Langsung ke konten utama

Postingan

Kalanguan, Tradisi Jawa Kuno Lestari Di Bali

 KALANGUAN Seluruh dunia telah maklum akan hasil gemilang yang dicapai bangsa Indonesia dahulu kala dalam bidang kesenian. Lewat karya- karya seni mereka mengungkapkan ide-ide religiusnya beserta pandangan mereka mengenai manusia dan semesta alam. Monumen- monumen seni bangun seperti Borobudur dan Prambanan dikagumi oleh siapa saja. Karya-karya agung dalam bentuk batu maupun perunggu membuktikan, betapa orang-orang pada masa yang jauh silam itu, mengembangkan cita rasa keindahan sampai tingkat yang tinggi. Bentuk-bentuk lain yang mengungkapkan rasa estetik itu seperti tari-tarian dan musik, menjadi pudar; sekali dipergelarkan, lalu lenyap, dan hanya tradisi artistiknya diteruskan kepada angkatan-angkatan yang akan datang. Bagaimanapun ada satu bentuk seni lainnya yang terpelihara sampai masa kini, tetapi yang sarananya merupakan suatu rintangan sehingga sukar dinikmati oleh angkatan-angkatan berikut yang tidak terbiasa lagi dengan sarana tersebut, apalagi oleh manusia dari negara l...

Ida Sangkhya Sang Brahmana Keling

  "Ong Awighnam Astu Namo Siddham.. Ong Sarwwa Wighna Winasanam" Mogi tan kakeneng upadrawa. Akasamaning ulun Paduka Bhatara. ------ Aku adalah Ida Sangkhya, sang Brahmana Keling. Aku adalah putra dari Danghyang Kayumanis. Asrama (Grha) ku di Keling, Jawadwipa. Aku pernah mendengar keindahan Bali Dwipa, kemakmurannya yang luar biasa, karena diperintah oleh saudaraku, Sri Waturenggong yang menjadi Raja Bali. Ketika itu pula, pamanku Danghyang Nirartha ada di Bali sebagai Purohita (pendeta kerajaan) mendamping Sri Waturenggong. Lengkaplah sudah Bali dipimpin raja dan pendeta utama yang tiada tara. Maka dari itu, aku ingin sekali mengunjungi mereka berdua di Bali. Saat aku tiba di Bali, di palebahan Istana Sweca Pura, Gelgel.. aku tak menjumpai Sri Waturenggong dan pamanku Danghyang Nirartha ada disana. Oleh penjaga istana, beliau berdua sedang ada di Pura Agung Besakih, mempersiapkan upacara besar Nangluk Merana. Segeralah kususul mereka, rinduku kepada saudara dan pamanku tak ...

PASU-YAJNA DALAM KESUSASTRAAN WEDA

 *BENARKAH UPACARA KURBAN SUCI BINATANG (PASU YAJNA) DALAM AGAMA HINDU, BUKAN AJARAN WEDA ?* *APAKAH MECARU DALAM UPACARA UMAT HINDU DHARMA INDONESIA MERUPAKAN BAGIAN DARI PASU YAJNA DALAM KITAB SUCI WEDA SEBAGAI OTORISASI TERTINGGI DALAM AGAMA HINDU ?* *Hasil Bedah Buku " PASU - YAJNA DALAM KESUSASTRAAN WEDA " karya Drs. Ida Bagus Putu Suamba, MA., Ph.D*. ************* *PASU-YAJNA DALAM KESUSASTRAAN WEDA* Buku ini menguraikan secara jelas konsep, struktur, prosedur dan detail mengenai yajna yang diuraikan di dalam Weda di mana sumber pertama yajna terdapat dalam Rg Weda yang merupakan sumber tertua Kitab Suci Agama Hindu dan Kesusastraan Weda di mana kitab kitab yang di golongkan kedalam Brahmana, Grhiha-sutra, Sautra-sutra dan Dharma-sutra membahas detail Yajna.  Yajna membentuk bagian yang sangat penting dari kitab suci Weda yang berasal dari kata "yug" berarti mempersembahkan atau "yac" berarti meminta, memohon. Jadi yajna berarti ritual di mana perse...

Babad Brahmana Keling

Babad Brahmana Keling atau Purana Pura Gunungsari Babad Brahmana Keling terdiri atas 11 lembar GG lontar. Babad itu bercerita tentang kisah perjalanan Brahmana Keling ketika beliau meninggalkan gunung Bromo pergi ke Bali untuk bertemu dengan kerabatnya yaitu Dalem Watur Enggong yang menjadi raja Gelgel. Sesampainya beliau di Gelgel beliau tidak bisa menemukan raja karena raja Gelgel sedang berada di Besakih. Keberadaan raja Gelgel di Besakih dalam rangka melaksanakan yadnya Nangluk Merana. Karena Brahmana Keling tidak bisa bertemu dengan raja Gelgel maka beliaupun pergi menuju Besakih.  Ketika sampai di Besakih Brahmana Keling memberitahu rakyat Besakih bahwa kedatangan beliau hanya ingin bertemu dengan raja Gelgel karena beliau masih terhitung kerabatnya. Rakyat yang ditanyai beliau segera melaporkan kepada patih Agung bahwa ada seorang gila yang mencari sang raja. Patih Agung segera menemuinya dan melihatnya. Dalam pikiran patih Agung tidak mungkin raja memiliki keluarga gila. Be...

MENGENAL KALENDER JAWA

MENGENAL KALENDER JAWA. (sekedar mengingatkan saja) Kalender Jawa  yang keberadaannya sudah diakui UNESCO dengan sebutan Anno Javanologi adalah merupakan sebuah kalender hasil kolaborasi antara kalender Saka dengan kalender Hijriah. Sebagaimana diketahui bahwa kalender Saka memiliki perhitungan dengan mendasarkan perputaran matahari (solar system) dan perputaran bulan (lunar system) secara komprehensif. Sementara itu didalam kalender Hijriah sebagai kalender komariah merupakan kalender yang penghitungannya berdasarkan pada perputaran bulan. Penggunaan kalender Saka seiring dengan perkembangan Hindu di bumi Nusantara diawali kerajaan Kutai pada abad ke IV.  Hal ini ditengarai dengan penunjukan waktu pada yupa (tugu) peninggalan sejarah. Demikian pula ketika perkembangan Hindu mulai merambah ke Jawa yang dimulai dari Jawa Barat pada abad ke 7. Hal ini dapat disaksikan adanya prasastri Citereum, Kebon Kopi dlsb.  Selanjutnya masuk Jawa Tengah terlihat pada prasasti Canggal d...

Tri Aksara

Dharmawacana Skadrstya (Wejangan Sekilas) Om Swastyastu. "TRI AKSARA" Oleh I Ketut Subagiasta IAHN-TP Palangka Raya.      Hari Budha Pon Pujut, Penanggal Kutus Sasih Kasa Warsa Saka 1944. Sedharma, Para Pinandita sekalian, semoga sami sehat rahayu bahagia dan sejahtra. Sanian saat ini dengan topik Tri Aksara. Secara filosofis Tri Aksara artinya tiga aksara atau tiga huruf dalam agama Hindu.  Tiga aksara tersebut, antara lain aksara atau huruf: A, U, M. Sering juga dituliskan dengan anuswara ng, sering ditulis Ang, Ung, dan Mang. Huruf A, U, dan M atau Ang,  Ung, dan Mang setelah disandikan atau disatukan atau digabungkan menjadi satu, yakni: A+U+M=AUM atau A+U=O, selanjutnya O+M= OM, Sedangkan aksara ANG+UNG+MANG=ONG. Aksara OM atau ONG inilah disebut dengan Aksara Pranawa. Secara filosofis aksara Pranama berupa OM atau ONG inilah sebagai Aksara Suci atau sebagai Aksara untuk mengawali penyebutan nama Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa, atau sebu...

LONTAR SAIVA SIDDHANTA TERTUA

LONTAR SAIVA SIDDHANTA TERTUA Ini adalah salah satu manuskrip LONTAR Sansekerta tertua, bertahun 828 Masehi, ditemukan di Nepal, sekarang disimpan di Cambridge University Library.  LONTAR ini berisi ajaran Hindu, lebih khusus yang terkait Siwa, Saiva Siddhanta, sebuah ajaran Tantra Esoterik, berisi beberapa ayat Yajurveda. Menarik untuk membandingkan Saiva Siddhanta di Bali dan Nepal. Tulisan di bawah ini sedikit bercerita tentang Hindu di Nepal, negeri ditemukannya manuskrip tersebut. ----------((((()))))))------------ *HINDU BALI LEBIH MIRIP HINDU NEPAL* — _Catatan Harian Sugi Lanus, 2 Juni 2022._ Oleh *Sugi Lanus* Saya sepakat 1000% dengan pendapat yang mengatakan bahwa praktek beragama dan ritual Hindu Bali ya Hindu Bali, berbeda dengan Hindu di India.  Tetapi, jika ada pertanyaan kenapa Hindu Bali berbeda dengan Hindu India? Saya akan mengajak si penanya untuk “jalan-jalan” ke Nepal. _*Kenapa ke Nepal?*_ Dengan membandingkan Hindu di Nepal dan Hindu di India, kita akan pa...