KALANGUAN
Seluruh dunia telah maklum akan hasil gemilang yang dicapai bangsa Indonesia dahulu kala dalam bidang kesenian. Lewat karya- karya seni mereka mengungkapkan ide-ide religiusnya beserta pandangan mereka mengenai manusia dan semesta alam. Monumen- monumen seni bangun seperti Borobudur dan Prambanan dikagumi oleh siapa saja. Karya-karya agung dalam bentuk batu maupun perunggu membuktikan, betapa orang-orang pada masa yang jauh silam itu, mengembangkan cita rasa keindahan sampai tingkat yang tinggi. Bentuk-bentuk lain yang mengungkapkan rasa estetik itu seperti tari-tarian dan musik, menjadi pudar; sekali dipergelarkan, lalu lenyap, dan hanya tradisi artistiknya diteruskan kepada angkatan-angkatan yang akan datang.
Bagaimanapun ada satu bentuk seni lainnya yang terpelihara sampai masa kini, tetapi yang sarananya merupakan suatu rintangan sehingga sukar dinikmati oleh angkatan-angkatan berikut yang tidak terbiasa lagi dengan sarana tersebut, apalagi oleh manusia dari negara lain yang lain pula kebudayaannya. Bagian besar sastra Jawa Kuno berhasil diselematkan dalam perjalanan dari abad ke abad dan kini masih ada, sering kali dalam keadaan yang lebih baik daripada monumen-monumen yang terdiri dari batu-batu. Tetapi lain daripada monumen-monumen batu itu, "monumen- monumen bahasa", seperti warisan ini pernah disebut oleh mereka yang "membangun" monumen-monumen tadi, tidak dapat dirasakan menurut nilai estetiknya, karena kita tidak maklum akan bahasa yang menjadi sarana bagi karya-karya itu.
Pada jaman dahulu di pulau Jawa seni menulis puisi dinamakan kalangwan atau kalangon, yaitu "keindahan", karena dengan menciptakan dan menikmati karya-karya sastra orang terangkat ke luar dirinya sendiri (ekstasis "lango") dan terhanyut dalam mengalami keindahan. Bagian dari warisan kesenian Jawa Kuno itu untuk jangka panjang yang cukup lama praktis tidak diketahui, kecuali di pulau Bali dan karena alasan-alasan yang jelas. Yang diperlukan untuk menikmati karya-karya seni ini ialah pengetahuan mengenai lingkungan kebudayaan yang melahirkan nya, pengetahuan mengenai cara berpikir yang terungkapkan dalam karya-karya itu, mengenai norma-norma estetik yang meru pakan kaidahnya, dan khususnya pengetahuan mendalam mengenai bahasa Jawa Kuno. Penelitian mengenai sastra Jawa Kuno ini hanya dapat merupakan suatu perkenalan pertama dengan bidang Kalangwan yang untuk bagian besar belum digali: yang disajikan di sini hanya suatu pandangan sepintas kilas saja.
Saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus ikhlas kepada siapa saja yang memungkinkan, agar karya ini dapat diterbitkan, khususnya kepada sahabat-sahabat saya David Goodall, Roger Owen dan Dr. Merle Ricklefs yang telah menyumbangkan sekian banyak waktu mereka yang demikian berharga itu untuk memperbaiki bahasa Inggris naskah asli: demikian pula kepada Dr. S.O. Robson dan Nn. M. van Yperen yang membantu saya dengan mengoreksi naskah ini. Saya berhutang budi pula kepada Prof. Th. P. Galestin dan Nn. H.I.R. Hinzler yang menyediakan bahan-bahan berupa foto-foto.
Yogyakarta 1973
P.J. Zoetmulder
Komentar
Posting Komentar