Langsung ke konten utama

Postingan

Creating a presentation for stakeholders.

 This reading provides tips to consider when creating a presentation for stakeholders. As a reminder, presentations are a great way to share research insights with people in your organization and external parties. There are many digital tools you can use to create a presentation, like Google Slides, Microsoft PowerPoint, and Apple Keynote.  Provide an overview  Include a short roadmap or "table of contents" at the beginning of your presentation, so your audience knows what to expect throughout the presentation. Your roadmap should almost be like a checklist that the audience can follow along, so they have a vision for how much content is left to cover.  In addition, one slide should feature an overview of the content you’re presenting, also known as an executive summary. It’s kind of like sharing your conclusion or biggest takeaways at the beginning of the presentation. Be sure to discuss how your research impacts the big picture, like how the product would support t...

Delivering a presentation

If you’re intimidated by giving presentations, you’re not alone. Public speaking makes many people feel nervous. But as with most things, the more you do it, the more natural it will feel. With time and practice, you’ll become more confident in your public speaking skills. In this reading, you’ll learn some tips for leading great presentations that keep your audience engaged. Tip 1: Speak clearly and slowly If you’re  nervous while presenting, you might speak too fast. You’ll want your audience to be able to clearly understand everything you say. So, it helps to pace yourself while you speak. You might even consider tapping your toe within your shoe to keep a rhythm while you speak. Tip 2: Allow for pauses Pauses display confidence and help set the pace for your presentation. Some ideal times to stop for pauses include when you pose a question to the audience, or when you transition to a new section of your presentation. Adding a meaningful pause is also a great way to make sure th...

Kalanguan, Tradisi Jawa Kuno Lestari Di Bali

 KALANGUAN Seluruh dunia telah maklum akan hasil gemilang yang dicapai bangsa Indonesia dahulu kala dalam bidang kesenian. Lewat karya- karya seni mereka mengungkapkan ide-ide religiusnya beserta pandangan mereka mengenai manusia dan semesta alam. Monumen- monumen seni bangun seperti Borobudur dan Prambanan dikagumi oleh siapa saja. Karya-karya agung dalam bentuk batu maupun perunggu membuktikan, betapa orang-orang pada masa yang jauh silam itu, mengembangkan cita rasa keindahan sampai tingkat yang tinggi. Bentuk-bentuk lain yang mengungkapkan rasa estetik itu seperti tari-tarian dan musik, menjadi pudar; sekali dipergelarkan, lalu lenyap, dan hanya tradisi artistiknya diteruskan kepada angkatan-angkatan yang akan datang. Bagaimanapun ada satu bentuk seni lainnya yang terpelihara sampai masa kini, tetapi yang sarananya merupakan suatu rintangan sehingga sukar dinikmati oleh angkatan-angkatan berikut yang tidak terbiasa lagi dengan sarana tersebut, apalagi oleh manusia dari negara l...

Ida Sangkhya Sang Brahmana Keling

  "Ong Awighnam Astu Namo Siddham.. Ong Sarwwa Wighna Winasanam" Mogi tan kakeneng upadrawa. Akasamaning ulun Paduka Bhatara. ------ Aku adalah Ida Sangkhya, sang Brahmana Keling. Aku adalah putra dari Danghyang Kayumanis. Asrama (Grha) ku di Keling, Jawadwipa. Aku pernah mendengar keindahan Bali Dwipa, kemakmurannya yang luar biasa, karena diperintah oleh saudaraku, Sri Waturenggong yang menjadi Raja Bali. Ketika itu pula, pamanku Danghyang Nirartha ada di Bali sebagai Purohita (pendeta kerajaan) mendamping Sri Waturenggong. Lengkaplah sudah Bali dipimpin raja dan pendeta utama yang tiada tara. Maka dari itu, aku ingin sekali mengunjungi mereka berdua di Bali. Saat aku tiba di Bali, di palebahan Istana Sweca Pura, Gelgel.. aku tak menjumpai Sri Waturenggong dan pamanku Danghyang Nirartha ada disana. Oleh penjaga istana, beliau berdua sedang ada di Pura Agung Besakih, mempersiapkan upacara besar Nangluk Merana. Segeralah kususul mereka, rinduku kepada saudara dan pamanku tak ...

PASU-YAJNA DALAM KESUSASTRAAN WEDA

 *BENARKAH UPACARA KURBAN SUCI BINATANG (PASU YAJNA) DALAM AGAMA HINDU, BUKAN AJARAN WEDA ?* *APAKAH MECARU DALAM UPACARA UMAT HINDU DHARMA INDONESIA MERUPAKAN BAGIAN DARI PASU YAJNA DALAM KITAB SUCI WEDA SEBAGAI OTORISASI TERTINGGI DALAM AGAMA HINDU ?* *Hasil Bedah Buku " PASU - YAJNA DALAM KESUSASTRAAN WEDA " karya Drs. Ida Bagus Putu Suamba, MA., Ph.D*. ************* *PASU-YAJNA DALAM KESUSASTRAAN WEDA* Buku ini menguraikan secara jelas konsep, struktur, prosedur dan detail mengenai yajna yang diuraikan di dalam Weda di mana sumber pertama yajna terdapat dalam Rg Weda yang merupakan sumber tertua Kitab Suci Agama Hindu dan Kesusastraan Weda di mana kitab kitab yang di golongkan kedalam Brahmana, Grhiha-sutra, Sautra-sutra dan Dharma-sutra membahas detail Yajna.  Yajna membentuk bagian yang sangat penting dari kitab suci Weda yang berasal dari kata "yug" berarti mempersembahkan atau "yac" berarti meminta, memohon. Jadi yajna berarti ritual di mana perse...

Babad Brahmana Keling

Babad Brahmana Keling atau Purana Pura Gunungsari Babad Brahmana Keling terdiri atas 11 lembar GG lontar. Babad itu bercerita tentang kisah perjalanan Brahmana Keling ketika beliau meninggalkan gunung Bromo pergi ke Bali untuk bertemu dengan kerabatnya yaitu Dalem Watur Enggong yang menjadi raja Gelgel. Sesampainya beliau di Gelgel beliau tidak bisa menemukan raja karena raja Gelgel sedang berada di Besakih. Keberadaan raja Gelgel di Besakih dalam rangka melaksanakan yadnya Nangluk Merana. Karena Brahmana Keling tidak bisa bertemu dengan raja Gelgel maka beliaupun pergi menuju Besakih.  Ketika sampai di Besakih Brahmana Keling memberitahu rakyat Besakih bahwa kedatangan beliau hanya ingin bertemu dengan raja Gelgel karena beliau masih terhitung kerabatnya. Rakyat yang ditanyai beliau segera melaporkan kepada patih Agung bahwa ada seorang gila yang mencari sang raja. Patih Agung segera menemuinya dan melihatnya. Dalam pikiran patih Agung tidak mungkin raja memiliki keluarga gila. Be...

MENGENAL KALENDER JAWA

MENGENAL KALENDER JAWA. (sekedar mengingatkan saja) Kalender Jawa  yang keberadaannya sudah diakui UNESCO dengan sebutan Anno Javanologi adalah merupakan sebuah kalender hasil kolaborasi antara kalender Saka dengan kalender Hijriah. Sebagaimana diketahui bahwa kalender Saka memiliki perhitungan dengan mendasarkan perputaran matahari (solar system) dan perputaran bulan (lunar system) secara komprehensif. Sementara itu didalam kalender Hijriah sebagai kalender komariah merupakan kalender yang penghitungannya berdasarkan pada perputaran bulan. Penggunaan kalender Saka seiring dengan perkembangan Hindu di bumi Nusantara diawali kerajaan Kutai pada abad ke IV.  Hal ini ditengarai dengan penunjukan waktu pada yupa (tugu) peninggalan sejarah. Demikian pula ketika perkembangan Hindu mulai merambah ke Jawa yang dimulai dari Jawa Barat pada abad ke 7. Hal ini dapat disaksikan adanya prasastri Citereum, Kebon Kopi dlsb.  Selanjutnya masuk Jawa Tengah terlihat pada prasasti Canggal d...