Langsung ke konten utama

Postingan

Ida Pedanda Gede Wayan (Wayahan) Sidemen

  Ida Pedanda Gede Wayan (Wayahan) Sidemen Menolak Lupa Ida Pedanda Gede Wayan (Wayahan) Sidemen adalah Pati TNI AD yang out of mainstream dan berjasa dalam mendirikan banyak Pura Baru. Pura Jagatnatha Denpasar adalah tidak luput dari peran dan jasa beliau sang Mahatma. Tidak berlebihan jika penulis sematkan bahwa beliau salah satu peletak dasar reformasi untuk kemajuan Hindu.   Beliau dikatakan sebagai pelopor dalam banyak bidang. Beliau adalah Kepala Pembinaan Rohani Hindu Kodam XVI Udayana dengan waktu itu berpangkat Letnan Satu Tituler. Beliau adalah Sulinggih Pertama yang berani memakai seragam militer. Hal ini mengundang protes Raja Badung dan Paruman Sulinggih di Denpasar. Awalnya jabatan ini diberikan kepada Ida Pedanda Made Kemenuh, di Singaraja. Tetapi Beliau menolak karena harus berpakaian seragam militer. Beliau menjadi Ketua Parisada Hindu Bali (sekarang Parisada Hindu Dharma Indonesia) yang pertama. Beliau yang mengusulkan agar dibangun Pura Jagatnatha di Kota De...

Buddhakeling Pusat Brahmana Buddha (Bagian II)

Buddhakeling Pusat Brahmana Buddha (Bagian II)  Lebih lanjut diuraikan: Ah-kara wijaksara Danghyang Wairocana, Hum-kara wijaksara Danghyang Amoghasidhi, Tram-kara wijaksara Danghyang Ratna Sambhawa, Hrih-kara wijaksara Danghyang Amithaba, A-kara wijaksara Danghyang Amoghasidhi. Nahan wijaksara mijilaken  Panca Buddha.  Ahkara adalah: aksara suci Danghyang Wairocana, Hum-kara adakah aksara suci Danghyang Amoghasidhi, Tram-kara adalah aksara suci Danghyang Ratna Sambhawa, Hrih-kara adalah aksara suci Danghyang Amithaba, A-kara adalah aksara suci Danghyang Amoghasidhi. Dalam Siwa-Buddha Tatwa dinyatakan bahwa Hyang Siwa maupun Hyang Buddha berstana di tengah-tengah bunga padma  dengan kelopaknya yang menunjukkan arah mata angin dan didiami oleh para Dewata yang tiada lain adalah badan atau manifestasi Beliau sendiri.  Disini semakin jelas posisi Padmasana bagi agama Siwa-Buddha. Dalam tradisi keberaksaraan di Buddhakeling ajaran-ajaran suci tersebut mendapatkan pen...

Buddhakeling Pusat Brahmana Buddha di Bali (Bagian I)

Buddhakeling Pusat Brahmana Buddha di Bali (Bagian I)  " Nda nahan ri patungga-tungalan ikang bhuwana, wihikananta ring tuhu ngwang  Wairocana  Buddhamurti  Siwamurti pinakaguru ning jagat kabeh.  Nahan donkwi  ingaran Bhatara Guru kaprakasita teka ring sarat kabeh Anghing byapaka ring samasthabhuwananaku  juga warawisesadewata" Kakawin Desawarnana/ Negarakertagama/ 23.4// Artinya :  Demikianlah spesifikasi dunia - kamu harus mengetahuinya dengan benar Aku adalah Wairocana manifestasi dari keduanya baik Buddha maupun Siwa dan dipandang sebagai Gurunya Alam Semesta Itulah sebabnya Aku disebut : Bhatara Guru, dikenal luas di seluruh dunia Tetapi adalah Aku yang meresapi seluruh dunia juga para Dewata yang paling tinggi.  Kisah desa Buddhakeling dimulai ketika masa pemerintahan Raja Kerajaan Bali abad XV Ida Dalem Sri Waturenggong yang merupakan Raja yang sangat berpengaruh dalam bidang, seni budaya, sastra agama. Pengaruhnya sampai ke Puger, Bl...

AJARAN WEDA SANGAT MENGHORMATI BUDAYA LOKAL

AJARAN WEDA SANGAT MENGHORMATI BUDAYA LOKAL  Oleh : Ida Pedanda Gede Made Gunung Mengangkat dan Memaknai dengan Tattwa Saya mempunyai pengalaman yang sangat indah, sewaktu saya dapat kesempatan berpergian keluar negeri, yaitu ke negeri Bharata (India). Di awal pikiran saya membayangkan bahwa saudara umat Hindu di India di dalam melaksanakan ajaran agamanya, sama dengan tata cara kita melaksanakan ajaran Agama Hindu di Bali. Ceritanya begini; Hari pertama saya sampai di India, sore harinya rombongan saya diajak mengikuti upacara penghormatan kepada Dewi Gangga, tempatnya di Hari Dwar tepat di pinggir sungai gangga. Semua anggota rombongan sangat setuju termasuk saya. Singkat cerita, sampailah di tempat upacara akan dilaksanakan. Saya sendiri jadi bingung, karena satu pun alat-alat upacara yang seperti di Bali tidak bisa saya temui. Untungnya saya tidak nanya kesana kemari atas perbedaan yang saya lihat. Jadi saya diam saja mengamati dan mengikuti sesuai dengan petunjuk yang di kuman...

Ida Bhetara Lebar Ida Pedanda Gde Made Keniten (1908-1998) Sang Wreddha Pandita Subrata

 Ida Bhetara Lebar Ida Pedanda Gde Made Keniten ( 1908-1998) Sang Wreddha Pandita Subrata "Jroning Wwe parimana nala gaganging tunjung dawut kaweruhi/ Yan ring jatikula pracara winaya mwang sila karmenggita/ Yan ring Pandita ring ksama mudita santosapeksa ris mardawa/ Sang sastra jnana wuwusniramreta padanyangde satusteng praja// Untuk mengetahui dalamnya air, dapat dilakukan dengan mencabut batang teratai/ Kebangsawanan seseorang nampak pada tingkah laku dan tabiatnya/ Tanda seorang Wiku/ Pandita adalah kesabarannya, keiklasan, kedamaian, serta ketenangannya/ Sedangkan seorang yang telah mumpuni dalam pemahaman Sastrasuci agama kata-katanya bagaikan Amerta ( air  suci kehidupan) yang senantiasa menyenangkan masyarakat// Kakawin Nitisastra 1.6  Perjalanan hidup seorang Pandita memang penuh nilai-nilai spiritual. Untuk mengungkapkannya diperlukan pengetahuan yang luas serta mendalam tentang dunia kependetaan. Seorang Pedanda adalah seorang  Sadhaka artinya dia yang me...

AKSARA JAWA

"AKSARA JAWA"    Diakui atau tidak,... aksara Jawa merupakan alfabet paling unik di dunia ini.  Ditinjau dari jumlah, terdiri dari  20 jenis huruf, ... yang melambangkan 20 jari manusia. 🤚 Jari merupakan alat hitung manusia yang paling sederhana,  dan hal ini melambangkan bahwa dalam menjalani kehidupannya, org. Jawa selalu menggunakan perhitungan yang matang sebelum melangkah. ⚡ Deretan ke 20 aksara Jawa tersebut yaitu adalah:   Ha Na Ca Ra Ka   Da Ta Sa Wa La   Pa Dha Ja Ya Nya.   Ma Ga Ba Tha Nga. ⚡ Entah kebetulan atau disengaja, deretan huruf di atas ternyata bukan  deretan huruf tanpa makna, tetapi   membentuk 4 kalimat yang mengandung filosofi luar biasa, yaitu : 👍 Melambangkan perjalanan hidup manusia ➡ Ha-na-ca-ra-ka : Jika dibaca, Hana Caraka akan bermakna : ”Ada utusan". Siapa yang dimaksud dengan  utusan tersebut....?  Tidak lain adalah : manusia Berbeda dengan  pendpt umum, bahwa utusan Tuhan hanya...

KENAPA PEDANDA ŚIWA DI BALI (JUGA) MEMUJA NĀRĀYAṆA?

KENAPA PEDANDA ŚIWA DI BALI (JUGA) MEMUJA NĀRĀYAṆA ? Oleh Sugi Lanus —Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Desember 2021 1. Salah satu lontar yang paling disucikan di kalangan Pedanda Śiwa di Bali adalah lontar pustaka suci Vedaśīrṣa-Nārāyaṇopaniṣad-Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa . Dengan sangat jelas disebutkan: prathamaḥ khaṇḍaḥ . nārāyaṇāt sarvacetanācetanajanma. oṃ atha puruṣo ha vai nārāyaṇo'kāmayata prajāḥ sṛjeyeti . nārāyaṇātprāṇo jāyate . manaḥ sarvendriyāṇi ca . khaṃ vāyurjyotirāpaḥ pṛthivī viśvasya dhāriṇī . nārāyaṇād brahmā jāyate . nārāyaṇād rudro jāyate . nārāyaṇādindro jāyate, nārāyaṇātprajāpatayaḥ prajāyante . nārāyaṇāddvādaśādityā rudrā vasavaḥ sarvāṇi ca chandāgͫsi . nārāyaṇādeva samutpadyante, nārāyaṇe pravartante . nārāyaṇe pralīyante .. Disebutkan dalam mantra ini vaikuṇṭhabhuvanalokaṃ atau  “vaikuṇṭha-bhuvana-lokaṃ” sebagai salah satu acuan dipersamakan dengan dengan Śiva-laya, Sūnya-laya atau Kaivalya sebagaimana disebutkan dalam lontar-lontar Siddhānta yang diwarisi di Bali....