk ngetut yasa Ida Bhetara Lelangit dan anuwun pada nunas waranugraha Ida Pedanda Nabe dari Griya Taman Blayu ( Bhagawanta Puri Blayu) yang bernama Ida Pedanda Putu Oka. Upacara Diksa dilaksanakan pada Anggara Umanis Krulut 16  Maret  1943 dengan Abhiseka ; Ida Pedanda Gde Made Keniten sedangkan istri beliau Abhiseka ; Ida Pedanda Istri Anom 

Griya Dawan Klod sejak dahulu di kenal sebagai Bhagawanta Senapati dan Patirtan Jagad Kerajaan Klungkung bersama Sang Angawa Rat ( Raja) merahayukan negeri dan juga mendoakan keselamatan masyarakat luas  dan Ida Pedanda kesohor di Bali dengan sebutan : Ratu Pedanda Dawan yang juga menjadi Bhagawanta Puri Ubud, Puri Jero Kuta

Beliau dikenal karena sering dituwur muput Upacara Uttama dan juga Ida Pedanda Spesialis Pemanah Naga Banda pada upacara Pelebon.Menurut catatan beliau Muput dan Manah Naga Banda pada tahun 1959 ( Pelebon Cokorda Oka Dalem, Puri Saren Kangin, Ubud) 1965 ( Pelebon/ Pertiwa Raja Klungkung Ratu Dewa Agung Gde Oka Geg setelah sehari sebelumnya Naga Banda  tersebut di Puja Pengurip oleh Ida Pedanda Bodha yakni Ida Pedanda Gde Ngurah Griya Wanasari) 1967 ( Pelebon Cokorda Gde Ngurah Rengu, Puri Ubud) dan( Pelebon Tjokorda Gde Raka Sukawati, Presiden Negara Indonesia Timur, Puri Kantor) 1968 ( Pelebon Cokorda Rai, Puri Anyar) 1975 ( Pelebon Cokorda Ngurah Carangsari,Puri Kelodan) 1977( Pelebon Cokorda Raka Sukawati) 1978 ( Pelebon Cokorda Gde Agung Sukawati, Puri Saren Agung Ubud) 1996 ( Pelebon Cokorda Oka Sukawati, Puri Kantor) belum termasuk pelebon Puri Jero Kuta dan Puri Negara. Selain itu beliau juga sangat perhatian pada para sisya yang kurang mampu, sering segala peralatan dan upakara beliau sendiri yang memberi karena rasa kasih sayang beliau pada para sisya yang berkekurangan, Ngaben Massal dan Ngerit dari upakara sampai peralatan upacara semua beliau tanggung agar para sisya bisa melaksanakan upacara Pitra Yadnya secara bersama sama. Ketika tahun 1959 para tokoh agama dan juga Raja Klungkung ikut terlibat dalam pendirian Parisada, Ida Pedanda Gde Made Keniten menjadi anggota Pasamuhan Sulinggih ( 11 orang) yang pertama bersama Ida Pedanda Gde Putra Kemenuh dari Griya Gde Banjar, Ida Pedanda Made Pidada Griya Kebon Jeruk Jakarta, Resi Agung Pinatih, dengan Ketua Paruman Sulinggih dan juga Ketua Umum Parisada yang pertama : Ida Pedanda Gde Wayahan Sidemen . Tahun 1963 ketika upacara Eka Dasa Rudra Penereteg ( karena sudah lama tidak dilaksanakan) Gubernur Bali Anak Agung Bagus Sutedja menunjuk beberapa Ida Pedanda  yaitu : Ida Pedanda Gde Made Keniten,Ida Pedanda Wayahan Datah( Bodha) , Ida Pedanda Made Banjar ( Bodha) dan Ida Pedanda Gde Tembau untuk menjadi Yajamana Karya mendampingi Pengrajeg Karya ( Ratu Dewa Agung Gde Oka Geg)  dan pada waktu itu pula ditetapkan Ida Pedanda yang akan mepuja di Bale Gajah diantaranya : Ida Pedanda Gde Made Banjar Griya Kawan Bodhakeling, Ida Pedanda Wayahan Datah Griya Kerotok Bodhakeling, Ida Pedanda Gde Ngurah Griya Bodha Wanasari, Ida Pedanda Gde Made Keniten, Ida Pedanda Gde Tembau Griya Aan  .  


Bale Gajah di Pura Penataran Agung Besakih  yang berhadapan dengan Pelinggih Padmatiga sangat disucikan dan disakralkan karena keduanya adalah linggih Siwa. Yang pertama Siwa secara Niskala yang distanakan di Padma Tiga. Sedangkan yang kedua di Bale Gajah Ida Pedanda yang Amuja Ngeragayang Siwa secara Sekala. Kedua Siwa berhadapan yang pertama sebagai obyek pemujaan serta tujuan hidup semua mahkluk sedangkan yang kedua adalah Ia ( Ida Pedanda) yang merindukan ingin bersatu dan bertemu dengan-Nya untuk melebur segala mala, papa, dosa dan juga lara rogha dan penderitaan di dunia. Tradisi Kuna yang berkembang di Klungkung dan Karangasem dan mungkin juga didaerah lain di Bali, tidak semua Ida Pedanda berani mepuja di Bale Gajah yang sakral dan tenget  yang mepuja benar-benar  Wiku terpilih yang mempunyai kekuatan Tattwa Jnana, serta taat pada Brata, serta Sesana Kawikon apalagi karya yang tergolong utama yajna. Keutamaan sebuah yajna atau karya suci  yang dilaksanakan hendaknya disesuaikan dengan kematangan rohani, jnana  Sang Amuja agar yajna, karya suci yang dilaksanakan dengan persiapan matang, biaya besar serta waktu yang panjang tidak sia-sia atau nirdon. Dan Ida Pedanda Gde Made Keniten sangat taat mengikuti tradisi untuk senantiasa menjaga kesakralan dan kesucian Bale Gajah. 

Sebagai seorang wiku beliau sangat berdisiplin dalam segala hal. Kesucian akan meningkat  melalui jalan teguh memegang sesana/ kode etik, dan bukan menjadi Pandita pendebat, suka menjelekkan orang lain dan masih diliputi ego, momo angkara. Nilai seseorang di depan Ida Hyang Widhi terletak pada pelayanannya pada sesama berdasarkan Dharma, setia pada Sesana serta teguh dalam brata, memberi tuntunan pada sisya dan bukan sekedar menjadi tontonan, pelayanan tanpa pamrih dan tidak mengharapkan balasan, tidak kegirangan jika dipuji, dan tidak bersedih ketika tidak ada yang melayani. Menjadi wiku bukan untuk mengejar kemasyuran dan  kehormatan melainkan  setia memberi pengajaran agar orang orang / sisya selalu berjalan dalam kebajikan ( sampunnyan lumekas mabhawa wiku tan wruha kalekasaning kapanditan) tidak boleh mengumbar kata tanpa makna dan tanpa acuan sastra agama agar tidak terjerumus menjadi Wiku Raksasa penyebab hancurnya tatanan panca yadnya dan keharmonisan hidup bermasyarakat ( Wikwa raksasa gegwanangkwa mawiweka wisaya  areping kawiryan, rug brastang wara panca yajna ulihing bwana pangupakaraning Widhi) 


Untuk menutup tulisan ini dan sebagai tanda bakti pada Ida Bhetara Lebar kami kutipkan manggala kekawin Sang Wreddha Pandita Subrata, karya Ida Pedanda Gde Putra Griya Puseh, Intaran Sanur


"Singgih Sang Sujana Sudharma maka buddhi mudhita masih ing jagat kabeh/

Prajnanggita kawiswara sira susastra makadi sira pandittotama/

Sang sampun kreta tattwa mangkana wenang mijilakna kakawin ning sabha/

Sang saksat Paramesti gurwa manganugraha ri mami maran tulus ngawi//


Beliau yang bijaksana, teguh dalam Dharma, mengasihi semua orang/

Beliau yang ahli dalam ilmu sastra agama, seorang sastrawan dan juga sebagai pandita yang utama/

Beliau yang telah menguasai hakekat kebenaran yang telah melahirkan karya karya sastra utama untuk masyarakat/

Beliau yang bagaikan Hyang Pramesti Guru yang telah mengijinkan untuk membuat karya sastra //


Tlas sinurat, 5-5-2022

Ring Pakubwan Kolhua

Tjokorda Pandjikusamba

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sosok Bapak Sugi Lanus, ahli Filologi, pakar Lontar & ahli Sansekerta di Indonesia

Berpedoman Lontar Jawa Kuno Memperjuangkan Hindu Secara Nasional Tulisan Bapak Sugi Lanus, ahli Filologi, pakar Lontar & ahli Sansekerta di Indonesia Semoga bermanfaat karena berbagi kebaikan takkan pernah merugi dan selalu beruntung. Belajar sejarah itu selalu menarik...termasuk memahami perjalanan Hindu Bali Terimakasih untuk Bapak Sugi Lanus atas kejernihan tulisannya dengan database histori yang kuat.ЁЯЩПЁЯЩПЁЯЩП BERPEDOMAN LONTAR JAWA KUNO MEMPERJUANGKAN HINDU SECARA NASIONAL Tulisan di bawah ditulis oleh seorang pakar restorasi lontar, budayawan dan sangat baik untuk dibaca bagi penyuka sejarah dan pencari kebenaran... Berdasar pada sumber sejarah valid dan bukan katanya-katanya. ====================================== by Sugi Lanus September 1, 2020 — Catatan Harian Sugi Lanus, Anggar Kasih Julungwangi, 1 September 2020 Saya menulis ini untuk sekedar pembuka ingatan kembali, bahwa generasi kakek atau buyut sebelum kemerdekaan menjadi Hindu di Jawa, Lombok, dan Bali, mereka berkit...

Wirama Rajani/Mandamalon

  ᭛см▓᭄смвᬸсмвᬶсмжᬶсмнсмвсмж᭄смвᬸсмоᬸсм▓᭄см▓ᬶсмжсм│ᬸсмнсмж᭄смзсмнсмлᬵᬃсмгсм░ᬶсмп᭞ смЕсмжсмУᬸсм│ᬸсмпᬸсм▓᭄смУсмвᭀсмжсмкᬶсмлсмвсмж᭄смв᭄смвсмв᭄смлᬸсмж᭄смвсмУсмйᬾᬄ᭞ см│смжсмзсмЧсмжᬸсмХ᭄смнсм│смЧ᭄смУ᭄смпсмШсмдᬸсм░смУ᭄смвᬶсмпᬶсмжᬶсмл᭄смйсм░смн᭞ смзсм░ᬸсмзсмвᬶсм░ᬵсм▓᭄смв᭄смнсмУсм▓᭄смвᬸсмзсмЧсмнсмж᭄сммсмжᬶсм│смж᭄смпᬸсмосмвᬶ᭛ Stutinira tan tulus sinahuran param─Бrс╣нa ┼Ъiwa, Anaku huwus katon abimantanta temunta kabeh, Hana panganugrahangkwa Cadu┼Ыakti winimba ┼Ыara, Pa┼Ыupati ┼Ы─Бstra kastu pangaranya nihan wulati. смпᬸсмпᬸсм▓ᬶсмнсм▓ᬂсм│᭄сммсмЧᬶсм░᭄смпсмнсмлᬶсмЪᬶсмо᭄смвсмЧсмзᬸсмм᭄‌смнᬶсмвсмЧсмж᭄᭞ смпсмпсмЧсм░смнᬶсмнсмУᬵсмвсмнсмлсмЧᬶсмб᭄смеᬶсмвсмУᭂсмж᭄смпсмнсммᬂ᭞ смвᬶсмжсмнᬶсмлсм▓ᬂсмесмжсмЬ᭄смЪсммсмвᬶсмУᬂсм░смнсм▓ᬹсмУ᭄см▒᭄смлсмвᬶсмУ᭞ смЧсмжсмосм░смнᬶсмнсм▓ᬵсмв᭄смлсмУсмосмпсмж᭄смпсмнсммᬂсмпᭂсмУсм▓смж᭄᭛ Wuwus ira Sanghyang I┼Ыwara mijil tang apuy ri tangan, Wawang asar─йra k─Бtara mangindhitak─Ыn warayang, Tinarima Sang Dhana├▒jaya tikang sara s┼лksma tika, Nganala sar─лra s─Бtmaka lawan warayang wekasan. смУᬺсмвсмпсмнсм▓ᬂсмесмжсмЬ᭄смЪсммсмлсмжᭂсмл᭄смйсм│смвᬶсмзᬺсмбсмв᭞ смзᬶсмжᬶсм▓смоᬶсмжсмж᭄смосмнсм▓᭄смлсмУᬸсмЭсмвсмж᭄см│смжсмУсмосм│смоᬄ᭞ смпᬶсмжсмнсмпсмнᬄсм▓ᬶсмнᬾсмЧсмЪᬶсмдсмжᬸᬃсмесмнсм░см▓᭄смв᭄смнсмУсмйᭂᬄ᭞ смУᬺсмвсм▓смлсммсмзᬺсммᭀсмХсмдсмдᬶсм▓ᬹсмУ᭄см▒᭄смлсмксмЭсмнсм░ᬶсмп᭛ Kretawara Sang Dana├▒jaya manembah hati praс╣Зata, Pinisalinan laras maku╚Ыa tan hana kalah alah, Winara warah sir├йng aji danur dhara s─Бstra kabeh, Kr─Ыta samayang prayoga dadi s┼лksma Bhat─Бra ├Зiwa. см▓см│см▓ᬸ...

Babad Brahmana Keling

Babad Brahmana Keling atau Purana Pura Gunungsari Babad Brahmana Keling terdiri atas 11 lembar GG lontar. Babad itu bercerita tentang kisah perjalanan Brahmana Keling ketika beliau meninggalkan gunung Bromo pergi ke Bali untuk bertemu dengan kerabatnya yaitu Dalem Watur Enggong yang menjadi raja Gelgel. Sesampainya beliau di Gelgel beliau tidak bisa menemukan raja karena raja Gelgel sedang berada di Besakih. Keberadaan raja Gelgel di Besakih dalam rangka melaksanakan yadnya Nangluk Merana. Karena Brahmana Keling tidak bisa bertemu dengan raja Gelgel maka beliaupun pergi menuju Besakih.  Ketika sampai di Besakih Brahmana Keling memberitahu rakyat Besakih bahwa kedatangan beliau hanya ingin bertemu dengan raja Gelgel karena beliau masih terhitung kerabatnya. Rakyat yang ditanyai beliau segera melaporkan kepada patih Agung bahwa ada seorang gila yang mencari sang raja. Patih Agung segera menemuinya dan melihatnya. Dalam pikiran patih Agung tidak mungkin raja memiliki keluarga gila. Be...