Langsung ke konten utama

Postingan

Kehilangan

Pernahkah anda merasakan kehilangan… yang begitu sunyi, hingga dunia terasa berhenti? Video ini bukan sekadar tentang duka. Ini adalah perjalanan batin—tentang memahami bahwa kehilangan bukanlah akhir. Dalam filosofi Hindu/Weda, jiwa (Atman) tidak pernah mati. Ia hanya berpindah, melanjutkan perjalanan yang lebih panjang dari yang bisa kita lihat. Melalui visual yang tenang dan narasi yang mendalam, video ini mengajakmu: ✨ Menerima kehilangan dengan cara yang berbeda ✨ Memahami makna kehidupan dan kematian ✨ Menemukan kedamaian di tengah rasa rindu Jika anda sedang berduka, merasa hampa, atau merindukan seseorang… mungkin video ini bisa menemanimu—dalam diam. 🌿 Karena pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar hilang. Hanya berubah… dan tetap hidup dalam cara yang tak terlihat. — 🕊️ Tonton sampai selesai untuk merasakan perjalanan utuhnya https://youtu.be/vjY_zY4tmRI 💬 Bagikan di komentar: untuk siapa anda merindukan hari ini ❤️ Jangan lupa subscribe untuk konten reflektif lainnya...

Mengenal Ulap-ulap dalam Tradisi Bali

  Om swastyastu, Pernahkah Anda memperhatikan selembar kain putih berisi gambar dan aksara unik yang dipasang pada bangunan baru di Bali?,. Itulah **Ulap-ulap**, unsur kebudayaan Bali yang menyimpan makna teologis mendalam dan peran vital dalam setiap upacara *Melaspas*,. Dalam video ini, kita akan membedah secara tuntas apa sebenarnya fungsi dan kekuatan di balik selembar kain sakral ini: * **Bukan Sekadar Tulisan:** Secara etimologi, *ulap-ulap* berasal dari kata "lambai" atau memanggil. Ini adalah media suci untuk **memanggil kekuatan Ida Sang Hyang Widhi Wasa** agar memberikan "jiwa" atau *urip* pada sebuah bangunan,. * **Simbol Keseimbangan:** Ulap-ulap berfungsi sebagai jembatan antara dimensi sakral (*niskala*) dan profan (*sekala*), memastikan bangunan tersebut layak dan aman untuk ditempati,. * **Rahasia Aksara Modre:** Mengapa pembuatannya tidak boleh sembarangan? Kita akan membahas mengapa hanya mereka yang memiliki *penugrahan* (seperti Sulinggih...

Kita Harus Menikah 4 kali !!!

  Om swastyastu semeton sami, Apakah pernikahan Anda selama ini hanya sekadar rutinitas fisik atau status sosial? Tahukah Anda bahwa pernikahan sebenarnya adalah jalan sakral untuk mengalami penyatuan rasa dengan Tuhan?. Dalam video ini, kita akan membedah filosofi mendalam tentang **Pernikahan Jiwa** dan bagaimana transformasi kesadaran dimulai dari dalam rumah. Kita tidak hanya bicara soal cinta romantis, tetapi tentang perjalanan evolusi manusia yang terjadi setiap hari di depan mata kita. **Apa yang akan Anda pelajari dalam video ini?** * **4 Tingkatan Pernikahan:** Mengapa banyak pasangan gagal di tahap "Pernikahan Pikiran & Perasaan" meskipun "Pernikahan Tubuh" mereka berhasil?. * **Rahim Sebagai "Big Bang" Mini:** Penjelasan ilmiah dan spiritual tentang *Zinc Spark* (percikan cahaya) saat pembuahan dan bagaimana janin adalah ringkasan evolusi jutaan tahun dalam 9 bulan. * **Pitri & Matri Dewa Bhawa:** Mengapa orang tua harus menjad...

Lontar Wariga Belog – Sains Intuitif Kearifan Ekologis Bali

  Lontar Wariga Belog – Sains Intuitif Kearifan Ekologis Bali Teks Lontar Wariga Belog [Lempir 1a – Purwaka] Om Awighnamastu Nama Siddham. Nihan linging Wariga Belog , kagawe dening Sang Weruh Sastra mangda dadi sesuluh ring jadma sane nenten pratyaksa ring itungan tithi mwang lintang . Wariga puniki mabinayan ring wariga agung, apan iki ngangge ‘ Rupa Alam ’ dadi ukuran. Sapa sirah ugi nuhutin pituduh iki, nenten pacang keni sengkala, apan alam nenten linyok ring pituduh Sang Hyang Widhi . Artinya: Inilah isi Wariga Belog, dibuat oleh Sang Ahli Sastra agar menjadi petunjuk bagi orang yang tidak memahami perhitungan tithi dan lintang. Wariga ini berbeda dengan wariga agung, karena ini menggunakan ‘Rupa Alam’ sebagai ukuran. Siapa pun yang mengikuti petunjuk ini, tidak akan terkena musibah, karena alam tidak menyimpang dari petunjuk Sang Hyang Widhi. [Lempir 1b – Dasar Pengamatan Bulan] Iti pusering Wariga Belog : ‘Tingalin Rupa Candra ’. Yan Candra (Bulan) magenah ring wetan (timu...

Wirama Rajani/Mandamalon

  ᭛ᬲ᭄ᬢᬸᬢᬶᬦᬶᬭᬢᬦ᭄ᬢᬸᬮᬸᬲ᭄ᬲᬶᬦᬳᬸᬭᬦ᭄ᬧᬭᬫᬵᬃᬣᬰᬶᬯ᭞ ᬅᬦᬓᬸᬳᬸᬯᬸᬲ᭄ᬓᬢᭀᬦᬪᬶᬫᬢᬦ᭄ᬢ᭄ᬢᬢ᭄ᬫᬸᬦ᭄ᬢᬓᬩᬾᬄ᭞ ᬳᬦᬧᬗᬦᬸᬕ᭄ᬭᬳᬗ᭄ᬓ᭄ᬯᬘᬤᬸᬰᬓ᭄ᬢᬶᬯᬶᬦᬶᬫ᭄ᬩᬰᬭ᭞ ᬧᬰᬸᬧᬢᬶᬰᬵᬲ᭄ᬢ᭄ᬭᬓᬲ᭄ᬢᬸᬧᬗᬭᬦ᭄ᬬᬦᬶᬳᬦ᭄ᬯᬸᬮᬢᬶ᭛ Stutinira tan tulus sinahuran paramārṭa Śiwa, Anaku huwus katon abimantanta temunta kabeh, Hana panganugrahangkwa Caduśakti winimba śara, Paśupati śāstra kastu pangaranya nihan wulati. ᬯᬸᬯᬸᬲᬶᬭᬲᬂᬳ᭄ᬬᬗᬶᬰ᭄ᬯᬭᬫᬶᬚᬶᬮ᭄ᬢᬗᬧᬸᬬ᭄‌ᬭᬶᬢᬗᬦ᭄᭞ ᬯᬯᬗᬰᬭᬶᬭᬓᬵᬢᬭᬫᬗᬶᬡ᭄ᬥᬶᬢᬓᭂᬦ᭄ᬯᬭᬬᬂ᭞ ᬢᬶᬦᬭᬶᬫᬲᬂᬥᬦᬜ᭄ᬚᬬᬢᬶᬓᬂᬰᬭᬲᬹᬓ᭄ᬱ᭄ᬫᬢᬶᬓ᭞ ᬗᬦᬮᬰᬭᬶᬭᬲᬵᬢ᭄ᬫᬓᬮᬯᬦ᭄ᬯᬭᬬᬂᬯᭂᬓᬲᬦ᭄᭛ Wuwus ira Sanghyang Iśwara mijil tang apuy ri tangan, Wawang asarĩra kātara mangindhitakěn warayang, Tinarima Sang Dhanañjaya tikang sara sūksma tika, Nganala sarīra sātmaka lawan warayang wekasan. ᬓᬺᬢᬯᬭᬲᬂᬥᬦᬜ᭄ᬚᬬᬫᬦᭂᬫ᭄ᬩᬳᬢᬶᬧᬺᬡᬢ᭞ ᬧᬶᬦᬶᬲᬮᬶᬦᬦ᭄ᬮᬭᬲ᭄ᬫᬓᬸᬝᬢᬦ᭄ᬳᬦᬓᬮᬳᬮᬄ᭞ ᬯᬶᬦᬭᬯᬭᬄᬲᬶᬭᬾᬗᬚᬶᬤᬦᬸᬃᬥᬭᬰᬲ᭄ᬢ᭄ᬭᬓᬩᭂᬄ᭞ ᬓᬺᬢᬲᬫᬬᬧᬺᬬᭀᬕᬤᬤᬶᬲᬹᬓ᭄ᬱ᭄ᬫᬪᬝᬭᬰᬶᬯ᭛ Kretawara Sang Danañjaya manembah hati praṇata, Pinisalinan laras makuța tan hana kalah alah, Winara warah siréng aji danur dhara sāstra kabeh, Krěta samayang prayoga dadi sūksma Bhatāra Çiwa. ᬲᬳᬲᬸ...

Creating a presentation for stakeholders.

 This reading provides tips to consider when creating a presentation for stakeholders. As a reminder, presentations are a great way to share research insights with people in your organization and external parties. There are many digital tools you can use to create a presentation, like Google Slides, Microsoft PowerPoint, and Apple Keynote.  Provide an overview  Include a short roadmap or "table of contents" at the beginning of your presentation, so your audience knows what to expect throughout the presentation. Your roadmap should almost be like a checklist that the audience can follow along, so they have a vision for how much content is left to cover.  In addition, one slide should feature an overview of the content you’re presenting, also known as an executive summary. It’s kind of like sharing your conclusion or biggest takeaways at the beginning of the presentation. Be sure to discuss how your research impacts the big picture, like how the product would support t...

Delivering a presentation

If you’re intimidated by giving presentations, you’re not alone. Public speaking makes many people feel nervous. But as with most things, the more you do it, the more natural it will feel. With time and practice, you’ll become more confident in your public speaking skills. In this reading, you’ll learn some tips for leading great presentations that keep your audience engaged. Tip 1: Speak clearly and slowly If you’re  nervous while presenting, you might speak too fast. You’ll want your audience to be able to clearly understand everything you say. So, it helps to pace yourself while you speak. You might even consider tapping your toe within your shoe to keep a rhythm while you speak. Tip 2: Allow for pauses Pauses display confidence and help set the pace for your presentation. Some ideal times to stop for pauses include when you pose a question to the audience, or when you transition to a new section of your presentation. Adding a meaningful pause is also a great way to make sure th...

Kalanguan, Tradisi Jawa Kuno Lestari Di Bali

 KALANGUAN Seluruh dunia telah maklum akan hasil gemilang yang dicapai bangsa Indonesia dahulu kala dalam bidang kesenian. Lewat karya- karya seni mereka mengungkapkan ide-ide religiusnya beserta pandangan mereka mengenai manusia dan semesta alam. Monumen- monumen seni bangun seperti Borobudur dan Prambanan dikagumi oleh siapa saja. Karya-karya agung dalam bentuk batu maupun perunggu membuktikan, betapa orang-orang pada masa yang jauh silam itu, mengembangkan cita rasa keindahan sampai tingkat yang tinggi. Bentuk-bentuk lain yang mengungkapkan rasa estetik itu seperti tari-tarian dan musik, menjadi pudar; sekali dipergelarkan, lalu lenyap, dan hanya tradisi artistiknya diteruskan kepada angkatan-angkatan yang akan datang. Bagaimanapun ada satu bentuk seni lainnya yang terpelihara sampai masa kini, tetapi yang sarananya merupakan suatu rintangan sehingga sukar dinikmati oleh angkatan-angkatan berikut yang tidak terbiasa lagi dengan sarana tersebut, apalagi oleh manusia dari negara l...

Ida Sangkhya Sang Brahmana Keling

  "Ong Awighnam Astu Namo Siddham.. Ong Sarwwa Wighna Winasanam" Mogi tan kakeneng upadrawa. Akasamaning ulun Paduka Bhatara. ------ Aku adalah Ida Sangkhya, sang Brahmana Keling. Aku adalah putra dari Danghyang Kayumanis. Asrama (Grha) ku di Keling, Jawadwipa. Aku pernah mendengar keindahan Bali Dwipa, kemakmurannya yang luar biasa, karena diperintah oleh saudaraku, Sri Waturenggong yang menjadi Raja Bali. Ketika itu pula, pamanku Danghyang Nirartha ada di Bali sebagai Purohita (pendeta kerajaan) mendamping Sri Waturenggong. Lengkaplah sudah Bali dipimpin raja dan pendeta utama yang tiada tara. Maka dari itu, aku ingin sekali mengunjungi mereka berdua di Bali. Saat aku tiba di Bali, di palebahan Istana Sweca Pura, Gelgel.. aku tak menjumpai Sri Waturenggong dan pamanku Danghyang Nirartha ada disana. Oleh penjaga istana, beliau berdua sedang ada di Pura Agung Besakih, mempersiapkan upacara besar Nangluk Merana. Segeralah kususul mereka, rinduku kepada saudara dan pamanku tak ...

PASU-YAJNA DALAM KESUSASTRAAN WEDA

 *BENARKAH UPACARA KURBAN SUCI BINATANG (PASU YAJNA) DALAM AGAMA HINDU, BUKAN AJARAN WEDA ?* *APAKAH MECARU DALAM UPACARA UMAT HINDU DHARMA INDONESIA MERUPAKAN BAGIAN DARI PASU YAJNA DALAM KITAB SUCI WEDA SEBAGAI OTORISASI TERTINGGI DALAM AGAMA HINDU ?* *Hasil Bedah Buku " PASU - YAJNA DALAM KESUSASTRAAN WEDA " karya Drs. Ida Bagus Putu Suamba, MA., Ph.D*. ************* *PASU-YAJNA DALAM KESUSASTRAAN WEDA* Buku ini menguraikan secara jelas konsep, struktur, prosedur dan detail mengenai yajna yang diuraikan di dalam Weda di mana sumber pertama yajna terdapat dalam Rg Weda yang merupakan sumber tertua Kitab Suci Agama Hindu dan Kesusastraan Weda di mana kitab kitab yang di golongkan kedalam Brahmana, Grhiha-sutra, Sautra-sutra dan Dharma-sutra membahas detail Yajna.  Yajna membentuk bagian yang sangat penting dari kitab suci Weda yang berasal dari kata "yug" berarti mempersembahkan atau "yac" berarti meminta, memohon. Jadi yajna berarti ritual di mana perse...

Babad Brahmana Keling

Babad Brahmana Keling atau Purana Pura Gunungsari Babad Brahmana Keling terdiri atas 11 lembar GG lontar. Babad itu bercerita tentang kisah perjalanan Brahmana Keling ketika beliau meninggalkan gunung Bromo pergi ke Bali untuk bertemu dengan kerabatnya yaitu Dalem Watur Enggong yang menjadi raja Gelgel. Sesampainya beliau di Gelgel beliau tidak bisa menemukan raja karena raja Gelgel sedang berada di Besakih. Keberadaan raja Gelgel di Besakih dalam rangka melaksanakan yadnya Nangluk Merana. Karena Brahmana Keling tidak bisa bertemu dengan raja Gelgel maka beliaupun pergi menuju Besakih.  Ketika sampai di Besakih Brahmana Keling memberitahu rakyat Besakih bahwa kedatangan beliau hanya ingin bertemu dengan raja Gelgel karena beliau masih terhitung kerabatnya. Rakyat yang ditanyai beliau segera melaporkan kepada patih Agung bahwa ada seorang gila yang mencari sang raja. Patih Agung segera menemuinya dan melihatnya. Dalam pikiran patih Agung tidak mungkin raja memiliki keluarga gila. Be...

MENGENAL KALENDER JAWA

MENGENAL KALENDER JAWA. (sekedar mengingatkan saja) Kalender Jawa  yang keberadaannya sudah diakui UNESCO dengan sebutan Anno Javanologi adalah merupakan sebuah kalender hasil kolaborasi antara kalender Saka dengan kalender Hijriah. Sebagaimana diketahui bahwa kalender Saka memiliki perhitungan dengan mendasarkan perputaran matahari (solar system) dan perputaran bulan (lunar system) secara komprehensif. Sementara itu didalam kalender Hijriah sebagai kalender komariah merupakan kalender yang penghitungannya berdasarkan pada perputaran bulan. Penggunaan kalender Saka seiring dengan perkembangan Hindu di bumi Nusantara diawali kerajaan Kutai pada abad ke IV.  Hal ini ditengarai dengan penunjukan waktu pada yupa (tugu) peninggalan sejarah. Demikian pula ketika perkembangan Hindu mulai merambah ke Jawa yang dimulai dari Jawa Barat pada abad ke 7. Hal ini dapat disaksikan adanya prasastri Citereum, Kebon Kopi dlsb.  Selanjutnya masuk Jawa Tengah terlihat pada prasasti Canggal d...

Tri Aksara

Dharmawacana Skadrstya (Wejangan Sekilas) Om Swastyastu. "TRI AKSARA" Oleh I Ketut Subagiasta IAHN-TP Palangka Raya.      Hari Budha Pon Pujut, Penanggal Kutus Sasih Kasa Warsa Saka 1944. Sedharma, Para Pinandita sekalian, semoga sami sehat rahayu bahagia dan sejahtra. Sanian saat ini dengan topik Tri Aksara. Secara filosofis Tri Aksara artinya tiga aksara atau tiga huruf dalam agama Hindu.  Tiga aksara tersebut, antara lain aksara atau huruf: A, U, M. Sering juga dituliskan dengan anuswara ng, sering ditulis Ang, Ung, dan Mang. Huruf A, U, dan M atau Ang,  Ung, dan Mang setelah disandikan atau disatukan atau digabungkan menjadi satu, yakni: A+U+M=AUM atau A+U=O, selanjutnya O+M= OM, Sedangkan aksara ANG+UNG+MANG=ONG. Aksara OM atau ONG inilah disebut dengan Aksara Pranawa. Secara filosofis aksara Pranama berupa OM atau ONG inilah sebagai Aksara Suci atau sebagai Aksara untuk mengawali penyebutan nama Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa, atau sebu...

LONTAR SAIVA SIDDHANTA TERTUA

LONTAR SAIVA SIDDHANTA TERTUA Ini adalah salah satu manuskrip LONTAR Sansekerta tertua, bertahun 828 Masehi, ditemukan di Nepal, sekarang disimpan di Cambridge University Library.  LONTAR ini berisi ajaran Hindu, lebih khusus yang terkait Siwa, Saiva Siddhanta, sebuah ajaran Tantra Esoterik, berisi beberapa ayat Yajurveda. Menarik untuk membandingkan Saiva Siddhanta di Bali dan Nepal. Tulisan di bawah ini sedikit bercerita tentang Hindu di Nepal, negeri ditemukannya manuskrip tersebut. ----------((((()))))))------------ *HINDU BALI LEBIH MIRIP HINDU NEPAL* — _Catatan Harian Sugi Lanus, 2 Juni 2022._ Oleh *Sugi Lanus* Saya sepakat 1000% dengan pendapat yang mengatakan bahwa praktek beragama dan ritual Hindu Bali ya Hindu Bali, berbeda dengan Hindu di India.  Tetapi, jika ada pertanyaan kenapa Hindu Bali berbeda dengan Hindu India? Saya akan mengajak si penanya untuk “jalan-jalan” ke Nepal. _*Kenapa ke Nepal?*_ Dengan membandingkan Hindu di Nepal dan Hindu di India, kita akan pa...

PERCAKAPAN YUDISTIRA DENGAN DEWA YAMA

PERCAKAPAN YUDISTIRA DENGAN DEWA YAMA (DEWA DHARMA/KEMATIAN).  Dewa Yama : “Apa yang menyelamatkan manusia dari mara bahaya?” Yudhistira : “Keberanianlah yang menyelamatkan manusia dari mara bahaya.” Dewa Yama : “Ilmu apakah yang bisa membuat manusia bijaksana?” Yudhistira : “Untuk menjadi bijaksana, tidak cukup hanya dengan membaca kitab-kitab. Dengan bergaul dengan orang-orang bijak, orang bisa mendapatkan kebijaksanaan.” Dewa Yama : “Apakah yang lebih mulia dan lebih menghidupi manusia daripada bumi ini?” Yudhistira : “Ibu, yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya lebih mulia dan memberikan kehidupan yang lebih besar daripada bumi ini.” Dewa Yama : “Apakah yang lebih tinggi daripada langit?” Yudhistira : “Bapak.” Dewa Yama : “Apakah yang lebih cepat daripada angin?” Yudhistira : “Pikiran.” Dewa Yama : “Apakah yang lebih berbahaya daripada jerami kering pada musim panas?” Yudhistira : “Hati yang dilanda duka nestapa.” Dewa Yama : “Apakah yang menemani seorang pengembara?” Yud...