"Ong Awighnam Astu Namo Siddham.. Ong Sarwwa Wighna Winasanam"
Mogi tan kakeneng upadrawa. Akasamaning ulun Paduka Bhatara.
------
Aku adalah Ida Sangkhya, sang Brahmana Keling. Aku adalah putra dari Danghyang Kayumanis. Asrama (Grha) ku di Keling, Jawadwipa. Aku pernah mendengar keindahan Bali Dwipa, kemakmurannya yang luar biasa, karena diperintah oleh saudaraku, Sri Waturenggong yang menjadi Raja Bali. Ketika itu pula, pamanku Danghyang Nirartha ada di Bali sebagai Purohita (pendeta kerajaan) mendamping Sri Waturenggong. Lengkaplah sudah Bali dipimpin raja dan pendeta utama yang tiada tara. Maka dari itu, aku ingin sekali mengunjungi mereka berdua di Bali.
Saat aku tiba di Bali, di palebahan Istana Sweca Pura, Gelgel.. aku tak menjumpai Sri Waturenggong dan pamanku Danghyang Nirartha ada disana. Oleh penjaga istana, beliau berdua sedang ada di Pura Agung Besakih, mempersiapkan upacara besar Nangluk Merana. Segeralah kususul mereka, rinduku kepada saudara dan pamanku tak tertahankan lagi.
Namun…. Tak disangka, orang Bali yang dalam bayanganku penuh dengan kebahagiaan, senyum nan ramah serta hormat kepada siapa saja, sama sekali tak tampak dalam diri penjaga Pura Besakih. Para pengawal ini tak percaya aku adalah saudara raja dan pendeta utama mereka. Aku dihina karena wajahku dan penampilanku yang kumuh. Sebisa mungkin aku bersabar dan meyakinkan para penjaga agar mereka percaya aku adalah saudara raja. Salah seorang dari mereka berlari menuju areal utama upacara.. bermaksud hati memberitahu raja bahwa aku datang kemari. Perasaanku sempat lega, karena yakin raja akan datang menghampiriku.
Jagat Dewa Bhatara Bali Dwipa… !! Bagai periuk tanah jatuh menimpa batu.. hancur berkeping perasaanku ketika mendengar bahwa sang raja memerintahkan seluruh pengawal gapura Pura Besakih mengusirku. Raja berkeyakinan jika suatu upacara yadnya yang agung tak boleh didatangi oleh orang GILA !! Begitu kata pengawal yang tadi sempat memberikan aku harapan. Semua pengawal menghajarku.. mengusirku, mencaci maki diriku.. hingga aku lari menyelamatkan diri.
Baiklah.. !! Hai Raja Bali.. Hai Manusia Bali.. Begitu mudah kau menistakan orang hanya dari wajah dan penampilannya. Kau berani mengambil keputusan dan berkeyakinan meski kau tak sempat melihat kehadiranku. Wahai Bhatara Giri Tohlangkir. Aku MENGUTUK segala upacara besar yang dilaksanakan umatMu di Besakih ini. Semoga PARA DEWATA enggan menerima persembahan mereka! Semua sarana upacara ini menjadi busuk.. para pekerja semua saling curiga.. pertengkaran tak pernah berhenti. JAH TASMAT !! Tak ada yang mampu menawar PASTU dariku ini.
Konon, Sri Waturenggong panik mendengar pengaduan para pengawal dan pekerjanya di Besakih. Pamanku sang pendeta suci Danghyang Nirartha.. konon menerima wahyu dari Bhatara Tohlangkir bahwa kejadian ini sudah ditakdirkan. Bahkan beliau sendiri tak diberi kewenangan mengembalikan kutuk dariku. Sebab semua ini adalah titahNya. Beliau menyarankan Sri Waturenggong bersemedi memohon petunjuk Bhatara Tohlangkir. Hingga petunjuk itu tiba.
Sekian lama orang Bali bingung dan kalut mencari keberadaanku. Hingga berbekal petunjuk Bhatara Tohlangkir, sepasukan prajurit Bali datang menghampiriku, memohon kesediaanku mengembalikan kutuk yang aku tabur. Konon Raja Bali atas nasehat pamanku singgih Mpu Danghyang.. mengaku bersalah dan siap memohon maaf kepadaku. Karena itulah, aku bersedia datang kembali ke Besakih, DEMI kerahayuan jagat Bali.
Di hadapan Raja Bali.. didampingi pamanku Danghyang Nirartha dan rakyat Bali di Besakih sebagai saksi, semua kutuk yang kutebar disana, PUNAH seketika. Tatkala aku memusatkan pikiranku pada Bhatara Tohlangkir. Atas keberhasilanku itu, raja menjuluki aku dengan DALEM SIDHAKARYA. Julukan itu bermakna Aku memiliki kuasa atas keberhasilan upacara yang digelar. Sejak saat itulah, Raja Waturenggong memerintahkan orang Bali agar MENYIMBOLKAN kehadiranku dalam setiap upacara melalui penampilan Tari Topeng Sidhakarya. AKU BUKAN PAMUPUT UPACARA.. AKU HANYA MENDOAKAN UPACARA AGAR TERBEBAS DARI KUTUK, MALAPETAKA DAN KEKOTORAN BATIN LAINNYA, AGAR BERUBAH MENJADI BERKAH, BERHASIL SESUAI PENGHARAPAN.
Aku Ida Sangkhya.. Brahmana dari Keling. Akulah Dalem Sidhakarya..
Foto Credits: Dek Suardiana
Penari: Ibg Surya Peradantha
Lokasi : Pura Agung Besakih, April 2014
Sumber:
1. Babad Bebali Sidakarya druwe Ida Padanda Nyoman Gunung, Griya Gunung Biau, Muncan, Kasalin antuk Drs. I Nyoman Kantun.
2. Prasasti Silsilah Brahmana Keling, Pura Dalem Mutering Jagat Sidakarya.

Komentar
Posting Komentar