Langsung ke konten utama

PASU-YAJNA DALAM KESUSASTRAAN WEDA

 *BENARKAH UPACARA KURBAN SUCI BINATANG (PASU YAJNA) DALAM AGAMA HINDU, BUKAN AJARAN WEDA ?*



*APAKAH MECARU DALAM UPACARA UMAT HINDU DHARMA INDONESIA MERUPAKAN BAGIAN DARI PASU YAJNA DALAM KITAB SUCI WEDA SEBAGAI OTORISASI TERTINGGI DALAM AGAMA HINDU ?*


*Hasil Bedah Buku " PASU - YAJNA DALAM KESUSASTRAAN WEDA " karya Drs. Ida Bagus Putu Suamba, MA., Ph.D*.


*************

*PASU-YAJNA DALAM KESUSASTRAAN WEDA*


Buku ini menguraikan secara jelas konsep, struktur, prosedur dan detail mengenai yajna yang diuraikan di dalam Weda di mana sumber pertama yajna terdapat dalam Rg Weda yang merupakan sumber tertua Kitab Suci Agama Hindu dan Kesusastraan Weda di mana kitab kitab yang di golongkan kedalam Brahmana, Grhiha-sutra, Sautra-sutra dan Dharma-sutra membahas detail Yajna. 


Yajna membentuk bagian yang sangat penting dari kitab suci Weda yang berasal dari kata "yug" berarti mempersembahkan atau "yac" berarti meminta, memohon. Jadi yajna berarti ritual di mana persembahan diberikan atau suatu permintaan,permohonan dibuat. Yajna mempunyai tiga komponen utama yaitu 1. Drawya yaitu materi yang di persembahkan, 2.Dewata yaitu dewa yang akan menerima persembahan dan 3. Tyaga yaitu persembahan nyata atau memberikan kepunyaan yang kita miliki. Kata yajna muncul sebanyak 1184 kali dalam Weda dengan rincian 580 kali dalam Rg Weda, 63 kali dalam Sama Weda, 243 kali dalam Yajur Weda dan 298 kali dalam Atharwa Weda.


Pasu Yajna yaitu kurban suci yang menggunakan binatang sebagai drawya (substan) mempunyai landasannya di dalam Weda di mana jenis jenis Pasu yajna antara lain Pasubandha, Raja-suya, Aswemedha dan sebagainya di mana yajna yajna tersebut mempunyai karakter sendiri seperti dalam Wajapeya semua serba 17. Beberapa jenis binatang yang digunakan sebagai korban yajna yaitu kuda, sapi,kambing,biri biri, harimau, singa, badak, kijang buas dll yang daptar panjang mengenai binatang kelompok ini tercantum di dalam Yajur Weda ( Bab XXIV dan XXV).


Berbagai binatang di sebutkan dalam Weda dijadikan persembahan dalam yajna baik dalam Srauta maupun Smarta. Sekalipun tindakan itu kelihatannya menyebabkan sakit, penderitaan binatang bahkan memilukan tetapi itu dilakukan untuk standard kebaikan yang lebih tinggi dalam tatanan kosmologi dan kosmogoni alam semesta (rta) atau dengan kata lain, himsa dalam yajna dibolehkan dalam Weda dengan maksud untuk menyebabkan kebaikan yang lebih tinggi dalam bingkai Rta, dasarnya cinta kasih,bukan kebencian.


# Sumber literasi lainnya menyatakan HINDU dalam praktek spiritualnya cenderung inklusif yang mayoritas ajarannya di Indonesia adalah Siwa Siddhanta dan akomodatif terhadap budaya local dan toleran teradap keyakinan lain di mana korban suci dengan binatang sudah berdasarkan beberapa isi kitab suci Weda seperti di *YAJUR VEDA, KANDA II, PRAPATHAKA I, yang isinya “Persembahan Khusus Hewan Kurban”.  


Di dalamnya disebutkan yadnya kurbannya adalah kambing yang belum bertanduk. Yajur Veda, Kanda II, Prapathaka 1. 1.2-5 [iii] menyebutkan “Dia yang menginginkan keturunan dan ternak harus mempersembahkan kepada Prajapati seekor kambing tanpa tanduk.” dan juga di Rig Veda HYMN 162, The Horse, verses 2-5, menyebutkan korban persembahan kambing .


Beberapa kutipan sloka Weda lain tentang persembahan daging di bawah ini :


Reg Weda Samhita I.162.11 ( Sruti ):

Apa yg menetes dari daging panggang yg ada di atas panggangan, jangan dibiarkan tumpah di tanah atau di atas rumput. Persembahkanlah itu semuanya kepada para Dewa


Manawadharmasastra V. 39 ( Smerti ) :

Swayambhu telah menciptakan hewan-hewan untuk upacara kurban. Upacara kurban lebih diatur sedemikian rupa untuk kebaikan keseluruhan bumi. Dengan demikian, penyembelihan hewan untuk kurban, bukanlah penyembelihan dalam arti yg lumrah saja.


Manawadharmasastra V.40 ( Smerti ):

Tumbuhan, pohon, dan semak, ternak dan burung, yg telah dipergunalan sebagai kurban, akan lahir dalam tingkatan yg lebih tinggi pada kelahiran yg akan datang.

…semua jalan adalah jalan-Ku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sosok Bapak Sugi Lanus, ahli Filologi, pakar Lontar & ahli Sansekerta di Indonesia

Berpedoman Lontar Jawa Kuno Memperjuangkan Hindu Secara Nasional Tulisan Bapak Sugi Lanus, ahli Filologi, pakar Lontar & ahli Sansekerta di Indonesia Semoga bermanfaat karena berbagi kebaikan takkan pernah merugi dan selalu beruntung. Belajar sejarah itu selalu menarik...termasuk memahami perjalanan Hindu Bali Terimakasih untuk Bapak Sugi Lanus atas kejernihan tulisannya dengan database histori yang kuat.ЁЯЩПЁЯЩПЁЯЩП BERPEDOMAN LONTAR JAWA KUNO MEMPERJUANGKAN HINDU SECARA NASIONAL Tulisan di bawah ditulis oleh seorang pakar restorasi lontar, budayawan dan sangat baik untuk dibaca bagi penyuka sejarah dan pencari kebenaran... Berdasar pada sumber sejarah valid dan bukan katanya-katanya. ====================================== by Sugi Lanus September 1, 2020 — Catatan Harian Sugi Lanus, Anggar Kasih Julungwangi, 1 September 2020 Saya menulis ini untuk sekedar pembuka ingatan kembali, bahwa generasi kakek atau buyut sebelum kemerdekaan menjadi Hindu di Jawa, Lombok, dan Bali, mereka berkit...

Wirama Rajani/Mandamalon

  ᭛см▓᭄смвᬸсмвᬶсмжᬶсмнсмвсмж᭄смвᬸсмоᬸсм▓᭄см▓ᬶсмжсм│ᬸсмнсмж᭄смзсмнсмлᬵᬃсмгсм░ᬶсмп᭞ смЕсмжсмУᬸсм│ᬸсмпᬸсм▓᭄смУсмвᭀсмжсмкᬶсмлсмвсмж᭄смв᭄смвсмв᭄смлᬸсмж᭄смвсмУсмйᬾᬄ᭞ см│смжсмзсмЧсмжᬸсмХ᭄смнсм│смЧ᭄смУ᭄смпсмШсмдᬸсм░смУ᭄смвᬶсмпᬶсмжᬶсмл᭄смйсм░смн᭞ смзсм░ᬸсмзсмвᬶсм░ᬵсм▓᭄смв᭄смнсмУсм▓᭄смвᬸсмзсмЧсмнсмж᭄сммсмжᬶсм│смж᭄смпᬸсмосмвᬶ᭛ Stutinira tan tulus sinahuran param─Бrс╣нa ┼Ъiwa, Anaku huwus katon abimantanta temunta kabeh, Hana panganugrahangkwa Cadu┼Ыakti winimba ┼Ыara, Pa┼Ыupati ┼Ы─Бstra kastu pangaranya nihan wulati. смпᬸсмпᬸсм▓ᬶсмнсм▓ᬂсм│᭄сммсмЧᬶсм░᭄смпсмнсмлᬶсмЪᬶсмо᭄смвсмЧсмзᬸсмм᭄‌смнᬶсмвсмЧсмж᭄᭞ смпсмпсмЧсм░смнᬶсмнсмУᬵсмвсмнсмлсмЧᬶсмб᭄смеᬶсмвсмУᭂсмж᭄смпсмнсммᬂ᭞ смвᬶсмжсмнᬶсмлсм▓ᬂсмесмжсмЬ᭄смЪсммсмвᬶсмУᬂсм░смнсм▓ᬹсмУ᭄см▒᭄смлсмвᬶсмУ᭞ смЧсмжсмосм░смнᬶсмнсм▓ᬵсмв᭄смлсмУсмосмпсмж᭄смпсмнсммᬂсмпᭂсмУсм▓смж᭄᭛ Wuwus ira Sanghyang I┼Ыwara mijil tang apuy ri tangan, Wawang asar─йra k─Бtara mangindhitak─Ыn warayang, Tinarima Sang Dhana├▒jaya tikang sara s┼лksma tika, Nganala sar─лra s─Бtmaka lawan warayang wekasan. смУᬺсмвсмпсмнсм▓ᬂсмесмжсмЬ᭄смЪсммсмлсмжᭂсмл᭄смйсм│смвᬶсмзᬺсмбсмв᭞ смзᬶсмжᬶсм▓смоᬶсмжсмж᭄смосмнсм▓᭄смлсмУᬸсмЭсмвсмж᭄см│смжсмУсмосм│смоᬄ᭞ смпᬶсмжсмнсмпсмнᬄсм▓ᬶсмнᬾсмЧсмЪᬶсмдсмжᬸᬃсмесмнсм░см▓᭄смв᭄смнсмУсмйᭂᬄ᭞ смУᬺсмвсм▓смлсммсмзᬺсммᭀсмХсмдсмдᬶсм▓ᬹсмУ᭄см▒᭄смлсмксмЭсмнсм░ᬶсмп᭛ Kretawara Sang Dana├▒jaya manembah hati praс╣Зata, Pinisalinan laras maku╚Ыa tan hana kalah alah, Winara warah sir├йng aji danur dhara s─Бstra kabeh, Kr─Ыta samayang prayoga dadi s┼лksma Bhat─Бra ├Зiwa. см▓см│см▓ᬸ...

Babad Brahmana Keling

Babad Brahmana Keling atau Purana Pura Gunungsari Babad Brahmana Keling terdiri atas 11 lembar GG lontar. Babad itu bercerita tentang kisah perjalanan Brahmana Keling ketika beliau meninggalkan gunung Bromo pergi ke Bali untuk bertemu dengan kerabatnya yaitu Dalem Watur Enggong yang menjadi raja Gelgel. Sesampainya beliau di Gelgel beliau tidak bisa menemukan raja karena raja Gelgel sedang berada di Besakih. Keberadaan raja Gelgel di Besakih dalam rangka melaksanakan yadnya Nangluk Merana. Karena Brahmana Keling tidak bisa bertemu dengan raja Gelgel maka beliaupun pergi menuju Besakih.  Ketika sampai di Besakih Brahmana Keling memberitahu rakyat Besakih bahwa kedatangan beliau hanya ingin bertemu dengan raja Gelgel karena beliau masih terhitung kerabatnya. Rakyat yang ditanyai beliau segera melaporkan kepada patih Agung bahwa ada seorang gila yang mencari sang raja. Patih Agung segera menemuinya dan melihatnya. Dalam pikiran patih Agung tidak mungkin raja memiliki keluarga gila. Be...